Saab Tawarkan Indonesia Modernisasi RBS 70 ke Versi Terbaru




saab
RBS 70 NG di Indo Defence 2018 Expo & Forum, sistem rudal pertahanan udara bersistem Very Short Range Air Defence (VSHORAD) buatan Saab. Foto: Ery.

Sejak tahun 1992 Indonesia telah diperkuat sistem pertahanan udara portable RBS 70 generasi pertama yang diproduksi perusahaan pertahanan asal Swedia, Saab Bofors Dynamics. Setelah digunakan selama puluhan tahun, sistem ini perlu diremajakan dan dipercanggih.

Tawaran untuk meremajakan dan mempercanggih sistem sosok rudal bersistem Very Short Range Air Defence (VSHORAD) yang dimiliki TNI Angkatan Darat (AD) diungkapkan Saab saat digelar pameran Indo Defence 2018 Expo & Forum di Jakarta, yang berlangsung selama 7-10 November.

Di Indonesia, operator rudal portable yang masuk dalam kelas Man Portable Air Defense System (MANPADS) ada dua satuan, yakni Batalyon Arhanudse 15/Dahana Bhaladika Yudha Kodam IV/Diponegoro dan Batalyon Arhanudri 2 Divisi Infantri 2 Kostrad.

Dalam konsep rancangannya, RBS-70 dikembangkan sebagai senjata pertahanan udara yang mudah digunakan dan dapat dioperasikan dengan biaya perawatan rendah. Rudal ini mulai diproduksi pada tahun 1977.

Meski tergolong MANPADS, rudal ini dalam pengoperasiannya tidak bisa dipanggul. Peluncur RBS-70 beserta alat bidiknya (teropong monocular) hanya bisa diletakkan pada dudukan peyangga (tripod).   Dengan dibekali tripod, RBS-70 sangat ideal ditempatkan pada jip model Land Rover, seperti yang biasa digunakan Arhanud TNI AD.

Terdapat dua tipe RBS-70 yang dimiliki TNI AD, yakni RBS-70 MK-1 dan MK-2. Keduanya sama-sama berpengendali sinar laser. Perbedaannya terletak pada kemampuan jarak tembaknya. MK-1 mampu menghajar target pada jarak 500 – 5.000 meter, sedangkan MK-2 bisa melumat target pada jarak 200 – 7.000 meter. Ketinggian yang bisa dicapai juga berbeda. RBS-70 MK-1 bisa melesat hingga ketinggian 3 km, sementara MK-2 hingga 4 km.

Meski telah berusia sekitar 26 tahun, kondisi MANPADA buatan Saab masih prima. Dalam uji coba di Sumatera Selatan, beberapa waktu lalu, sistem RBS 70 ini tetap dapat berfungsi secara sempurna.

“Bayangkan, setelah puluhan tahun dan masih berfungsi baik,” kata Kepala Perwakilan Saab di Indonesia, Anders Dahl, di Jakarta, Rabu (7/11/2018).

Bermaksud memberi penawaran kepada Indonesia untuk memutkhirkan unit RBS 70 yang dimiliki TNI AD ke versi RBS 70 NG. Maklum, unit yang dimiliki merupakan unit generasi pertama.

“Tentara Nasional Indonesia memiliki sembilan unit RBS 70 dan dua sistem radarnya, yang telah dioperasikan sejak lebih dari 20 tahun lalu dan masih berfungsi sampai sekarang. Itu bagus bukan? Tapi, mereka perlu melakukan peremajaan,” sambung Rickard Svensson, Direktur Pemasaran dan Penjualan Saab.

Menambahkan Rickard, Dahl mengatakan, “Indonesia perlu menambah jumlah alat pertahanan, meningkatkan kapabilitas mereka, serta meremajakan apa yang mereka punya selama ini.”

Menurutnya, Saab berkomitmen mendukung misi Indonesia untuk memodernisasi angkatan bersenjatanya dan memajukan industri berteknologi tinggi dalam negeri.

RBS 70 NG menggunakan komponen canggih dan teknologi terbaru untuk menyediakan sistem pertahanan udara yang terintegrasi dan modular. RBS 70 NG didukung fitur penginderaan termal resolusi tinggi dan terintegrasi.

Sistem ini juga didukung alat bantu penanda canggih untuk meningkatkan waktu reaksi dan akuisisi target.  Adanya auto-tracker membantu operator selama pengoperasian serta meningkatkan probabilitas ketepatan menghajar target dalam jangkauan rudal, sekalipun ukuran targetnya kecil.

RBS 70 NG juga didukung rekaman video internal untuk memantau pasca penindakan. Waktu tempuh maksimal menuju target hanya sekitar 30 detik.

Versi terbaru ini juga menggunakan misil BOLIDE, yang didukung teknologi untuk mereduksi kebisingan, sehingga menghasilkan manuver. Untuk memerluas pandangannya terhadap target, RBS 70 NG bisa diintegrasikan dengan sistem radar Saab Giraffe 1X.




Ayo baca ini juga….