Tue. May 21st, 2019

Membangun Pusat Perawatan Pesawat Indonesia Demi Meningkatkan Kepercayaan Bangsa

Assalamualaikum semua …

GMF AeroAsia yang kini sudah menjadi emiten dengan kode GMFI ingin memperluas fasilitas, kapasitas, dan kapabilitas MRO (maintenance repair overhaul)-nya. Untuk itu, GMF menjalin kerja sama dengan MRO lain, khususnya MRO milik pemerintah.

Tahun 2019, kerja sama diawali dengan PT Indopelita Air Services (IAS) anak usaha Pelita Air Serivice milik Pertamina. Rencananya Februari 2019, MMF (Merpati Maintenance Facility) yang dulu anak usaha Merpati Nusantara Airlines akan bergabung pula.

“Proses dengan MMF sudah dilakukan lama, tapi masih ada yang perlu ditambahkan. Jadi baru Februari nanti akan dilakukan penandatanganan kerja samanya,” kata Iwan Joeniarto, Direktur Utama GMF usai menandatangani hkerja samanya dengan IAS di Hanggar 4 GMF, tadi (9/1/2019) siang.

Disusul kemudian kerja sama dengan PT NTP (Nusantara Turbin & Propulsi) fasilitas MRO milik PT Dirgantara Indonesia (PTDI). GMF pun akan menjadi pemimpin dari kolaborasi empat MRO anak-anak usaha perusahaan negara itu.

“Dengan berkolaborasi, kapasitas kami akan meningkat dan kalau kita mampu bersaing, perusahaan kita akan menjadi lebih kompetitif,” ungkap Iwan.

Kolaborasi tersebut, kata Iwan, tidak akan membentuk perusahaan baru. GMF di Tangerang, IAS di Jakarta, MMF di Surabaya, dan NTP di Bandung, tetap dengan usahanya masing-masing. Namun jejaring mereka akan lebih kuat dengan ikatan kerja sama saling menguntungkan tersebut.

Kalau kata Direktur Utama IAS, Sabar Sundarelawan, masyarakat kita masih belum percaya pada kemampuan bangsa sendiri. Maka perawatan pesawat ataupun peralatan industri masih dipercayakan pada pihak luar negeri. “Ini yang harus kita bangun agar kepercayaan masyarakat makin besar dan mempercayakan perawatannya di dalam negeri,” ucapnya.

Pasar perawatan pesawat terbang dalam negeri saja sebenarnya cukup menjanjikan. Namun sampai saat ini masih di bawah 50%-nya yang perawatannya dilakukan di dalam negeri. Di samping masih belum memadainya fasilitas MRO yang ada, jumlah tenaga ahli pun belum cukup. Meski demikian, persentase itu masih kurang. Setidaknya, 50-60% pasar perawatan harusnya diraup MRO dalam negeri.

Seperti pernah diungkapkan Iwan, tak mungkin 100 persen perawatan pesawat terbang dilakukan sendiri di GMF, misalnya. Perawatan di luar negeri pasti pula dilakukan. Begitu memang jalinan industri penerbangan, yang cakupannya internasional dan dunia.

Baca juga ini ya...