Tak Ada Lagi Penumpang Melintas Rel KA




Penumpang kereta api tak bisa melintas rel lagi.
Penumpang kereta api tak bisa melintas rel lagi. Foto: Ditjen Perkeretaapian

Para penumpang kereta api (KA) tidak lagi bisa melintas rel untuk pindah peron atau keluar dari stasiun demi menjamin keamanan dan keselamatan. Itu salah satu tujuan dari modernisasi stasiun KA, yang diprogramkan oleh Ditjen Perketetaapian Kementerian Perhubungan.

“Ada dua kegiatan besar yang dilakukan pada penghujung tahun ini (2018). Pertama, pembangunan double-double track, yang lama tapi tak selesai-selesai, tapi sudah dimanfaatkan sampai Cikarang sejak tahun 2017. Kedua, stasiun sudah dimodernisasi,” kata Zulfikri, Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan di Jakarta, Senin (22/10/2019) malam.

Menurut Dirjen, modernisasi stasiun KA memang terus dilakukan dan pada akhir November 2018 akan dioperasikan enam stasiun yang telah dimodernisasi. Keenam stasiun KA modern itu adalah Stasiun Klender, Stasiun Buaran, Stasiun Klender Baru, Stasiun Cakung, dan Stasiun Kranji pada lintas Manggarai-Bekasi; serta Stasiun Citeras pada lintas Tanahabang-Rangkasbitung. Di samping itu, akan dioperasikan pula satu Dipo baru, yaitu Dipo Cipinang.

Modernisasi stasiun KA dilakukan dengan mengusung konsep ramah lingkungan (ecogreen). Operasional stasiun pun menjadi hemat konsumsi listrik karena dibatasinya penggunaaan fasilitas pendingin udara. Stasiun-stasiun tersebut berlantai dua, dilengkapi lift dan eskalator untuk mengakomodasi masyarakat berkebutuhan khusus, seperti lansia, difabel, ibu hamil, dan anak-anak.

“Beberapa stasiun juga sudah terintegrasi dengan busway,” kata Zulfikri. Di samping itu stasiun KA modern itu dilengkapi dengan ruang menyusui, mushola, ruang kesehatan, dan toilet.

Stasiun-stasiun KA modern tersebut memiliki peron yang panjang. Perpanjangan peron-peron itu untuk mengakomodasi rangkaian panjang KRL dengan 12 kereta dan lonjakan penumpang. Hal ini terkait dengan kondisi di lapangan bahwa ada pertumbuhan perumahan baru di sepanjang jalur KA.

Ketua Forum Transportasi Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Aditya Dwi Laksana mengatakan, persoalan pengembangan transportasi KA memang terkendala infrastruktur. Maka ia pun menyambut baik pengoperasian stasiun-stasiun yang dimodernisasi itu.

“Stasiun modern yang akan dioperasikan itu letaknya tak beda jauh dengan yang ada sekarang, kecuali Stasiun Buaran yang jaraknya jauh, 300-500 meter. Maka akses pendukungnya harus saling melengkapi. Kondisikan keberadaan stasiun itu dengan daya dukung lingkungan yang memadai,” kata Aditya.

Aditya juga berharap jika ada pembangunan infrastruktur harus disosialisasikan jauh-jauh hari agar masyarakat tidak kaget. “Pelayanan pasti akan menurun dan penumpang menjadi tidak nyaman,” ujarnya.

Dengan modernisasi stasiun tersebut, Pemerintah berharap animo masyarakat dalam menggunakan moda KA terus meningkat. Maka target 1,2 juta penumpang per hari yang terlayani KRL pada tahun 2019 dapat terealisasi.

Peningkatan jumlah penumpang itu juga didukung oleh pembangunan double-double track lintas Manggarai-Bekasi, yang rencananya akan diperpanjang hingga Cikarang. Pada lintas Tanah Abang-Rangkasbitung akan dioperasikan double track dan elektrifikasi di segmen Maja-Rangkasbitung. Sementara itu, pada lintas Manggarai-Bekasi akan beroperasi double-double track segmen Jatinegara-Kranji.

“Kita mendukung pembangunan infrastruktur KRL yang jangkauannya makin memanjang. Ke Rangkasbitung itu sepanjang 79 km dan ke timur sudah 120 km dengan penambahan 43 km ke Cikarang. Kita harus melayani pergerakan komuter ini,” kata Zulfikri.




Ayo baca ini juga….