Landasan Ketiga Bandara Soekarno-Hatta Dioperasikan Juli 2019




Menhub Budi Karya Sumadi didamping Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso dan Dirut AP II Muhammad Awaluddin di area proyek landasan pacu ketiga Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang pembangunannya dipercepat. Foto: Reni Rohmawati

Pembangunan landasan pacu ketiga Bandara Internasional Soekarno-Hatta saat ini sedang berjalan dan akan dipercepat. Dalam 16 bulan atau pada Juli 2019, landasan pacu yang dibangun di sisi utara paralel dengan landasan kedua itu ditargetkan selesai dan bisa dioperasikan.

Proyek dengan nilai investasi Rp2,6triliun itu untuk meningkatkan pergerakan pesawat hingga mencapai 114 pergerakan per jam. Selanjutnya adalah dapat mengakomodasi peningkatan jumlah penumpang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang diprediksi mencapai angka di atas 100 juta orang pada tahun 2025.

“Bandara Soekarno-Hatta akan meningkatkan kapasitas penumpang yang pada saat ini menampung 63 juta menjadi 100 juta orang lebih. Hal ini dapat terealisasi karena jumlah penerbangan yang saat ini 81 menjadi 114 penerbangan per jam,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi ketika meninjau proyek pembangunan landasan pacu ketiga dan east cross taxiway tahap 1 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Minggu (15/4/2018).

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama PT Angkasa Pura (AP) II Muhammad Awaluddin menjelaskan, pada saat ini pembangunan landasan ketiga baru mencapai 10 persen. Pembangunannya membutuhkan lahan 216 hektare.

“Kami sudah punya lahan seluas 115 hektare. Sisanya akan selesai dibebaskan pada September 2018,” ujar Awaluddn. Tanah yang dibebaskan mencakup wilayah Kota Tangerang, yakni Kelurahan Selapajang Jaya dan Kelurahan Benda, serta wilayah Kabupaten Tangerang, yakni Desa Bojong Renged, Desa Rawa Burung, dan Desa Rawa Rengas.

Menurut Awaluddin, pergerakan pesawat yang tinggi itu ditunjang pula oleh adanya jalur penghubung landasan pacu utara dan selatan atau landasan pertama dan kedua di sisi timur (east cross taxiway). “Nantinya pergerakan pesawat antara runway utara dan runway selatan menjadi lebih efisien,” ucapnya.

Per April 2018, pembangunan east cross taxiway tahap I telah mencapai 15,3 persen. Pengoperasiannya diproyeksikan pada April 2019, kemudian diverifikasi dan final pada Juli 2019. “Kami sudah meningkatkan pergerakan dari 72 menjadi 81 pergerakan per jam, nantinya akan mampu mencapai 86 pergerakan pesawat per jam,” tutur Awaluddin.

Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso yang mendampingi Menhub dalam peninjauan ke beberapa proyek pembangunan AP II itu mengatakan, east cross taxiway memang sudah harus dibangun untuk melengkapi west cross taxiway. “Dengan begitu akan lebih banyak lagi pergerakan pesawat yang bisa dilayani Bandara Internasional Soekarno-Hatta,” ujarnya.

Selain landasan pacu ketiga dan east cross taxiway, AP II juga sedang membangun apron dan taxiway untuk Cargo Village. Pembangunan Cargo Village Tahap I saat ini sudah mencapai 78,24 persen. Kapasitas apron bisa menampung hingga delapan pesawat kargo berbadan lebar, seperti Airbus A380 dan Boeing 777. Apron dan taxiway Cargo Village itu ditargetkan selesai pada Juni 2018.

Pengembangan sisi udara tersebut merupakan upaya AP II menjadikan Bandara Internasional Soekarno-Hatta memiliki daya saing sebagai bandara kelas dunia. Di samping itu, bandara juga dapat mengantisipasi pertumbuhan penumpang pada masa depan.

“Sebagai regulator, kami sangat mendukung upaya tersebut agar dapat meningkatkan pelayanan kepada maskapai penerbangan dan penumpang,” ujar Budi, yang juga mengapresiasi AP II merealisasikan program Padat Karya Tunai (cash for work). Dalam pekerjaan-pekerjaan konstruksi pengembangan sisi udara itu, AP II memberdayakan 250 warga sekitar bandara.




Ayo baca ini juga….