Sun. Apr 21st, 2019

Lulusan Termuda Teknik Penerbangan di Indonesia, Gadis Ini Punya Impian Jadi Ahli Roket

Lyonda Shafira Huwaidi (19), lulusan termuda Prodi Teknik Penerbangan di Indonesia. Sumber gambar: Ery.

Mungkin bisa dibilang gadis ini adalah “Child Prodigy” atau anak ajaib. Betapa tidak, menginjak usia 15 tahun gadis ini telah menjadi mahasiswi. Bidang keilmuan yang diminatinya pun bukan yang sederhana, Teknik Peroketan. Padahal, di Indonesia konsentrasi program studi (prodi) di bidang tersebut belum ada.

Cita-cita gadis ini ingin menjadi ahli roket. Dia ingin berkontribusi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi antariksa nasional agar tidak tertinggal dengan negara dunia ketiga lainnya. Pandangannya yang sangat futuristis ini bukan karena sugesti dari kedua orang tuanya, melainkan dorongan pribadinya. Padahal saat itu gadis ini baru berusia 10 tahun.

Di lingkungan global, mungkin jumlah anak-anak ajaib ini hanya ratusan. Dan mungkin di antara mereka yang minatnya di dunia kedirgantaraan hanya sebagian kecil saja. Dua nama yang masyhur adalah Elon Musk dan Christopher Hirata.

Sedikit menyinggung tentang keduanya, di usia 9 tahun, Musk lahir dan besar di Afrika Selatan sudah punya komputer pertamanya, Commodore VIC 20 dan belajar pemograman dari buku “How to Program” hanya dalam waktu 3. Pada usia 12 tahun Elon berhasil menjual software game pertamanya, ‘Blastar’. Dia merupakan pendiri dan CEO Space Exploration Technologies Corporation (SpaceX), perusahaan transportasi luar angkasa AS, serta salah satu pendiri dan CEO perusahaan mobil listrik, Tesla.

Sementara Hirata, anak kelahiran Amerika Serikat (AS) ini peraih medali emas termuda dalam Olimpiade Fisika Internasional saat usianya 13 tahun. Pada usia 14 tahun, pemilik IQ 225 ini menjadi mahasiawa di Caltech (California Technology), AS. Di usia 16 tahun, dia sudah bekerja dengan NASA dalam proyek kolonisasi di Mars. Pada usia 22 tahun, Hirata berhasil meraih gelar doktor (PhD) dari Princeton.

Di antara keduanya, Elon Musk menjadi sosok yang menginspirasi gadis tersebut. Gadis bernama lengkap Lyonda Shafira Huwaidi ini ingin seperti Musk yang berhasil mengisap perhatian dunia lewat SpaceX. Dia pun memiliki impian untuk memiliki parusahaan antariksa sendiri seperti Musk.

Terlihat menonjol sejak kecil

Lyonda kecil memang terlihat menonjol sejak usia dini. Dia memiliki daya serap wawasan yang terbilang tinggi di antara anak seusianya. Daya nalar logikanya pun demikian. Kemampuannya dalam berkomunikasi dan mengungkapkan pendapat juga sangat baik.

Menjelang Lyonda lulus dari sekolah Taman Kanak-kanak, Ibunda Lyonda, Yuliantika Suhendar, sangat berhati-hati dalam memilih Sekolah Dasar bagi buah hatinya. Dia mengungkapkan hal itu kepada Redaksi IndoAviation pekan lalu. Terjadi obrolan antara sang ibunda dengan sang nenek saat itu untuk memilik sekolah yang paling cocok untuk Lyonda.

Sang nenek pun mencetuskan agar Yuli menyekolahkan anaknya ke Labschool. Tapi Yuli belum memutuskan untuk menyekolahkan putrinya ke sana. Dia masih berencana untuk mencari-cari lagi sekolah yang benar-benar sesuai untuk putrinya. Walaupun sebetulnya, Lyonda sangat ingin sekolah di Highscope Indonesia School.

Mereka tidak tahu, ternyata Lyonda mendengarkan percakapan mereka. Beberapa waktu berlalu. Suatu hari Lyonda menghampiri ibundanya. Gadis kecil itu ingin tahu, ibunya akan memasukannya ke sekolah apa.

“Bunda nanti aku SDnya mau di mana?” tanya Lyonda kepada ibunya.

“Nanti ya. Bunda belum memilih (sekolahnya),” jawab Yuli.

Namun Yuli merasa putrinya nampak tidak puas dengan jawabannya. Hal itu terlihat dari raut wajah Lyonda.

“Kakak kenapa?” tanya Yuli.

“Enggak apa-apa kok. Enggak apa-apa,” jawab Lyonda.

Yuli tersentuh dengan jawaban Lyonda. Dia menilai Lyonda tidak ingin ibunya marah.

“Enggak apa-apa kok bunda. Aku masuk Labschool enggak apa-apa kok,” ungkap Lyonda.

Yuli terheran. Dia bingung mengapa anaknya tiba-tiba mengungkapkan hal itu. Padahal Yuli belum memutuskan untuk menyekolahkan Lyonda di sekolah itu. Dalam benaknya, mungkin buah hatinya mendengar percakapan kala itu.

“Kok Labschool kak?” tanya Yuli dengan terheran kepada anak pertamanya.

“Iya, enggak apa-apa kok bunda aku masuk Labschool. Enggak apa-apa kok bunda,” jawab Lyonda.

Mendengar jawaban putrinya, Yuli semakin ingin tahu apa yang ada dalam benak Lyonda. Yuli merasa ada hal yang ingin diungkapkan buah hatinya, namun Lyonda khawatir jika diungkapkan akan menyinggung perasaannya.

Kembali Yuli menayakan kepada anaknya, “Memangnya kenapa, kak?”

“Tapi bunda jangan marah ya. Bunda jangan marah ya,” ujar Lyonda.

“Iya, bunda enggak marah,” ungkap Yuli.

“Di Labschool Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia?” tanya Lyonda.

“Bahasa Indonesia. Tapi di sana ada pelajaran Bahasa Inggrisnya juga,” terang Yuli.

“Enggak apa-apa kok bunda Bahasa Indonesia. Enggak apa-apa kok bunda,” kata Lyonda.

Yuli semakin bingun dan penasaran dengan jawab putrinya. “Kenapa, nak?” tanya Yuli.

“Kan kakak sekolahnya (TK) sudah Bahasa Inggris, nanti kalau sekolah (SD) Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris kakak hilang dong?” ungkap Lyonda.

Yuli terheran dengan anaknya. Padahal dia masih TK, tapi sudah memikirkan hal yang jauh ke depan. Jawaban putrinya menurutnya sangat masuk akal. Tapi Lyonda kembali menekankan bahwa dirinya tidak mengapa jika memang harus bersekolah di Labschool.

“Tapi kalau boleh aku masuk sekolah yang Bahasa Inggris saja kayak Highscope,” imbuh Lyonda.

“Iya. Nanti bunda pikirkan,” jawab Yuli.

Di sebutkan di awal, Yuli tidak ingin salah memilih sekolah untuk anaknya. Ternyata, si buah hati berharap bundanya akan menyekolahkannya bukan di sekolah yang biasa-biasa saja, agar kemampuan dan wawasannya tidak luntur.

Terus melesat

Singkat cerita, akhirnya Lyonda bersekolah di Mentari International School. Sekolah yang dinilai Yuli cocok untuk Lyonda, baik dari segi lingkungan sekolah maupun mutu pendidikan.

Karena terlihat menonjol dan cepat dalam menyerap materi pelajaran, ketika Kelas 5 Lyonda diikutkan Program Akselerasi.

“Awalnya SD di Mentari International School, tapi karena akselerasi akhirnya aku pindah Homeschooling SMP dan SMA-nya. Jadi pas Kelas 5 SD itu saya UN (Ujian Nasional),” terang Lyonda kepada IndoAviation.

Karena Homeschooling, dia difokuskan dengan mata pelajaran yang dia minati. Masa pendidikan Lyonda di tingkat SMP dan SMA juga singkat, masing-masing hanya dua tahun. Gadis yang hobi off road ini menyelesaikan pendidikan tingkat SMAnya di usia 15 tahun.

Dipandang sebelah mata

Setelah lulus SMA, sebagai orang yang selalu haus akan ilmu pengetahuan dan wawasan Lyonda masih ingin melanjutkan jenjang pendidikannya. Hobinya di bidang otomotif sejak SMP tidak mendorongnya untuk semakin menekuni bidang tersebut. Lyonda justru malah tertarik untuk menggeluti bidang kedirgantaraan.

Meski sang ibunda dekat dengan lingkungan kedirgantaraan, ternyata itu bukan sebab ketertarikan Lyonda di bidang tersebut. Diakuinya, kedua orang tuanya pun tidak mendorongnya untuk mengenal dan menyelami bidang kedirgantaraan.

Mulai mengenal dunia kedirgantaraan sejak SMP melalui film-film yang dia sering tonton. Lyonda pada saat itu bercita-cita ingin menjadi astronot. Hal ini tercetus karena dia menilai dunia otomotif sudah tidak menantang lagi, dan mencari sesuatu yang lebih menantang.

Dia berpikir, untuk menggapai cita-citanya menjadi astronot, berarti dia harus mempelajari tentang roket. Sayangnya, pendidikan tinggi di Indonesia belum ada Jurusan atau Prodi Teknik Peroketan, yang ada hanya Teknik Penerbangan. Namun demikian, Teknik Peroketan masih dalam cakupan di Teknik Penerbangan.

Berdasarkan saran dari orang-orang terdekat orang tuanya, akhirnya Lyonda memutuskan melanjutkan pendidikan di Fakultas Teknologi Kedirgantaraan, Program Studi Teknik Penerbangan (S1) Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (Unsurya).

“Sebenarnya fundamentalnya masih sama (Teknik Penerbangan dengan Peroketan), akhirnya saya ambil Teknik Penerbangan, tapi TPL (Program Pengalaman Lapangan)-nya saya di LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional),” jelasnya.

Sejujurnya, dia mengungkapkan dua hal yang menjadi ketertarikan besarnya terhadap bidang peroketan setelah dia menyelami lebih jauh. Pertama, dia ingin tahu semakin jauh lagi tentang ruang angkasa karena masih banyak misteri besar yang tersimpan. Eksplorasinya juga masih belum banyak.

Kedua, menurutnya bidang ilmu peroketan melingkupi banyak sub bidang ilmu, mulai tentang propellant (bahan bakar) yang menjadi sumber energi pendorong roket hingga struktur kerangka roket itu sendiri. Sebagai pemudi yang selalu haus akan ilmu, dia sangat tertarik untuk menguasai bidang ilmu ini. Di samping bidang ilmu yang anti-mainstream, Teknik Peroketan sedikit peminatnya karena tantangannya yang tidak mudah.

“Sebenarnya aku lebih tertarik untuk roket-roket yang keluar angkasa, seperti untuk space shuttle, launching satellite atau probe yang buat ke planet-planet gitu dibanding misil. Aku enggak begitu suka misil,” ungkapnya.

Namun sebelum itu, ada kisah menarik ketika Lyonda ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Dulu ayahnya kurang setuju sewaktu anak gadisnya memutuskan menggeluti Teknik Penerbangan, terlebih Teknik Peroketan. Karena menurutnya, sang puteri lebih baik di bidang manajemen saja. Maklum, Lyonda anak perempuan pertama dari empat bersaudara.

Lain halnya dengan sang bunda, Lyonda justru didukung untuk mempelajari bidang yang dia minati. Sang ayah kemudian memberikan lampu hijau bagi Lyonda untuk menekuni bidang ilmu itu.

Tapi hambatan sesungguhnya bagi Lyonda untuk mengejar cita-citanya justru baru dimulai ketika dia selesai mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Setelah hasil tes diumumkan, semua peserta mencari nama mereka dalam daftar hasil tes itu. Mereka semua termasuk Lyonda penasaran dengan hasilnya, apakah lulus atau tidak.

“Waktu dia tes, terus lulus, pas pengumuman tes kita lihat semuanya hanya ada keterangan ‘lulus’ dan ‘tidak lulus’ kecuali nama dia (Lyonda). Pas nama dia keterangan ‘datang kembali’, ada wawancara tambahan,” kata Yuli.

Lyonda dan orang tuanya pun datang menemui pihak rektorat di kampus. Di sana Ketua Program Studi (Kaprodi) Teknik Penerbangan Unsurya menyebutkan bahwa memang secara hasil tes Lyonda masuk 10 besar. Tapi karena dilihat usianya baru 15 tahun, rektornya sempat ragu, khawatirnya itu karena faktor keberuntungan lantaran ujiannya pilihan ganda.

Kemudian Lyonda diminta tes ulang di hadapan Kaprodi. Bukan hanya sekadar kembali mengerjakan soal pilihan ganda, tapi dikerjakan dengan proses penghitungannya. Dengan kata lain, dia mengerjakan soal pilihan ganda tersebut seperti mengerjakan soal esai.

Karena memang Lyonda mengerjakan sendiri dengan sungguh-sungguh, hasilnya tetap sama, dia lulus. Tapi rektor kampus pada saat itu masih tidak yakin dengan Lyonda, karena usianya yang masih sangat muda. Rektornya khawatir mental Lyonda belum siap untuk mengenyam bangku kuliah.

Kemudian Wakil Rektor I menawarkan agar Lyonda ikut psikotes. Orang tua Lyonda setuju, kemudian opsi itu diajukan ke rektor dan disetujui. Sebelum melangsungkan psikotes, rektor ingin bertemu Lyonda. Setelah bertemu, sang rektor kaget, ternyata Lyonda seorang remaja perempuan.

“Oh, perempuan? Kirain saya laki-laki,” ungkap rektor.

Psikotes tetap dijalankan. Mungkin karena Lyonda sejak kecil sudah biasa dengan psikotes, dia pun berhasil melewati tes itu. Maklum, karena mengikuti program akselerasi, Lyonda terbiasa mengikuti psikotes sebelum Ujian Nasional.

Sepak terjang di kampus

Walau usianya paling muda di kampus, Lyonda tidak main-main soal menuntut ilmu dan mengembangkan ilmu yang ia dapat. Tahun pertama kuliah dia pernah mengikuti ajang Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) tingkat nasional.

Kontestan lain yang menjadi kompetitornya banyak berasal dari berbagai kampus ternama, yang sudah fasih dengan dunia robotika. Yang sangat menguji mental, para peserta kontes ini adalah mahasiswa-mahasiswi semester 4 dan 6, hanya Lyonda dan timnya yang masih semester 2.

Karena pihak kampus belum sepenuhnya yakin dengan kemampuan Lyonda dan timnya, alumni mereka yang punya bisnis drone mementori mereka. Qodarullah, mereka menjadi finalis dalam kontes itu, sekaligus menjadi kontestan termuda. Semenjak itu rektor kampusnya baru yakin dengan kemampuannya.

Sosoknya yang gemar melakukan riset mendorongnya untuk mempelopori pembentukan tim riset mahasiawa di kampus. Karena memang wadah seperti ini belum pernah ada sejak kampusnya berdiri. Lagi-lagi langkahnya mendapat kendala. Tapi karena kegigihannya, akhirnya tim riset itu terbentuk.

Rutinitas Lyonda bersama rekan-rekannya di tim riset mahasiswa kampus. Sumber gambar: Dok. Lyonda.

Salah satu agenda tim riset ini adalah menciptakan drone yang bermanfaat bagi masyarakat. Salah satunya adalah drone pemadam api. Mereka merancang platform drone pemadam api. Uniknya, platform pemadamnya bukan bukan dengan air atau busa, melainkan dengan frekuensi suara bass.

Alasan menggunakan suara ketimbang air, busa dan lainnya untuk memadamkan api sangat sederhana. Jika pakai air, busa dan lainnya, pasti butuh pengisian ulang, dan drone memiliki batasan menampung muatan (MTOW). Dengan menggunakan gelombang suara, drone tidak perlu mondar-mandir untuk isi muatan.

Meski mereka berhasil menemukan rasio frekuensi suara dengan jarak api agar bisa memadamkan, sayangnya riset ini tertunda karena kesibukan masing-masing. Bentuk ideal drone belum sempat didapatkan.

Walaupun fasilitas tim riset ini belum secanggih kampus-kampus yang telah lebih dulu berkiprah seperti ITB dan UI, tapi mereka selalu juara I kalau bertanding. Pascapergantian rektor, tim riset ini akhirnya mendapat perhatian lebih. Dengan seringnya mendulang prestasi kala bertanding dalam berbagai kontes, fasilitas tim riset ini ditingkatkan, meski belum selengkap dan semodern ITB.

Lyonda juga telah membuat beberapa paper (karya ilmiah), salah satunya tentang model terbang roket. Seperti diketahui, lintasan terbang roket berbentuk parabola atau kurva. Dengan jumlah bahan bakar padat yang dibawa, roket bisa mencapai jarak tertentu. Namun Lyonda mampu memperpanjang jarak jangkau roket hingga 300 persen dengan jumlah bahan bakar yang sama.

Berburu beasiswa luar negeri

Masa-masa perjuangan untuk tidak dipandang sebelah mata telah berlalu. Namun tujuan Lyonda menimba ilmu justru semakin terpacu. Tak sekadar ingin mendongkrak IPTEK nasional di sektor antariksa, dia juga ingin memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan melalui hasil penemuannya.

Untuk mewujudkan hal itu, gadis yang hobi olahraga basket dan renang ini berambisi meningkatkan wawasan dan kemampuannya. Dia ingin melanjutkan jenjang pendidikannya di luar negeri, karena fokus pendidikan di bidang Teknik Peroketan belum ada di Indonesia.

Di tangannya, ia ingin Indonesia di kemudian hari memiliki space shuttle atau launching site sendiri seperti beberapa negara dunia ketiga lainnya.

“Indonesia, yang saya tahu pernah beli roket dari Rusia pada zaman pemerintahan Soekarno, (tapi) belum punya launching site sendiri. Padahal kita sering meluncurkan satelit. Jadi saya ingin mencoba membantu negara dalam bidang itu (roket),” ungkap.

Gadis yang menggeluti dunia modeling sejak SMP ini juga menyebutkan, ketika ia lulus kuliah pada September 2018, dia mendapat beasiswa S2 di Rusia untuk fokus keilmuan Space Shuttle and Rocket Complexes. Karena ada kendala, akhirnya ia terpaksa melepaskan beasiswa itu.

Saat ini dia sedang mencari-cari lagi beasiswa S2 di negara lainnya. Kali ini dia berharap akan mendapatkannya di Jepang atau Cina. Karena menurutnya di kedua negara ini perkembangan teknologi roket sudah mulai pesat.

Dia berharap, ke depan pemerintah bisa memberikan wadah bagi kaum peneliti, khususnya para generasi muda seperti dia yang sedang menggebu-gebu untuk mengembangkan eksperimen. “Jadi istilahnya ada inkubator untuk kita bereksperimen,” tutupnya.

Baca juga ini ya...