Wed. Jun 19th, 2019

Malu Telah Sumbang Polusi Udara, Warga Swedia Tak Mau Naik Pesawat

Ilustrasi. Sumber gambar: Heise.

Sejak akhir tahun 2018 warga Swedia ramai mengkampanyekan gerakan ‘Flygskam’ (Inggris: Flight Chamber). Ini merupakan gerakan untuk tidak menggunakan pesawat sebagai moda transportasi, demi mengurangi polusi udara.

Seperti dinukil detikcom (Jum’at, 12/4/2019), banyak orang Swedia yang ikut andil dalam kampanye Flygskam. Mereka menilai polusi udara salah satunya berasal dari bahan bakar pesawat, serta pengatur udara (AC), dan pengharum ruangan dalam pesawat.

Avtur dan kerosin sebagai bahan bakar pesawat terbang akan menghasilkan emisi CO2, CHi, NOx, CO, dan SO2 yang dapat merusak lapisan ozon di stratosfer, yang pada akhirnya berdampak pada pemanasan global.

Hal itu ternyata menjadi ancaman serius bagi Swedia. Sejumlah peneliti dari Chalmers University of Technology di Swedia mencatat bahwa polusi udara yang dihasilkan pesawat terbang telah melonjak 61 persen sejak tahun 1990.

Sementara itu, Swedish Meteorological Institute menjelaskan, suhu tahunan rata-rata naik dua kali lebih cepat di Swedia dibandingkan dengan rata-rata global. Hal inilah yang membuat warga Swedia memberikan perhatian serius hingga akhirnya mencetuskan gerakan Flygskam.

Warga Swedia akan beralih ke moda transportasi darat seperti kereta api untuk berpergian.

Harian surat kabar Swedia, Dagens Nyheter, mewartakan bahwa 250 orang yang bekerja di industri film di negara itu bahkan menandatangani sebuah perjanjian untuk membatasi pengambilan gambar di luar negeri.

Artinya, pengambilan gambar (video) hanya dilakukan di negaranya. Kalau pun mengharuskan mengambil gambar ke negara lain, mereka akan tetap menempuh perjalanan lewat jalur darat, dan tidak menggunakan pesawat.

Yang mengesankan, bahkan warga Swedia sudah merasa malu bepergian dengan menggunakan pesawat, karena begitu besarnya dampak polusi udara dari pesawat terbang. Mereka juga merasa bersalah karena sebelumnya telah turut andil atas polusi udara yang terjadi.

“Saya malu untuk naik pesawat dan itu sudah mempengaruhi sudut pandang saya mengenai penerbangan,” ungkap Viktoria Hellstrom (27), seorang mahasiswi ilmu politik di Stockholm, kepada AFP.

Operator kereta api Swedia, SJ juga menyebutkan bahwa pemesanan tiket kereta terus mengalami peningkatan. Bahkan, di awal tahun ini sudah meinngkat 21 persen dibanding tahun sebelumnya dalam periode yang sama.

Namun demikian, beberapa ahli psikologi menyebut kampanye gerakan Flygskam terlalu berlebihan. Pesawat dinilai sebagai moda transportasi yang lebih cepat, jangkauannya luas dan efisien.

“Jangan berlebih-lebihan mengenai tidak mau naik pesawat. Polusi udara bukan hanya diakibatkan oleh pesawat terbang, tapi ada sebab-sebab lainnya seperti kebakaran hutan. Apalagi soal perubahan iklim atau pemanasan global, itu cakupannya lebih luas dan sekali lagi bukan hanya dari pesawat terbang,” papar Frida Hylander, psikolog dari Swedia.

Baca juga ini ya...