NU-225 Sikumbang Pesawat Tempur Asli Buatan Indonesia



Nu225 Sikumbang
Nu225 Sikumbang

Sikumbang merupakan pesawat rancangan putera bangsa Indonesia, yaitu Nurtanio Pringgoadisuryo, yang merupakan cikal bakal kelahiran industri pesawat Indonesia LAPIP yang kemudian menjadi LIPNUR, IPTN, dan sekarang PT Dirgantara Indonesia.

Cikal bakal kelahiran Sikumbang ini bermula setelah Nurtanio menimba ilmu teknik penerbangan di FEATI (Far Eastern Aero Technical Institute) dan memperoleh gelar Doctor Honoris Causa dalam aeronautical engineering.  Ia kemudian mempraktikkan ilmu yang dia dapat dengan merancang pesawat tempur bersenjata dari material all metal, alias logam sepenuhnya.

Sikumbang merupakan pesawat dengan desain low wing monoplane yang dibuat di Depo Penyelidikan, Percobaan dan Pembuatan di Pangkalan Udara Andir (sekarang  Husein Sastranegara) Bandung. Pesawat ini mulai dirancang pada tahun 1953 oleh Nurtanio bersama 15 orang  timnya. Dalam perancangan dan pembuatan, tim Nurtanio  mengalami kendala  keterbatasan material. Karenanya, jika ditelisik, sebagian kecil bagian pesawat masih menggunakan material kayu. Kayu antara lain ditemukan pada bagian sayap belakang. Akibatnya, pesawat prototype ini mengalami pembengkakan bobot yang mencapai 200 lbs. Menggunakan mesin  de Havilland Gipsy Six I berdaya 200 hp, pesawat pun diberi nama NU-200 Sikumbang.

Uji coba perdana pesawat  Sikumbang  dilaksanakan pada 1 Agustus 1954, di mana pesawat ini menggunakan kode registrasi X-01. Sebagai pilot uji adalah Capt. Powers, yang merupakan pilot uji dari Amerika Serikat. Pada saat itu  ia sedang bekerja untuk Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI, sekarang TNI AU). Pesawat ini diterbangkan selama 15 menit di langit kota Bandung dengan hasil yang memuaskan. Sikumbang ini nantinya dioperasikan oleh AURI.

Oleh Nurtanio, NU 200  dirancang sebagai pesawat intai bersenjata yang dapat dioperasikan dari lapangan terbang tanah atau landasan rumput sepanjang 350 meter untuk take off dan 150 meter untuk landing. Ia menerapkan sistem roda model tetap (fixed) pada pesawat agar pesawat dapat mendarat pada lapangan udara yang serba terbatas. Pesawat ini juga dirancang sebagai pesawat serang antri gerilya (COIN, counter-insurgency). Senjata utama pesawat direncanakan akan dipasang dua senapan mesin di sayap dan satu dudukan khusus (cantelan)  pada masing-masing sayap untuk membawa satu bom napalm atau empat roket tanpa kendali dengan kaliber 5 inci. Namun realisasinya baru terpasang senapan mesin caliber 7,7 mm dan pernah diuji dengan hasil yang memuaskan.

Akan tetapi, NU 200 memiliki sejumlah kelemahan. Pertama adalah daya mesin (power) dari mesin Gipsy yang terlalu rendah, dan bobot pesawat terlalu berat. Karena itu, pada prototipe kedua yaitu NU-225 direncanakan menggunakan mesin Continental O-47A berdaya 225 hp.

NU-225 ini  akan dijadikan sebagai rujukan  tipe produksi nantinya. Secara keseluruhan, wujud prototipe ke-2 Sikumbang ini serupa, yaitu menerapkan sayap dengan desain low wing, roda model fixed, dan kokpit dengan desain bubble. Bedanya, fisik pesawat secara keseluruhan telah menggunakan metal. Pesawat dengan kode registrasi X-02 ini terbang perdana pada 25 September 1957 yang diterbangkan oleh Nurtanio sendiri. Rencananya, NU-225 akan diproduksi secara terbatas untuk mengisi skadron intai ringan AURI.

Namun, produksi Sikumbang ini tak pernah direalisasikan. Kemungkinan besar penyebabnya adalah keterbatasan anggaran di mana Pemerintah pada saat itu tidak memberikan anggaran untuk proses produksi Sikumbang. Selain itu, situasi negara yang belum stabil pada saat itu juga ikut berperan dalam proses terhambatnya produksi Sikumbang. Terlebih pada saat itu AURI juga sibuk terlibat dalam operasi menumpas pemberontakan di dalam negeri.

Spesifikasi
·    Kru: 1
·    Panjang: 8.16 m (26 ft 9 in)
·    Bentang sayap: 10.61 m (34 ft 10 in)
·    Tinggi: 3.35 m (11 ft 0 in)
·    Luas sayap: 16.9 m2 (182 sq ft)
·    Aspect ratio: 6.6:1
·    Airfoil: NACA 23015 at root, NACA 23009 at tip
·    Berat kosong: 795 kg (1,753 lb)
·    Berat kotor: 1,090 kg (2,403 lb)
·    Kapasitas bahan bakar: 205 L (54 US gal; 45 imp gal)
·    Mesin: 1 × de Havilland Gipsy Six air-cooled inverted six-cyliner inline engine, 150 kW (200 hp)
·    Propeller: 2-bladed fixed pitch

Performa
·    Kecepatan Maksimal: 256 km/h (159 mph; 138 kn)
·    Kecepatan jelajah: 224 km/h (139 mph; 121 kn)
·    Jarak jangkau: 960 km (597 mi; 518 nmi)
·    Ketinggian jelajah: 5,030 m (16,503 ft)
·    Rate of climb: 5.1 m/s (1,000 ft/min)

Foto: Istimewa

Be the first to comment

Leave a Reply