Menyapa Bandara Kertajati




Assalamualaikum semua …

Beberapa kali saya ke Bandara Kertajati di Majalengka. Paling akhir saya melihatnya pada peresmian oleh Presiden Jokowi pada 24 Mei 2018. Waktu itu pesawat kepresidenan mendarat mulus, disusul pesawat Garuda Indonesia, di bandara baru itu. Keduanya jenis Boeing 737-800 NG.

Saya terkesan dengan desain interior terminalnya, terutama di ruang keberangkatan. Bagus dengan ornamen khas Jawa Barat. Bahkan towernya pun berhias ornamen Kujang. Karena belum beroperasi, saya belum tahu tentang kenyamanan untuk arus penumpangnya.

AirNav Indonesia yang mengatur lalu lintas udara di Bandara Kertajati menyatakan kesiapannya, begitu pula dengan Angkasa Pura II yang mengelola bandara. Namun sayang operasional penerbangannya belum banyak diminati.

Apa pasal? CEO AirAsia Indonesia Group Dendy Kurniawan pernah mengatakan, “Bandaranya saya akui bagus, tapi aksesnya bagaimana?” Hal ini pula yang disampaikan oleh Direktur Komersial Sriwijaya Air, Toto Nursatyo. Kalau Presiden Direktur Lion Air Group, Edward Sirait bilangnya, “No comment kalau soal Bandara Kertajati.”

Nah, tanpa akses menuju bandara yang lancar dan mudah, mana ada penumpang yang akan terbang dari sana? Namun salut buat Citilink Indonesia yang terbang rute Kertajati-Surabaya pp sejak 1 Juli 2018 sampai sekarang masih terbang sekali sehari.

Awalnya, di penjualan tiket online Citilink ditulis Bandara Kertajati itu adanya di Cirebon. Untuk daya tarik? “Sekadar menjelaskan kota yang terdekat, bukan lokasi bandara tersebut. Sama sekali bukan klaim dari kota Cirebonnya,” begitu penjelasan Direktur Utama Citilink Indonesia, Juliandra Nurtjahjo lewat whatsapp pada 25 Mei 2018, seraya mengatakan, “Makanya kita take out supaya tidak ada isu lagi. Itu murni kesalahan.”

Selain Citilink memang belum ada maskapai lain yang terbang dari dan ke Kertajati. Beberapa penerbangan haji Garuda yang sebelumnya disebut-sebut akan terbang dari Kertajati juga batal. Saya juga bertanya-tanya, kalau terbang dari Kertajati tapi harus turun dulu di Bandara Internasional Soekarno-Hatta karena belum ada kode KJT di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, rasanya pemborosan, ya.

Pindah bandara atau membuka penerbangan dari bandara baru memang memerlukan biaya dan upaya yang besar. Apalagi ada prasarana vital yang belum terpenuhi, yakni akses menuju dan keluar bandara dari kota-kota yang potensi pasar penerbangannya besar.

Dalam hal Kertajati, pasar potensialnya adalah warga Bekasi, Karawang dan sekitarnya, juga Bandung, serta Cirebon. Dari kota-kota itu, akses jalan yang lancar sulit karena kemacetan, sementara kereta api belum terwujud.

Pembangunan prasarana transportasi, seperti bandara atau pelabuhan, memang bukan sekadar membangun bandara atau pelabuhannya. Namun berbagai aspek penunjangnya harus seiring dibangun pula. Semoga saja Bandara Kertajati mendapat perhatian penuh dari pemerintah pusat dan pemerintah Jawa Barat agar bisa beroperasi dengan optimal.

Jangan sampai seperti Bandara Samarinda Baru, yang bangunan terminalnya sudah selesai empat tahun lalu tapi bandaranya baru diresmikan tahun ini. Arsiteknya menyayangkan karena bangunannya banyak yang mulai rusak karena tidak digunakan dan kurang dirawat dengan baik.