Mendarat Lebih Presisi Bila Pakai ILS



Pesawat sedang dalam fase akhir pendaratan.

ILS atau Instrument Landing System membantu pilot mendaratkan pesawatnya secara lebih presisi. Bagaimana sistem ini bekerja?

Dalam penerbangan, pilot menerbangan pesawat secara visual, menggunakan instrumen, dan kedua-duanya, baik untuk tinggal landas maupun mendarat. Secara visual, pilot terbang berdasar pengamatan visualnya dari kokpit. Ia mengamati kondisi landasan secara visual, kemudian terbang dan mendarat hanya dengan mengandalkan pengamatan visualnya. Dalam beberapa kondisi, penerbangan secara visual diperbolehkan oleh peraturan keselamatan penerbangan, dan tentu saja komunikasi dengan petugas pengatur lalu lintas udara juga wajib dilakukan.

Cara penerbangan lainnya adalah penerbangan secara instrumen atau instrument flight rules (IFR). Dalam IFR pilot menerbangkan pesawat dengan panduan instrumen di darat dan di pesawat, serta arahan petugas lalu lintas penerbangan.

Nah, setelah terbang, bagaimana pilot mendaratkan pesawat tepat di titik landasan yang ditentukan. Untuk menemukan landasan yang menjadi tujuannya, pilot harus terbang berdasar navigasi yang presisi. Setelah menemukan landasan yang dituju, pilot pesawat bisa segera mendarat.

Proses pendaratan pesawat ke landasan tujuan dikenal dengan fase approach. Fase ini dapat dilakukan secara visual maupun dengan bantuan instrumen. Instrumen yang dipergunakan beragam, antara lain: ILS atau Instrument Landing System.

ILS bekerja dengan memanfaatkan dua gelombang radio dipancarkan secara simultan dari dua pemancar yang berbeda, yakni localizer dan glide path. Kedua gelombang yang dipancarkan oleh keduanya akan membentuk semacam lorong dan garis imaginer yang mengarahkan pesawat ke titik pendaratannya di atas sebuah landasan. Selain kedua pemancar itu, ILS juga dilengkapi dengan pemancar lain sebagai pemberi informasi jarak antara pesawat dengan landasan yang menjadi titik pendaratannya.

Pemancar localizer ditempatkan pada ujung landasan yang menjadi titik pendaratan. Localiser dipancarkan dalam gelombang radio VHF (very high frequency), yakni antara 108Mhz – 112 Mhz. Signal localizer ini dimodulasi ke dalam dua frekwensi berbeda untuk memberikan panduan keberadaan pesawat secara horisontal terhadap sisi kiri dan kanan dari garis tengah landasan. Sisi kiri dimodulasi dengan frekuensi 90Hz dan sisi kanan 150 Hz.

Begitu pula yang terjadi pada signal glide path atau glide slope. Dipancarkan pada frekwensi UHF (ultra high frequency) 329.15Mhz – 335.0 Mhz, signal glide slope yang dipancarkan secara vertikal akan memberikan panduan tinggi-rendah pesawat terhadap titik pendaratan. Sama seperti localizer, sinyal glide slope juga dimodulasi dalam dua modulasi, modulasi 90Hz pada sisi atas dan modulasi 150Hz pada sisi bawah.

Perpotongan antara signal localizer dan glide slope akan menghasilkan semacam lorong imaginer yang akan mengantarkan pesawat hingga ke titik pendaratannya. Saat dalam proses pendaratan, pesawat harus meluncur tepat di tengah-tengah lorong itu, baik secara vertikal maupun secara horisontal. Jika semua berjalan sebagaimana mestinya, pesawat akan mendarat pada titik yang telah ditentukan di landasan tempat mendarat.

Bagaimana prosesnya
Seperti sudah disinggung di atas, ILS bekerja memanfaatkan gelombang radio. Saat mendarat dengan ILS, signal localizer dan glide slope yang terpancar dari bandar udara tujuan akan diterima dan diolah oleh perangkat penerima ILS di pesawat. Signal-signal ini ditampilkan di panel instrumen pada kokpit pesawat terbang yang dikenal dengan nama omni-bearing indicator. Perangkat ini memiliki jarum vertikal yang menunjukkan posisi pesawat terhadap garis tengah landasan; dan jarum horisontal yang mengindikasikan sudut luncur pesawat terhadap titik pendaratan. Jika kedua jarum ini berpotongan secara tepat pada titik tengahnya, bisa dipastikan bahwa pesawat telah berada pada jalur ILS yang semestinya.

ILS sangat membantu pilot mendaratkan pesawat dalam kondisi visual yang kurang baik, buruk, bahkan sangat buruk. Mengandalkan ILS pilot bisa saja mendaratkan pesawat secara semi otomatis hingga otomatis sepenuhnya. Namun, demi keselamatan penerbangan, pilot pesawat harus tetap mengamati kinerja ILS yang dipergunakan. Dan, dalam kondisi tertentu harus segera mengambil alih kendali jika sistem menurutnya telah gagal.

Selama proses pendaratan menggunakan ILS, pilot pesawat juga harus memperhatikan instrumen lain, yakni beacon marker yang memberikan informasi tentang jarak dan tinggi pesawat terhadap landasan. Ada tiga beacon marker yang harus diperhatikan, yakni outer marker, middle marker, dan inner marker.

Ketika outer marker beacon aktif, pesawat diperkirakan berada pada jarak 3,5 – 6 nautical miles dari landasan. Middle marker aktif jika pesawat berada pada jarak 1.050 – 150 meter dari landasan. Inner marker menginformasikan bahwa pesawat telah semakin dekat, yakni 75 – 450 meter dari ujung landasan. Ketika pilot merasa proses pendaratannya tak ada masalah, maka ia pun bisa langsung mendaratkan pesawatnya. Namun jika ia merasa proses pendaratannya ternyata tak semestinya atau berpotensi bahaya, maka ia bisa menempuh prosedur go around.

Be the first to comment

Leave a Reply