Thu. Apr 18th, 2019

Memburu Bandara untuk Poros Wisata

Bandara Komodo, Labuan Bajo. Foto: Gloopic.net.

Assalamualaikum semua …

PT Angkasa Pura (AP) II mau mengembangkan bandara-bandara kecil sebagai poros pariwisata (tourism axis). Ada lima bandara yang sedang dan akan dikembangkannya, yakni Bandara Silangit di Tapanuli Utara, Bandara FL Tobing di Sibolga, Bandara Binaka di Nias, Bandara Fatmawati Soekarno di Bengkulu, Bandara Radin Inten II di Lampung, Bandara Tjilik Riwut di Palangkaraya, Bandara Notohadinegoro di Jember, dan Bandara Blimbingsari di Banyuwangi.

Dua bandara, Silangit dan Banyuwangi, sudah masuk dalam pengelolaan AP II. Sementara Fatmawati Soekarno dan Radin Inten II sudah penyerahan aset dan sedang dalam pengkajian. Sisanya, masih penjajagan.

Tak kalah aktif PT AP I, yang juga akan menambah bandara di bawah pengelolaannya. Sekarang AP I masih mengelola 13 bandara, sementara AP II sudah 15 bandara. Bandara Juwata di Tarakan, Bandara Sentani di Jayapura, Bandara Sis Al-Jufrie di Palu, dan Bandara Dominic Eduard Osok di Sorong, adalah beberapa bandara yang sedang dikajinya.

AP I juga tertarik untuk mengelola Bandara Komodo di Labuan Bajo. Namun bandara sebagai poros ke objek wisata prioritas yang banyak diminati wisatawan ini ditawarkan pula pada pihak swasta, termasuk dari luar negeri. “Sudah banyak yang minat dan memasukkan penawarannya,” kata Polana B Pramesti, Direktur Bandar Udara Ditjen Perhubungan Udara ketika bertemu di acara IBCAS di Jakarta, Rabu (29/8/2018).

Peminat swasta untuk mengelola bandara di Indonesia, diakui Polana, cukup banyak. Bukan hanya perusahaan pengelola bandara, tapi juga perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor lain. Bahkan bakal Bandara Soekarno-Hatta 2, yang masih pra studi kelayakan pun sudah diminati investor dari Cina. Investor ini bahkan sudah presentasi di depan pemerintah.

Kalau kemudian dunia penerbangan melaju pesat, apakah sudah ada desain besar untuk pemetaan bandara-bandara yang jumlahnya hampir 400 itu? Mana bandara hub, mana bandara spoke, juga mana bandara untuk wisata yang membutuhkan akses antarmoda. Belum lagi bandara di perbatasan dan bandara perintis. Jangan sampai semua bandara ingin menjadi bandara besar atau internasional.

Baca juga ini ya...