Rupanya Ada Kejurnas Terbang Layang di Jember




Belasan glider parkir bersebelahan dengan pesawat Husky untuk menariknya di ajang kejurnas terbang layang di Jember.
Belasan glider parkir bersebelahan dengan pesawat Husky untuk menariknya di ajang kejurnas terbang layang di Jember.

Ada hal menarik di Jember, Jawa Timur, akhir Oktober kemarin.  Ironisnya, tak ada gaung. Pada 26-31 Oktober 2018 ada “Kejurnas Terbang Layang 2018″ di sana.

Cerita Kejurnas ini saya dengar pada Kamis (25/10), saat Indonesia Flying Club (IFC) mendadak mengajak saya ke Jember. Ketika itu, saya mendapat informasi akan ada kegiatan “IFC Jember XCountry 2018” pada 24-28 Oktober dalam rangka Hari Sumpah Pemuda. Disebutkan pula, cross country empat pesawat olah raga plus satu helikopter ini untuk mendukung kegiatan FASI (Federasi Aero Sport Indonesia) dalam penyelenggaraan “Kejurnas Terbang Layang 2018″ di Jember. Nama kejurnas itu adalah Kejurnas Terbang Layang Danlanud Abdurachman Saleh Bupati Jember Cup. Diselenggarakan pada 26-31 Oktober 2018.

Kejuaraan nasional ini dibuka oleh Bupati Jember Faida dan Danlanud Abdurachman Saleh Marsekal Pertama TNI Andi Wijaya di Bandara Notohadinegoro pada 26 Oktober 2018 sore. Katanya, kejurnas diikuti sekitar 70 atlet (54 putra dan 16 putri) dari tujuh provinsi yang memiliki cabang Portela (Persatuan olah raga terbang layang). Dua nomor diperlombakan: ketepatan mendarat dan durasi, yang dinilai oleh 10 wasit.

Di lapangan kawasan Bandara Notohadinegoro terlihat ada 15 pesawat glider yang akan berlomba. Siang pada 27 Oktober 2018, kejuaraan terbang layang untuk nomor durasi dimulai setelah tak ada lagi penerbangan reguler di bandara.

Di Bandara Notohadinegoro ada dua penerbangan reguler Jember-Surabaya yang diterbangi ATR 72-500/600 Garuda Indonesia dan Wings Air. Keduanya mendarat berturut-turut dengan waktu tak berselang lama dan operasional rutin bandara pun berakhir sekitar pukul 12.00.

Nyaris tak ada yang menonton kejurnas terbang layang itu. Hanya segelintir penduduk dan pedagang yang terlihat “mengintip” di celah pagar bandara di kejauhan. Kejurnas ini, katanya, harus diadakan karena kalau tidak, tahun depan tak ada lagi dana untuk aktivitas olah raga terbang layang.

Kemarin (31/10), kejurnas terbang layang berakhir. Parjono dari Portela mengatakan lewat WhatsApp, “Alhamdulillah selamat dan sukses, semua Fasida (Federasi Aero Sport Indonesia Daerah) Provinsi bawa medali. Tks.”




Ayo baca ini juga….