Lion Air Pesan Dreamliner untuk Umrah




Boeing 787 Dreamliner Barik Air. Foto Boeing.

Assalamualaikum semua …

Pendiri Lion Air Group Rusdi Kirana memastikan bahwa pihaknya memesan pesawat Boeing 787-10 Dreamliner pada Mei 2018. Berapa jumlahnya, waktu itu dikatakan belum dipastikan, tapi penyerahannya tahun 2019.

Ditanyakan lagi pada Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait (Edo) usai acara kerja samanya dengan Bank BRI di Jakarta pada 21 September 2018, pesanan Dreamliner masih dihitung-hitung. “Kita mau antisipasi dulu international market-nya seperti apa. Apakah umrah kita bisa tambah. Kemana lagi selain umrah, kita pelajari lagi,” tuturnya.

Penerbangan umrah Lion Air saat ini masih menggunakan pesawat Boeing 747-400, yang di Garuda Indonesia sudah dipensiunkan Oktober 2017. Kata Edo, tahun depan pesawat jumbo yang andal ini kemungkinannya masih dioperasikan. Namun setelah itu akan diganti. “Makanya kita lagi negosiasi atau hitung-hitungan untuk penggantinya, apakah kita ambil wide body Airbus 330neo atau Boeing 787,” ucapnya.

Perhitungan pasar internasional memang harus cermat sebelum operasional penerbangannya dibuka. Operasi penerbangan internasional itu mahal. Jika jumlah penumpangnya kemudian tidak mencapai angka hitung-hitungan bisnisnya, penerbangan hanya akan merugikan. Lihat saja penerbangan Garuda ke London, yang salah satu hasil evaluasinya karena jumlah penumpangnya minim, akhirnya tutup operasi.

Lion Air Group yang merajai penerbangan domestik memang baru beberapa rute saja menerbangi rute regional. Pendapatan yang diperolehnya pun hanya di bawah 5%-nya dari keseluruhan pendapatan operasionalnya. Untuk rute regional, dilakukan uji coba pasarnya dengan penerbangan carter terlebih dulu.

Kembali ke Dreamliner, pesawat dengan jendela kabin yang besar dan bisa menyesuaikan warna dari cahaya ini sempat pula dipesan Garuda pada tahun 2015. Namun seluruh pesanannya dihentikan, menyusul kebijakan manajemennya bahwa sejak tahun 2017 sampai 2020 Garuda tak menerima pesawat baru.

Padahal saya kenal seorang pilot Garuda yang sangat ingin menerbangkan Boeing 787 itu. Sampai-sampai sewaktu ditawari untuk menerbangkan Boeing 777, pilot dan instruktur Boeing 737-800NG ini tak menyambutnya. “Teknologi yang diimplementasikan pada 787 menjadi tantangan,” katanya.