Sukhoi SU-35 Dibeli dengan Imbal Beli Potensi Ekspor ke Rusia



Konferensi pers pembelian Su-35 Sukhoi. Foto: Reni Rohmawati

Pembelian pesawat tempur Sukhoi Su-35 senilai 1,14miliar dollar AS disepakati Pemerintah Indonesia dan Rusia dengan imbal beli potensi ekspor senilai 50 persen dari nilai tersebut. Pemerintah Indonesia memang ingin membeli Su-35 untuk menggantikan pesawat tempur F-5 sebagai alutsista yang dioperasikan TNI AU.

Terkait imbal beli itu tercantum dalam Undang-undang No.16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Pada pasal 43 ayat 5 (e) dinyatakan: Setiap pengadaan Alpalhankam dari luar negeri wajib disertakan imbal dagang, kandungan lokal, dan ofset minimal 85 persen, di mana kandungan lokal dan atau ofset paling rendah 35 persen.

“Ini pertama kali UU itu dilaksanakan dan ini betul-betul kerja sama G to G yang akan kita awasi. Ofset dan lain-lain sudah beres. Kita bantu ekspor yang ada nilai tambahnya,” kata Ryamizard Ryacudu, Menteri Pertahanan dalam jumpa wartawan di Jakarta, Selasa (22/8/2017).

Menteri Perdagangan Enggartriasto Lukita mengatakan, Menteri Pertahanan sudah menetapkan pembelian Su-35 dan ada sejumlah persentase tertentu untuk imbal dagang setelah dipotong ofset dan transfer teknologi. “Political will-nya keras,” ujarnya.

Menurut Enggar, “Indonesia akan mendapatkan nilai ekspor 570 juta dollar AS, 50 persen dari nilai pengadaan Su-35 itu. Sementara 35 persennya dalam bentuk ofset.”

Kesepakatan tersebut ditandatangani pada 10 Agustus 2017 sewaktu Mendag memimpin Misi Dagang ke Rusia. Kedua negara pun sepakat menunjuk Rostec dari Rusia dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) dari Indonesia sebagai pelaksana teknis imbal beli tersebut.

Tentang komoditas yang akan diekspor, kata Enggar, masih menunggu pembahasan dari Rostec. “Dalam bulan ini dan bulan depan (September) tim Rusia akan datang,” ucapnya.

Enggar pun menjelaskan, yang akan diekspor tidak hanya satu komoditas. “Awalnya mereka ingin hanya karet, tapi kami ingin komoditas yang punya nilai tambah. Kami juga seperti Rusia, kami jual yang punya added value juga, terutama yang tidak dimiliki Rusia.”

Dalam kesepakatan tersebut, Rostec menjamin akan membeli lebih dari satu komoditas ekspor. Komoditas itu, antara lain, karet olahan, CPO, mesin, kopi, kakao, tekstil, teh, alas kaki, ikan olahan, furnitur, kopra, plastik, resin, kertas, rempah-rempah, serta produk industri pertahanan dari Pindad dan PT Dirgantara Indonesia. Rostec juga diberi keleluasaan memilih calon eksportir, baik BUMN maupun swasta, agar mendapatkan produk yang berdaya saing tinggi.

“Nanti akan secara terinci dibahas dan dianalisis. Karena ini yang pertama kali, kita akan sikapi langkah-langkah yang sifatnya kebijakan. Kami akan pantau terus dan dilaporkan kepada Menhan supaya prosesnya cepat dan baik,” ungkap Enggar.

Di samping itu, nilainya tak harus terpaku pada nilai tersebut. Pelabuhan ekspor juga tak terbatas di Rusia, tapi sampai Eurasia. “Kami tak keberatan sejauh memberi tambahan dari sisi perdagangan kita. Nilainya pun bisa lebih dari 570 juta (dollar AS),” tutur Enggar.

Menurut Enggar, pemilihan alutsista dari Rusia itu tepat. “Masa Rusia tak beli produk kita? Mereka market potensial dengan kemampuan ekonomi yang meningkat. Pembelian Su-35 itu bukan saja untuk pertahanan dan keamanan, tapi juga kapitalisasi.”

Pelaksanaan imbal beli itu akan seirama dengan penerimaan pesawat tempur Sukhoi Su-35, yang delivery-nya dua tahun ke depan. “Kita negara kedua setelah Rusia yang gunakan Su-35. Kita beli yang lengkap, termasuk untuk membangun perawatannya atau MRO di sini agar ada transfer teknologi. Kita bisa beli 13 Su-35, tapi dengan ada imbal dagang, beli 8-11 pesawat sudah cukup,” ungkap Ryamizard.

Menhan juga akan mengundang Rostec untuk agar mendapat kejelasan secara langsung. “Kami ingin undang mereka biar jelas. Tak ada kongkalikong,” tegas Ryamizard.

Be the first to comment

Leave a Reply