Jadilah Penumpang Pesawat Udara yang Santun




Assalamualaikum semua …

Perilaku penumpang pesawat udara kita makin tak terpuji. Layaknya orang-orang tak berpendidikan, penuh amarah, dan mudah tersulut emosi. Kabar teranyar adalah seorang ibu yang berlari ke apron Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali untuk mengejar pesawat terbang.

Apakah kita tahu kalau pintu pesawat sudah ditutup tidak bisa dibuka kembali untuk menaikkan penumpang yang telat? Apakah kita juga tahu kalau melakukan tindakan yang mengganggu operasi penerbangan, termasuk merusak propertinya, adalah pelanggaran yang bisa terkena sanksi hukum?

Pengamat penerbangan Alvin Lie menulis dam whatsapps, “Makin gila saja nih perilaku pax (penumpang) kita.” Begitu komentarnya setelah melihat video seorang ibu yang menerobos apron itu. Namun Citilink Indonesia, maskapai yang akan dinaiki sang ibu itu, bersikap “lunak” dengan menerbangkannya pada penerbangan berikutnya.

“Apa yang dilakukan pax tersebut (menerobos masuk apron) merupakan pelanggaran yang diancam sanksi pidana. Saya dapat memahami empati petugas QG (Citilink), tapi tindaklanjut yang sedemikian lunak sangat tidak mendidik konsumen. Bahkan dapat memicu perilaku serupa pada masa mendatang,” kata Alvin.

Pada 21 November 2018, saya terbang dengan Boeing 737-900ER Lion Air dari Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang, ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Penerbangan JT 507 pukul 13.05 itu terlambat sekitar 30 menit dengan penumpang yang penuh, di atas 80%.

Beberapa penumpang yang tidak sabar menyela antrean, terutama yang membawa banyak bawaan. Mereka takut tak mendapatkan ruang di lugage di atas kursinya untuk tentengannya. Di pintu pesawat, dua perempuan muda yang membawa banyak tentengan, bahkan membawa kardus cukup besar, menyerobot masuk. Sampai-sampai penumpang di depannya tersingkirkan. Cuek, tanpa kata maaf!

Sesaat sebelum mendarat, pramugari menyuarakan peringatan agar penumpang tidak membawa pelampung yang ada di bawah kursi. Katanya kemudian, petugas sekuriti akan melakukan pemeriksaan di bandara dan penumpang yang kedapatan membawa pelampung bisa terkena sanksi pidana.

Apakah awak kabin mengindikasi ada penumpang yang akan “mencuri” pelampung? Karena tidak di setiap penerbangan ada peringatan tersebut. Kalau peringatan untuk tidak membawa narkoba selalu disuarakan hampir di setiap penerbangan domestik.

Perilaku buruk lain yang masih melekat adalah tentang membuang sampah. Walaupun nanti ada petugas kebersihan atau awak kabin akan membersihkannya, membuang sampah sembarangan sangat tidak elok.

Saya ingat jawaban pemilik Lion Air Group Rusdi Kirana ketika ditanya tentang kenapa Lion Air tak mau memberi sekadar minum bagi penumpangnya? Kesannya, pelit amat! Apa jawabannya?

Awalnya Lion Air memberi makan plus minum. Beberapa penumpang bilang, makanannya tak enak dan banyak makanan yang tak dimakan. Kemudian menu diubah menjadi makanan ringan plus minum. Reaksinya mirip, bahkan pernah makanan yang dibuang sembarangan dan tak terbersihkan mengundang kecoa. Air dalam botol yang hanya diminum satu-dua teguk pun dibiarkan berserak di kursi atau lantai kabin, bahkan berceceran yang mengakibatkan korosi. “Kalau mereka bawa minum sendiri, di botol tinggal satu-dua teguk saja masih mereka bawa pulang,” katanya.

Menjadi penumpang pesawat udara memang harusnya beda dengan menjadi penumpang moda transportasi lain. Bukan cuma maskapai atau operator yang terikat oleh banyak regulasi sebagai jaminan keselamatan penerbangan. Penumpangnya pun harusnya tunduk pada banyak aturan itu.

Dengarkan, pahami, dan lakukan apa yang disampaikan awak penerbangan, baik secara tersirat, tersurat, maupun tersuarakan. Tanyakan jika tidak tahu atau belum paham. Ini cara termudah agar kita menjadi penumpang pesawat udara yang terdidik dan santun. Pastinya, kita pun menjadi penumpang yang mendukung dan menjunjung tinggi keselamatan penerbangan.




Ayo baca ini juga….