Wings Air Belum Akan Tambah Frekuensi ke Tasikmalaya




Pesawat ATR 72-600 Wings Air di Bandara Wiriadinata, Tasikmalaya. Foto: Reni Rohmawati

Meski tingkat isian penumpang (load factor) rute Jakarta-Tasikmalaya rata-rata 80 persen, Wings Air belum akan menambah frekuensi penerbangannya. Soal sulitnya memperoleh slot penerbangan di Bandara Internasional Halim Perdanakusuma, Jakarta, dan kendala cuaca di kawasan Parahiyangan menuju Bandara Wiriadinata, Tasikmalaya, menjadi alasannya.

“Sampai saat ini kami belum ada rencana menambah frekuensi penerbangan dari Halim ke Wiriadinata. Malah ada wacana akan berbagi slot itu untuk ke Cilacap,” ungkap Capt Redi Irawan, Direktur Operasional Wings Air di Jakarta, Kamis (8/2/2018).

Wings Air rupanya ingin terbang dari Halim ke Bandara Tunggul Wulung di Cilacap, yang saat ini sudah diterbangi oleh Susi Air dan Pelita Air Service. Namun karena slot di Halim terbatas, slot ke Tasikmalaya yang terbang tiap hari akan dibagi, sebagian untuk penerbangan ke Cilacap.

Rute Jakarta-Tasikmalaya memang menjanjikan, tapi kendala-kendala operasi penerbangannya masih belum bisa diatasi, khususnya kendala cuaca. Selama tujuh bulan operasi –Wings Air mulai terbang 1 Juli 2017– ada 29 penerbangan yang dibatalkan akibat cuaca buruk. Bukit di salah satu ujung landasan pacu juga menjadi obstacle yang sebaiknya dihilangkan.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Tasikmalaya sudah menginginkan ada bandara komersial sejak tahun 2005. Potensi ekonomi yang besar memang terkendala akses transportasi, sehingga sulit tumbuh. “Tahun 2017, pertumbuhan ekonomi Pemkot Tasikmalaya mencapai 6,7 persen. Cukup besar, dan bandara menjadi pendorong untuk mendongrak aksesibilitasnya,” ujar Aay Zaini Dahlan, Kepala Dinas Perhubungan Pemkot Tasikmalaya.

Maka Pemkot mendukung penuh pengembangan Wiriadinata agar bandara ini bisa tumbuh. Kata Aay, Pemkot sudah membuat tatanan khusus wilayah bandara untuk pengembangannya. “Kami bantu untuk pengembangan terminal dan runway, juga akses jalan masuk bandara. Dukungan kami tak akan berakhir,” ucapnya.

Begitu pula yang dikatakan Komandan Lanud Wiriadinata, Letkol Pnb Safeano Cahyo Wibowo. “Kita bertanggung jawab dalam aspek sekuritinya. Sebagai enclave sipil, bandara bisa digunakan bersama,” ujarnya.

Di samping itu, TNI AU juga mendukung operasi dan pemanduan lalu lintas udara di Bandara Wiriadinata. “Pangkalan atau bandara tak lengkap tanpa AirNav karena operasionalnya tidak akan maksimal,” ucap Safeano. Maka ia pun mengharapkan untuk pemandu lalu lintas udara menggunakan fasilitas bukan hanya ADF-NDB (NonDirectional Beacon) tapi juga VOR/DME (VHF Omnidirectional Range/Distance Measurement Equipment), bahkan ILS (Instrument Landing System). “Saya senang sudah ada puppy runway light (lampu pemandu di landasan).”

Menurut Direktur Utama AirNav Indonesia, Novie Riyanto,tower Bandara Wiriadinata akan direnovasi dan peralatan navigasi diperbaiki. “Navigasi visual yang selama ini dilakukan akan segera didorong menjadi navigasi instrumen. Tahun 2018 kita tingkatkan keselamatan dan efisiensi pergerakan pesawat,” katanya.

Landasan pacu yang waktu penerbangan perdana sepanjang 1.200 meter, tahun lalu diperpanjang menjadi 1.400 x 30 meter. Walaupun yang 200 x 30 meter sampai awal Februari lalu masih belum disertifikasi, sehingga belum bisa dioperasikan. Tahun 2017 itu, dengan anggaran Rp20miliar, juga dilakukan pekerjaan levelling runway dan penyempurnaan runway strip, pengadaan dan pemasangan AFL serta catu daya listrik, pemasangan pagar pengaman bandara 350 meter, pembangunan power house 120 meter persegi, juga pembuatan building sign bandara.

Tahun 2018, beberapa pekerjaan pembangunan konstruksi di Bandara Wiriadinata kembali dilakukan oleh Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Ditjen menyiapkan anggaran Rp30miliar, yang masuk dalam DIPA Kantor UPBU Cakrabhuwana, Cirebon. Bandara Wiriadinata memang setingkat satuan pelaksana di bawah Bandara Cakrabhuwana.

Pekerjaan besar yang akan dilaksanakan adalah kelanjutan perpanjangan landasan pacu 200 x 30 meter, termasuk box culvert, strip, dan runway end safety area (RESA). Nantinya, landasan pacu Bandara Wiriadinata menjadi 1.600 x 30 meter. Dengan demikian, pesawat ATR 72-500/600 yang dioperasikan Wings Air tanpa pembatasan jumlah penumpang. Selama ini, dari Tasikmalaya hanya bisa diterbangkan 50 penumpang dari kapasitas 70 lebih kursi.

Pekerjaan lainnya adalah pembuatan taxiway 23 m x 75 m dan apron 80 m x 100 m, pembangunan gedung terminal 1.000 meter persegi, serta pembuatan jalan akses ke terminal dan lahan parkir 2.500 meter persegi. Semua pekerjaan konstruksi tersebut menggunakan konsep design & build dan sudah dilaksanakan lelang tidak mengikat hingga tahap evaluasi.

Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso menyatakan, pembangunan tersebut merupakan aksi untuk menyikapi kebutuhan masyarakat Parahyangan Timur dan Selatan dalam rangka mengembangkan Bandara Wiriadinata. “Bandara Wiriadinata berkembang pesat dan berhasil ikut mengembangkan perekonomian daerah sekitar,” ujarnya.




Ayo baca ini juga….