Sun. Apr 21st, 2019

Persoalan FIR Ternyata Belum Selesai

Assalamualaikum semua …

Lontaran pernyataan diplomat senior Makarim Wibisono, “Saya kaget ternyata permasalahan FIR belum selesai,” mengundang tanya. Kenapa dan ada apa? Inilah salah satu bahasan dalam diskusi Pusat Studi Air Power yang ketiga di Jakarta, Rabu (6/3/2019).

“Saya pikir apa yang sudah dikaji pada tataran antar-instansi sudah diteruskan pada level pimpinan negara, ternyata belum selesai. Ini berarti ada berbagai persaingan kepentingan yang ada di belakang itu,” kata Makarim tentang masalah FIR (Flight Information Rules) yang baru diketahuinya lagi pada tahun 2010, yang ternyata sampai saat ini pun belum selesai.

Padahal, katanya, tahun 2000 ketika ia diminta mempersiapkan KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) antara Indonesia dan Singapura, soal FIR termasuk yang dibicarakan, di samping soal ekstradisi dan perbatasan. Pada kesempatan itu, pihaknya sempat mempersiapkan rapat antar-kementerian dalam membahas FIR, termasuk bersama Ditjen Perhubungan Udara dan TNI AU.

“Saya melihat, mungkin kalau kita ingin maju (soal FIR), kita harus menyiapkan suatu posisi yang lengkap. Tidak hanya menyangkut mengenai pentingnya kedaulatan, tapi juga bagaimana mengatur capacity building,” kata Makarim.

Ketua Pusat Studi Air Power Chappy Hakim mengatakan, sewaktu ia menjadi KSAU tahun 2002 diminta oleh Panglima TNI menjawab pertanyaan Presiden tentang FIR. “Jawaban yang klasik, usulan dari staf Kemenhub dan Kemlu, ada dua hal, kita belum punya SDM dan dana. Dua hal yang dikemukakan itu dan tanpa upaya apa-apa, hanya menjawab begitu saja, itu adalah simbol dari inferiority kita,” ucapnya.

Menurut Chappy, para produsen dari negara-negara Eropa dan Amerika Serikat tiap tahun paling tidak dua kali, dari airshow di Malaysia dan di Singapura datang Jakarta, maka dengan mudah kita gulirkan untuk FIR. “Sangat mudah sekali dan kita tidak perlu modal untuk itu, kalau kita berbicara tentang dana. Kalau kita berbicara tentang SDM, FIR Singpura yang kita persoalkan cuma masalah kecil. Kan kita punya dua FIR lagi yang kita day to day activities. Kenapa jadi sulit kita tentang SDM?”

Chappy menambahkan, “Kita tidak bisa mengejar Singapura, itu benar, karena Singapura selalu memberikan layanan yang prima. Karena memang dia jualan. Namun bukan berarti kita tidak mempunyai kualitas. Audit dua tahun terakhir ICAO sudah mengatakan bahwa level aviation safety di Indonesia, terutama DGCA, itu sudah mendapatkan nilai di atas rata-rata global. Bagaimana ke depannya, kita harus menyusun suatu strategi yang komprehensif.”

Baca juga ini ya...