Pemanfaatan Jalur Selatan Kurangi Kepadatan Jalur Udara




Sebuah pesawat tengah mendarat dengan bantuan Instrument Landing System. Foto: AirNav Indonesia.

Pemanfaatan ruang udara di jalur selatan diyakini akan mengurangi kepadatan pergerakan pesawat udara pada rute sebelah utara yang selama ini menjadi basis utama rute penerbangan maskapai komersial.

Manager Pengendalian Pelayanan Air Navigation Moeji Soebagyo mengatakan jalur selatan yang dikenal sebagai area T1 (Tanggo 1) bisa sangat efektif mengurangi kepadatan jalur utara saat ini. “Rute ini sebenarnya sudah ada, makanya kita usul supaya jadi jalur alternatif yang eksisting,” katanya, dalam diskusi Tinjauan Efektivitas Rute Penerbangan Jalur Selatan serta Dampaknya Terhadap Perekonomian, Pertahanan dan Kedaulatan Nasional yang dilaksanakan oleh STPI di Tangerang, Kamis (1/3).

Ia menambahkan, penggunaan jalur selatan saat ini sudah dimanfaatkan namun untuk kebutuhan yang sifatnya darurat. Misalnya ketika terjadi kondisi luar biasa seperti gunung berapi, pemanfaatan ruang udara jalur selatan telah dimanfaatkan sejumlah oleh maskapai.

“Sudah dimanfaatkan hampir oleh semua maskapai, cuman memang belum efisien. Pemanfaatannya juga ketika terjadi kondisi luar biasa. Belum efisien sebab jaraknya perlu diperpendek,” katanya.

Moeji juga mengatakan bahwa pihaknya selaku BUMN yang melayani navigasi penerbangan nasional akan berupaya untuk mengefektifkan rute jalur selatan. Sebab, jalur ini akan diperlukan ketika jalur utara sudah sangat padat.

“Mau tidak mau jalur selatan akan padat, sehingga dibutuhkan ruang udara lain sebagai jalur alternatif. Nah potensi jalur selatan ini besar sebagai alternatif,” katanya.

Sementara itu, Direktur Operasi PT Garuda Indonesia Tbk (persero) Triyanto Muhartono mengatakan, pemanfaatan jalur selatan dinilai masih belum efisien.Dia menjeaslakan bahwa Maskapai Garuda Indonesia telah mengujicoba jalur selatan dengan penerbangan dari Jakarta ke Bali. Hasilnya, didapat waktu satu jam 34 menit.

Sedangkan memanfaatkan jalur utara dari Jakarta ke Bali hanya satu jam 28 menit. “Kondisi ini tentu belum efisien bagi kami di maskapai yang memperhitungkan cost. Namun begitu tetap ada solusi selama belokannya lebih diperkecil,” katanya.

Triyanto mengatakan dengan perbedaan waktu enam menit, jumlah avtur yang dikeluarkan juga masih lebih besar atau mencapai selisih 300 kilogram atau 375 liter avtur.

“Satu jam itu 2.600 kg avtur. Makanya karena rute ini sudah ada, sebaiknya dimodifikasi lagi supaya bisa lebih efisien. Apakah boleh dipotong jalurnya, kemudian kalau mendarat apakah boleh langsung tanpa harus memutar dan sebagainya,” katanya.

Menurut Triyanto, dengan pemanfaatan ruang udara jalur selatan akan mampu mengurangi kepadatan di jalur utara hingga 30%. Apalagi kondisi kondisi komunikasi di jalur utara juga kian padat. “Tinggal mencari titik-titik mana saja yang mau dipotong, dan itu membutuhkan koordinasi para stakeholeder terkait. Misalnya regulator Kemenhub, TNI AU serta pemerintah daerah setempat serta pihak maskapai dan Airnav,” pungkas dia.




Ayo baca ini juga….