Perketat Ramp Check Penerbangan Perpanjang Waktu Operasional Bandara untuk Angkutan Nataru




Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menginstruksikan pada jajaran Ditjen Perhubungan Udara untuk memperketat ramp check prasarana dan sarana transportasi udara menjelang masa angkutan Natal dan Tahun Baru (nataru). Di samping itu, waktu operasional bandara-bandara di daerah juga diperpanjang untuk menampung tambahan penerbangan yang waktunya malam.

Ramp check harus diperketat karena safety itu nomor satu. Tambahan flight juga menjadi suatu kebutuhan dan yang lain adalah membuka waktu-waktu yang lebih lama di airport yang kecil-kecil agar bisa operasi malam hari,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi usai membuka acara Airport Solution Indonesia 2018 di Jakarta, Rabu (5/12/2018). Hal-hal tersebut akan disampaikan Kementerian Perhubungan dalam bentuk Surat Edaran.

Kegiatan ramp check atau ramp inspection memang rutin dilakukan jajaran Ditjen Perhubungan Udara, seperti diungkapkan Dirjen Perhubungan Udara Polana Banguningsih Pramesti. Menjelang musim sibuk nataru, aktivitas tersebut lebih ditingkatkan lagi.

“Kami akan bertemu dengan stakeholders penerbangan, yakni maskapai, operator, bandara, airnav, dan pihak lain, menjelang masa angkutan nataru,” ucap Polana. Apalagi pada akhir tahun, cuaca seringkali tidak bersahabat. Dengan demikian, katanya, para pemangku kepentingan harus lebih perhatian dalam operasional penerbangan demi keselamatan.

Pada kesempatan lain, Sekretaris Ditjen Perhubungan Udara, Nur Isnin Istiartono mengatakan, pelaksanaan angkutan udara nataru berlangsung dari 20 Desember 2018 sampai dengan 6 Januari 2019. “Ada 36 bandara untuk penerbangan domestik, di dalamnya ada tujuh bandara untuk penerbangan internasional, yang kami pantau untuk angkutan udara nataru nanti,” katanya dalam press background Kementerian Perhubungan “Persiapan Angkutan Nataru 2018” di Jakarta, tadi (5/12/2018) siang.

Jumlah penumpang dalam 18 hari pantauan diprediksi 6.537.119 orang, terdiri dari 5.682.781 penumpang domestik dan 854.328 penumpang internasional. Prediksi periode tahun sebelumnya 6.010.529 penumpang dan terealisasi 7.348.203 penumpang. Kalkulasi prediksi lebih kecil dari realisasi periode sebelumnya karena jumlah itu tak bisa diperbandingkan disebabkan hari pantauan berbeda; periode sebelumnya 22 hari. Untuk menampung jumlah penumpang itu, pemerintah sudah menyiapkan 8.923.932 kursi di pesawat udara: 7.567.596 kursi penerbangan domestik dan 1.356.336 kursi penerbangan internasional.

“Kami menyiapkan 544 pesawat udara dari 13 badan usaha angkutan udara Indonesia,” ucap Isnin. Dari 13 maskapai itu, tujuh di antaranya sudah mengajukan penerbangan tambahan (extra flight) domestik, yakni Garuda Indonesia, Citilink Indonesia, Lion Air, Batik Air, AirAsia Indonesia, Sriwijaya Air, dan NAM Air. Sementara itu, Susi Air, TransNusa, Wings Air, AirAsia Indonesia Xtra, Trigana Air, dan Express Air, cukup dengan penerbangan regulernya masing-masing. Dua maskapai asing, AirAsia dan Malaysia juga mengajukan extra flight untuk penerbangannya ke Kuala Lumpur.

Persiapan regulator dalam angkutan udara nataru rupanya bukan cuma meningkatkan perhatian dengan mengantisipasi lonjakan penumpang, gangguan keamanan dan keselamatan penerbangan, serta kapasitas angkutan udara. Namun antisipasi pada bahaya terorisme, isu-isu politik, penggunaan narkoba, serta bencana alam dan cuaca ekstrem juga mendapat perhatian penuh.

Foto: Humas Ditjen Perhubungan Udara




Ayo baca ini juga….