Operasional Mission Aviation Fellowship di Papua Dibatasi




Kegiatan MAF Mission. Foto: Mission Aviation Fellowship.

Izin operasional maskapai Mission Aviation Fellowship (MAF) berakhir pada awal November 2017. Ditjen Perhubungan Udara berharap MAF segera mengajukan izin baru berupa izin angkutan udara niaga, baik berjadwal maupun tak berjadwal. Izin baru ini wajib dikantongi agar operasional MAF sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Berdasarkan ketentuan dalam UU nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan , Kegiatan Angkutan Udara Bukan Niaga hanya mengangkut penumpang atau barang untuk menunjang kegiatan pokoknya dilarang memungut biaya. Menteri Perhubungan dapat memberikan kepada pemegang izin kegiatan angkutan udara bukan niaga untuk melakukan kegiatan angkutan penumpang dan barang dengan memungut bayaran pada daerah tertentu, dengan memenuhi persyaratan tertentu, dan bersifat sementara. Yang dimaksud dengan “bersifat sementara” adalah persetujuan yang diberikan terbatas untuk jangka waktu tertentu, paling lama 6 (enam) bulan dan hanya dapat diperpanjang untuk 1 (satu) kali pada rute yang sama.

Berdasar data Ditjen Perhubungan Udara, izin operasional maskapai MAF telah berakhir pada awal November 2017. Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan no. KP 467 Tahun 2017, izin operasional terakhir yang diberikan kepada MAF untuk mengangkut penumpang umum dan barang dengan memungut biaya mempunyai jangka waktu enam bulan, yaitu antara 8 Mei 2017 – 8 November 2017. Sebelumnya, MAF sudah memperoleh izin berdasar KP 59 Tahun 2016, dengan jangka waktu 1 (satu) tahun, yaitu antara 28 Januari 2016 – 28 Januari 2017.

“Dengan ketentuan tersebut, berarti izin MAF tidak dapat diperpanjang lagi karena sudah mendapatkan izin dua kali. Namun demikian MAF dapat mengajukan izin usaha angkutan udara niaga yang dapat mengangkut penumpang umum dan barang dengan memungut biaya,” ujar Agus Santoso, Dirjen Perhubungan Udara di Jakarta.

Namun, jelas Agus Santoso, dengan berakhir izin operasional MAF sebagai angkutan penumpang dan barang dengan memungut biaya tidak membuat MAF harus mengentikan operasionalnya. MAF tetap dapat beroperasi, namun bukan sebagai angkutan udara niaga dan tidak boleh memungut biaya.

Saran Agus Santoso, jika MAF tetap ingin beroperasi sesuai misinya dengan tidak memungut biaya, MAF dapat bekerjasama dengan Pemerintah Daerah ataupun instansi-instansi yang terkait dalam bentuk donasi / sumbangan / bantuan untuk biaya operasional tanpa harus memungut biaya penumpang atau barang. MAF juga dapat bekerjasama dengan pemerintah untuk menerbangi rute-rute perintis.

Sebagai regulator, Agus Santoso menyampaikan terimakasih atas operasional MAF selama ini. Sebagai salah satu maskapai penerbangan, bersama dengan operator penerbangan lainnya, MAF telah turut berjasa dalam mengembangkan perekonomian daerah terutama di rute-rute yang diterbanginya di Papua, Kalimantan dan Aceh. Selain itu, MAF juga seringkali membantu pemerintah pusat dan daerah, serta tim SAR untuk melakukan pencarian dan pertolongan kecelakaan pesawat di daerah-daerah pedalaman.

“Kegiatan penerbangan itu telah diakui dunia sebagai salah satu kegiatan yang bisa memicu pertumbuhan perekonomian daerah dan nasional. Begitu juga di Indonesia, maskapai penerbangan termasuk MAF, telah berhasil mengembangkan perekonomian di daerah-daerah tujuannya. Untuk itu saya mengucapkan banyak terimakasih atas kiprah MAF selama ini,” ujar Agus Santoso.

Mission Aviation Fellowship atau MAF merupakan Pemegang Izin Kegiatan Angkutan Udara Bukan Niaga dengan Nomor : SKEP/310/XII/1999 tanggal 2 Desember 1999 dan Pemegang Operating Certificate (OC) -91 nomor OC 91- 004. Kegiatan penerbangan MAF sesuai dengan Akta Yayasan MAF Indonesia nomor 1 tanggal 4 Pebruari 2009 diantaranya adalah menyediakan sarana angkutan udara berikut penerbang-penerbang dan teknisi-teknisinya untuk melayani daerah-daerah terpencil yang belum dijangkau dengan alat pengangkutan lain secara cuma-cuma. Adapun sumber pendanaan Yayasan terdiri dari: Sumbangan atau bantuan yang tidak mengikat; Hibah atau hibah wasiat; dan Perolehan lain yang tidak bertentangan dengan Anggaran Dasar Yayasan dan/atau peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Wilayah pelayanan penerbangan Mission Aviation Fellowship (MAF) pada saat memungut biaya pada tahun 2017 adalah Aceh, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara dan Papua. Sedangkan pesawat yang dioperasikannya sebanyak 18 unit, terdiri dari Cessna 208B (4 unit), Cessna 208 (1 unit), Kodiak 100 (7 unit), Cessna 208 Amphibi (1 unit), Cessna A185 Floatplane (2 unit), dan Cessna TU206 (3 unit). Pesawat-pesawat tersebut dioperasikan oleh 32 pilot dan ditunjang para personil teknis, berikut manajemennya.




Ayo baca ini juga….