Aset Batavia Air Tak Laku Dijual, Pesangon Karyawan Belum Dibayar



Maskapai penerbangan Batavia Air (PT Metro Batavia) sudah dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat sejak 30 Januari 2013 lalu. Namun, permasalahan perusahaan penerbangan ini ternyata belum selesai hingga sekarang, lantaran penjualan aset Batavia Air oleh kurator setelah kepailitan masih belum tuntas.

Kuasa Hukum PT Metro Batavia Raden Catur Wibowo mengatakan bahwa aset yang dimiliki oleh Batavia Air tidak laku dijual, sehingga hak-hak eks karyawan dan kreditur pun terkatung-katung. Dia menuding kurator yang menangani aset Batavia Air bekerja tidak profesional bahkan mengindikasikan ada tindak pidana penggelapan.

Seperti dilansir Detik Finance, Batavia Air memiliki utang sebesar Rp 150 miliar kepada 3.200 eks karyawan untuk pembayaran gaji dan pesangon. Akan tetapi, dari jumlah itu baru Rp 4 miliar saja yang dibayarkan oleh kurator. “Tim kurator jangan bermain-main dengan aset PT Metro Batavia dan segera menjual seluruh aset dan membagikan hasil penjualan ke kreditur khususnya eks karyawan Batavia Air,” kata Catur.

Menurut Catur, ketika dinyatakan pailit pada 30 Januari 2013, Batavia Air memiliki aset berupa 20 pesawat yang masih bisa terbang dan laik operasi. 16 pesawat merupakan milik lessor, sedangkan empat pesawat lainnya milik Batavia Air yang tidak dijaminkan kepada lembaga keuangan manapun. Sayangnya, pesawat-pesawat itu tidak kunjung dijual, berimbas pada harga jualnya yang kini terus merosot. “Apabila pesawat tersebut dijual segera, maka nilainya tidak akan merosot tajam seperti harga jual saat ini yang hanya senilai Rp 7,5 miliar per unit pesawat, itu pun belum laku,” jelasnya.

Setelah utang pada karyawan, kewajiban terbesar lainnya kepada Bank Muamalat. Sebelum dinyatakan pailit, Batavia Air pernah mendapatkan pinjaman kredit dari Bank Muamalat Indonesia sebesar Rp 200 miliar atas jaminan 95 persen suku cadang milik Batavia Air, namun saat ini suku cadang milik Batavia Air hanya dilelang dengan harga Rp 4 miliar.

Foto: Tri Setyo Wijanarko

Be the first to comment

Leave a Reply