Mon. Jun 17th, 2019

Korwil Dekai Belum Tanda Tangan Kontrak Penerbangan Perintis di Papua

Foto: Reni Rohmawati.

Belum ada penandatanganan kontrak penerbangan perintis penumpang di koordinator wilayah (korwil) Dekai sampai awal April ini karena masih dalam proses pengkajian operasionalnya. Sementara lima korwil lainnya sudah beroperasi, dimulai dari Wamena dan Timika pada Maret 2019, disusul Merauke pada 1 April 2019, kemudian Elelim dan Tanah Merah.

“Dari enam korwil, yang belum kontrak itu Dekai,” kata Usman Effendi, Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara (OBU) Wilayah X Mopah, Merauke, usai pembukaan Program Padat Karya Ditjen Perhubungan Udara di Merauke, Kamis (4/4/2019).

Kontrak penerbangan perintis penumpang sebenarnya berlaku satu tahun. Namun setiap tahun hampir selalu dimulainya pada Maret-April, sehingga operasionalnya hampir tidak pernah penuh satu tahun. Bagaimana mengatasi kekosongan penerbangan pada Januari-Maret itu?

“Kalau tak ada perintis, di sini biasanya kita mencarter pesawat. Biasanya ada yang carter, nanti penumpangnya dikumpulkan. Untuk pesawat dari penerbangan misi sewanya antara 18juta-20juta rupiah per jam,” ungkap Usman.

Usman menjelaskan, di Papua selain perintis memang ada penerbangan misi, selain penerbangan reguler carter. Ada lima penerbangan misi yang beroperasi, yakni Mission Aviation Fellowship (MAF), Assosiated Mission Aviation (AMA), Adventist Aviation Indonesia (AAI), Yayasan Jasa Aviasi (Yajasi), dan Tariku Aviation Services (Tariku).

Penerbangan misi aktif berperan dalam menghidupkan transportasi udara di Papua. Mereka juga yang seringkali membuka daerah terisolasi dengan membuat landasan baru untuk penerbangannya. Tak heran jika Kantor OBU Wil. X Mopah Merauke mendapat data terbaru berdasarkan surat Gubernur Papua bahwa di wilayahnya ada 534 bandara dan lapangan terbang.

Foto: Reni Rohmawati

Penerbangan reguler carter juga tak kalah peran. Operasionalnya dilakukan maskapai penerbangan carter tapi terbang secara reguler. Waktu operasinya per tiga bulan dan bisa diperpanjang. “Karena sudah terbiasa, penduduk merasakannya sebagai penerbangan reguler, padahal reguler carter,” kata Usman.

Di Papua ada 35 maskapai yang beroperasi, termasuk maskapai besar seperti Garuda Indonesia, Batik Air, Lion Air, juga penerbangan misi. Jenis pesawat yang terbang dari Boeing 737NG, Boeing 737-300 kargo, ATR 72-500/600, sampai Twin Otter, Cessna Caravan, dan Pilatus Porter.

Penerbangan reguler carter berbeda dengan penerbangan perintis. Perintis ini mendapat subsidi dari Pemerintah, sehingga harga tiketnya terjangkau masyarakat. Subsidi tahun ini untuk penerbangan perintis penumpang di Papua, kata Usman, lebih dari Rp100miliar. Dari enam korwil itu, rute penerbangan yang paling banyak dari Merauke.

“Di korwil Merauke ada 15 rute penerbangan perintis. Tahun ini baru diresmikan atau dilakukan penerbangan perdana pada 1 April. Susi Air yang memenangkan kontrak penerbangan bersubsidi ini,” kata Agus Irianto, Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas I Mopah, Merauke.

Susi Air mengerahkan tiga pesawat jenis Cessna Caravan dan Pilatus Porter. Subsidi anggarannya, kata Agus, sekitar Rp30miliar. Wilayah yang diterbanginya, antara lain, Wanam, Bade, Okabe, Mindiptanah, Ewer, Surusuru, dan Senggo. Penerbangannya ada yang seminggu sekali atau dua kali, tergantung peminatnya.

Susi Air juga mengoperasikan penerbangan perintis penumpang di Wamena untuk 13 rute. “Tahun ini bertambah dua rute karena sebelumnya hanya 11 rute. Rencananya, tahun 2020 akan bertambah lagi sampai 22 rute,” ucap Usman. Wilayah yang diterbanginya adalah Ilu, Mulia, Ilaga, Tiom, Kobagma, Karubaga, Mamit Tolikara, Holuwon, Kenyam, dan Nduga.

Selain penerbangan perintis penumpang, di Papua juga ada perintis kargo, yang sudah dimulai sejak tahun 2017. Hub penerbangan perintis kargo ada di Wamena ke tiga rute di wilayah Pegunungan Tengah, juga hub Timika dan Dekai. “Sekarang ditambah dari Tanah Merah, yang sudah berjalan penerbangannya ke Oksibil,” ujar Usman. Penerbangan ke pedalaman seminggu sekali ini khusus mengangkut barang-barang kebutuhan pokok. Subsidinya penuh atau 100% dari Pemerintah.

Usman mengatakan, penerbangan perintis penumpang dan kargo itu biaya tiketnya lebih muah dibandingkan dengan mencarter atau menggunakan penerbangan reguler. “Masyarakat bisa memanfaatkannya karena murah. Mudah-mudahan rute yang diberikan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujarnya.

Pemerintah pun mengimbau pelaksana penerbangan, yaitu Susi Air dan Dimonim Air, untuk membuat baliho berisi daftar harga tiket dan jadwal penerbangan, yang dipasang di bandara asal ataupun tujuan.

“Kita berkoordinasi dengan kepala UPBU untuk pengawasannya. Kepala UPBU yang menunjuk siapa pengawasnya. Jadi, di masing-masing bandara ada yang namanya pengawas perintis untuk mengawasi pelaksanaan subsidi angkutan perintis supaya tepat sasaran. Jangan sampai ada calo yang menaikkan harga tiket dari Rp300.000-Rp400.000 dinaikkan menjadi Rp1juta,” papar Usman.

Baca juga ini ya...