Mengingat Nama Maskapai Kita Lagi, Yuk!




Assalamualaikum semua …

Kalau sekarang kita mau naik pesawat terbang, yang muncul di benak kita adalah Garuda Indonesia, Citilink Indonesia, Batik Air, Lion Air, Sriwjaya Air, AirAsia Indonesia, juga ada Wings Air, dan NAM Air. Nama-nama ini masuk dalam tiga grup maskapai yang eksis sampai saat ini, yakni grup Garuda Indonesia (Garuda dan Citilink), grup Lion Air (Lion, Wings, Batik), dan grup Sriwjaya Air (Sriwijaya dan NAM). Satu lagi adalah bagian dari grup AirAsia di Malaysia, yakni AirAsia Indonesia yang digabungkan dengan AirAsia Indonesia X.

Ada lagi maskapai-maskapai kecil yang sampai saat ini masih terbang reguler, yakni Susi Air, TransNusa, Express Air, dan Trigana Air. Ada juga Cardig Air yang terbang reguler khusus untuk angkutan kargo. Sayangnya, maskapai-maskapai niaga berjadwal ini kurang populer di masyarakat, kecuali masyarakat di daerah yang mereka terbangi, yang umumnya di kawasan timur, khususnya Papua.

Armada mereka memang tidak banyak, kecuali Susi Air yang mengoperasikan lebih dari 20 pesawat kecil. Jadi jumlah penumpangnya juga minim.

Grup Lion Air menguasai lebih dari 50% pangsa pasar penumpang domestik, yang jumlahnya sekitar 120juta orang. Grup Garuda Indonesia menguasai 30%, sedangkan yang 20% lagi diangkut maskapai lainnya.

Bagaimana dengan penerbangan carter? Data jumlah pergerakan penumpang dan pesawat belum saya peroleh. Jika mereka masih eksis, pastilah peminatnya ada. Belum lagi ada penerbangan perintis, yang walaupun tidak semenguntungkan penerbangan reguler atau carter, tetap ada margin untuk operasionalnya.

Ada lebih dari 30 maskapai penerbangan carter. Sebut di antaranya, Airfast Indonesia, Travira Air, Pelita Air, Dimonim Air, Surya Air, MyIndo Air, Premiair, Whitesky Aviation, Gatari Air, Pegasus Air, Enggang Air, Komala Indonesia, Indonesia Air Transport, Tri MG, Derazona Air, National Utility Helicopter, Eastindo, Dabi Air, Deraya Air Taxi, Hevilift Aviation, Jhonlin Air, TransWisata Aviation, Unindo Air, Air Pacific, Asia One Air, Alfa Trans Dirgantara, Asconusa Air, Air Born Air, Angkasa Super, Intan Angkasa Air, juga Balai Kalibrasi Fasilitas Penerbangan (BKFP).

Minimnya peminat penerbangan perintis, apalagi dalam dua tahun terakhir ini, mengingatkan akan usul yang diajukan pihak Ditjen Perhubungan Udara pada tahun 2014. Usulnya, “BKFP yang sudah jadi BLU (Badan Layanan Umum) dan memiliki AOC 135 ini bisa menjadi operator penerbangan perintis. Namun sampai sekarang belum terealisasi.”