Perakit Pesawat Swayasa itu Masih Merakit




Assalamualaikum semua …

Bertemulah saya dengan Djubair OD, perakit dan pemodifikasi pesawat terbang layang (glider), ultralight, dan swayasa, yang dulu meramaikan Lapangan Terbang Pondok Cabe, Jakarta. Dia hadir pada acara “Yearly Gathering” Indonesia Flying Club (IFC) pada 20 Januari 2019.

Masih nyentrik dengan kumisnya yang panjang dan kacamata hitam, Djubair yang kini berusia di atas 70-an tahun terlihat sehat. “Saya masih merakit pesawat glider di rumah,” katanya. Dia merakitnya bekerja sama dengan para mahasiswa ITB. “Ini sekaligus untuk penelitian,” ungkapnya.

Pensiunan Sersan Mayor TNI AU ini sudah banyak memodifikasi pesawat-pesawat tersebut. Awalnya dari hobi membuat pesawat aeromodelling, lalu ke glider kemudian swayasa. “Untuk menjadi perakit pesawat awalnya bisa dari aeromodelling. Otak-atik mesin pesawatnya dari sana dulu, kemudian ke glider dan swayasa,” kata Djubair memberi tips bagi yang minat di dunia tersebut.

Djubair rupanya juga perhatian pada anak-anak muda untuk menjadi penerusnya. Katanya, “Minat dirgantara itu harus dipupuk dari kecil dan bukan hanya di sekolah penerbangan. TNI AU melakukannya atau di tempat-tempat seperti ini (IFC) malah lebih baik.”

Mencintai dunia dirgantara dan penerbangan memang tidak harus menjadi awak pesawat terbang atau bekerja di maskapai. Mereka yang cinta dirgantara bisa memberi dukungan penuh pada perkembangan dunia kedirgantaraan, sebagai apapun profesinya. Hal ini yang diharapkan para senior dunia dirgantara itu.

Seperti juga Djubair, yang tak pernah melepaskan kecintaannya pada dirgantara. Dia memang bukan hanya perakit dan pemodifikasi pesawat terbang. Sebelumnya ia pernah jadi juara terbang lama pesawat glider dengan catatan waktu lebih dari empat jam. Sempat pula menjadi instruktur terbang layang dan penerbang Glatik, pesawat penarik glider.

Pertengahan tahun 1990-an, ia menuangkan idenya untuk memasang mesin pada glider. Alasannya, agar glider tak lagi tergantung pada pesawat penarik, apalagi jumlah pesawat penarik itu terbatas. Di samping itu, penerbang glider bisa merasakan terbang dengan pesawat bermotor (mesin). Nanti jika penerbangnya ingin terbang dengan pesawat bermesin tak akan canggung lagi.

Djubair suka mengutakatik pesawat di garasi rumahnya. Sewaktu rumahnya di kawasan Halim Perdanakusuma, Jakarta, ia sudah merakit pesawat swayasa Lysapoho, KR-1, dan KR-2, juga mengembangkan Auster, pesawat latih tahun 1950-an. Di garasi rumahnya di kawasan Pondok Cabe setelah pindah dari Halim, ia merakit KR-2 dan Kitfox, juga gyrocopter.

Gyrocopter Aero Command rakitan Djubair dan rekan yang membantunya, tak terlepas dari keterampilan tangannya. “Ada saja yang kurang sempurna dari pabriknya,” ujarnya.




Ayo baca ini juga….