Thu. Jun 27th, 2019

Kerja Sama GMF-IAS Tambah Kapasitas dan Perluas Fasilitas Perawatan Pesawat

Untuk menambah kapasitas dan kapabilitas perawatan pesawat terbang dan peralatan industri, PT Garuda Maintenance Facility (GMf) AeroAsia Tbk bekerja sama dengan PT Indopelita Aircraft Services (IAS). Sinergi kapasitas dan kapabilitas anak usaha Garuda Indonesia Group dan Pelita Air Service milik Pertamina itu merupakan langkah strategis dan saling menguntungkan.

Demikian diungkapkan Direktur Utama GMF Iwan Joeniarto pada acara penandatanganan Head of Agreement GMF dan IAS di Hanggar 4 GMF kawasan Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (9/1/2019). “IAS punya fasilitas dan kemampuan yang bisa kita manfaatkan untuk menambah kapasitas perawatan pesawat yang kian banyak,” katanya.

Hanggar IAS di Lapangan Terbang Pondok Cabe, Jakarta, merupakan fasilitas MRO (maintenance repair overhaul) yang memiliki akses mudah dijangkau. “Pesawat-pesawat yang akan dirawat lebih leluasa menggunakan hanggar IAS. Kalau di Cengkareng kan bandaranya padat,” kata Sabar Sundarelawan, Direktur Utama IAS.

Kerja sama jangka panjang 10 tahun, bahkan bisa terus diperpanjang itu, kata Iwan, memberikan benefit bagi GMF. “Untuk jangka pendek, kapasitas jadi bertambah, revenue akan naik, serta ada kerja sama pemasaran antara GMF dan IAS yang dapat meningkatkan daya kompetitif kita. Untuk jangka panjang, GMF tak perlu menambah fasilitas baru dan utilitas bisa terus ditingkatkan,” ujarnya.

Sabar memang menyebutkan bahwa pasar perusahaan MRO bukan cuma pelayanan bagi perawatan pesawat terbang, yang menurutnya sudah terukur. Ada pasar lain yang cukup menjanjikan untuk diraih, seperti untuk perawatan mesin gas turbin. GMF dan IAS pun bermitra, salah satunya, untuk mengembangkan kapasitas dan kapabilitas workshop Industrial Gas Turbin Engine (IGTE) milik GMF.

“GMF kan sudah dipercaya sebagai MRO yang pastinya memiliki tingkat lebih tinggi pula dalam perawatan industrial, seperti IGTE,” tutur Sabar. Ditambahkannya, ada sekitar 240 gas turbin yang dioperasikan Pertamina dan ini merupakan pasar yang menjanjikan. Tahun 2019, IAS memang ditargetkan induk usahanya untuk meraup pendapatan sekitar 40 juta dollar AS. Sementara tahun 2018, pendapatannya baru 12 juta dollar AS, 3 juta dollar di antaranya dari pendapatan perawatan pesawat.

“Kerja sama dengan GMF ini merupakan awal langkah kami untuk itu,” ucap Sabar.

Baca juga ini ya...