Membenahi Penerbangan atau Membubarkan Lion Air?




Konferensi pers kecelakaan Lion Air JT610. Foto: Ery.
Konferensi pers kecelakaan Lion Air JT610. Foto: Ery.

Assalamualaikum semua …

Dua kesan itu yang tersirat dalam hiruk pikuk pemberitaan kecelakaan JT 610 (29/10/2018) di Tanjung Karawang. Lebih dari sepekan sejak peristiwa itu terjadi, masih banyak pemberitaan yang mengesankan dua hal itu.

Dua kesan itu pula yang tertangkap dari ucapan keluarga korban pada pertemuan mereka dengan pemerintah dan pihak-pihak yang bertugas dalam evakuasi korban di Jakarta, Senin (5/11/2018). Dalam acara ini hadir Menteri Perhuhungan Budi Karya Sumadi, Kepala Basarnas Marsdya TNI M Syaugi, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono, Ketua Bidang DVI Polri Lisda Cancer, serta Komandan Satuan Kapal Amfibi Koarmada I Kolonel Laut (P) Bambang Trijanto.

Keluarga korban ada yang mengecam Lon Air. Tim Disaster Victim Indentifcation (DVI) juga mendapat kritikan terkait kelambatan penanganan identifikasi korban. Mereka juga ingin tahu hasil investigasi KNKT, bahkan ikut serta sebagai tim independen. Namun mereka juga mengapresiasi kerja Basarnas, yang bergerak cepat mengevakuasi korban.

Memahami kesedihan mendalam dari keluarga korban memang sudah seharusnya. Kami juga turut berduka atas kecelakaan ini dan berharap keluarga korban diberikan yang terbaik oleh Allah SWT. Kecelakaan itu tentu tak lepas dari kuasa mutlak Allah SWT, Tuhan semesta alam, yang berkehendak atas semuanya. Kita hanya harus bersabar untuk mendapatkan keikhlasan dalam memahaminya.

Seorang keluarga korban mengatakan bahwa Rusdi Kirana sebagai pendiri dan pemilik Lion Air gagal. Pemerintah pun dimintanya untuk menggantikan Lion Air yang disebutnya sering mengalami insiden dan delayed lagi delayed lagi dengan penerbangan yang layak.

Rusdi hadir pada pertemuan tersebut. Seperti yang pernah dikatakannya bahwa ia sangat terpukul dan sampai menangis sewaktu kecelakaan Lion Air di Solo tahun 2004, barangkali lebih terpukul lagi pada kecelakaan seminggu lalu itu. Pihaknya mengerahkan staf dan para relawan untuk penanganan keluarga korban. Hotel Ibis di Cawang, Jakarta, menjadi tempat para keluarga korban diinapkan oleh Lion Air, termasuk disiapkannya. sarana transportasi. Namun barangkali masih kurang karena keluarga korban tidak merasakan empati dan kata maaf dari Lion Air.

Hari kedua setelah kecelakaan JT 610 (29/10/2018) saya juga sempat diberi beberapa pertanyaan soal Lion Air dari salah satu media asing. Begini sebagian pertanyaan yang diajukannya yang saya ingat: Apakah Rusdi Kirana itu seorang ambisius di dunia penerbangan dengan memesan ratusan pesawat terbang? Apakah Lion Air “manipulasi” suku cadang pesawat?

Kalau persepsi atau kesan yang ditimbulkan dari reaksi-reaksi tersebut adalah untuk membenahi penerbangan nasional Indonesia, sungguh itu sebuah langkah yang baik. Namun apakah untuk pembenahan itu dengan membubarkan Lion Air atau mengecam Rusdi Kirana? Dengan membubarkan Lion Air yang menguasai lebih dari 30% penumpang domestik, digantikan oleh maskapai manakah? Barangkali ada yang bisa menjawabnya dengan bijak.

Lion Air memang identik dengan Rusdi Kirana. Padahal Lion Air dibangun oleh dua bersaudara, Kusnan Kirana dan Rusdi. Padahal pula, sejak 2015 Rusdi tak memegang manajemen Lion Air karena menjadi Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) Jokowi dan kemudian Duta Besar di Malaysia. Mungkin jarang orang tahu kalau Direktur Utama Lion Air itu namanya Rudy Lumingkewas dan Presiden Direktur Lion Air Group itu Edward Sirait.

Saya sangat setuju kalau kecelakaan JT 610 (29/10/2018) menjadi momentum untuk pembenahan penerbangan Indonesia dari berbagai lini. Tahun lalu kita sudah mencapai prestasi dengan kembali masuk Kategori I FAA dan skor audit USOAP ICAO untuk keselamatan penerbangan yang mencapai lebih dari 80%. Sewaktu ICAO mengaudit keselamatan penerbangan tahun 2017, mereka memilih Lion Air sebagai objek auditnya. Pertengahan tahun 2018, kita juga mendapat pencapaian dengan diberlakukannya pencabutan larangan terbang dari Uni Eropa.

Saat ini, regulator penerbangan sipil nasional dalam hal ini Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan sedang mengaudit khusus Lion Air (Group?). Kabarnya pula seluruh aturan penerbangan akan dikaji ulang. Hasilnya akan kita lihat sebelum tahun 2018 berakhir. Namun yang terpenting adalah implementasi dan pelaksanaannya, khususnya dalam pengawasan dan law enforcement-nya.




Ayo baca ini juga….