Izin Usaha Indonesia AirAsia X Terancam Dibekukan



Kementerian Perhubungan telah memberikan peringatan kepada delapan maskapai penerbangan karena belum memenuhi syarat kepemilikan dan pengoperasian pesawat yang sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan. Bahkan, kementerian yang dipimpin oleh Ignasius Jonan itu mengancam akan membekukan izin usaha maskapai penerbangan yang tidak memenuhi persyaratan tersebut.

Salah satu maskapai penerbangan yang mendapatkan ancaman pencabutan izin usaha itu adalah Indonesia AirAsia X, maskapai penerbangan berbiaya rendah yang baru beroperasi awal tahun ini. Sebagai maskapai penerbangan niaga berjadwal yang memegang AOC 121, Indonesia AirAsia X wajib mengoperasikan minimal 10 pesawat, dengan rincian minimal lima pesawat berstatus milik dan sisanya boleh berstatus sewa.

Faktanya, Indonesia AirAsia X saat ini baru memiliki lima pesawat yang terdiri dari dua Airbus A320-200 dan tiga Airbus A330-300. Dari lima pesawat itu, dua pesawat Airbus A330-300 dioperasikan sendiri oleh Indonesia AirAsia X, sedangkan tiga pesawat Airbus A320-200 dioperasikan oleh sister company, Indonesia AirAsia. “Indonesia AirAsia Extra baru menguasai dua Airbus A330-300 dan tiga Airbus A320-200. Itu berarti belum memenuhi persyaratan kepemilikan dan pengusaan pesawat sebagaimana yang diatur undang-undang,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Suprasetyo.

Suprasetyo meminta kepada Indonesia AirAsia X dan sejumlah maskapai penerbangan lain untuk segera menambah jumlah pesawat agar izin usaha tidak dibekukan. Kementerian Perhubungan masih akan menunggu hingga 30 September 2015 agar maskapai penerbangan bisa memenuhi kewajibannya. “Sampai 31 Agutus 2015 beberapa maskapai belum memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan dalam pemenuhan kepemilikan dan penguasaan pesawat. Maka dari itu, Kementerian Perhubungan akan membekukan surat izin usaha angkutan udara baik maskapai berjadwal maupun tak berjadwal,” ujarnya.

Foto: Wikimedia

Be the first to comment

Leave a Reply