Sat. Apr 20th, 2019

Kelelahan Pilot Berisiko Alami Obesitas

Personel penerbangan, khususnya pilot, memiliki risiko kelelahan terkait jam terbang, jam kerja, dan lama istirahat. Kelelahan memang dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain, meningkatnya beban kerja, terjaga berkepanjangan, dan kehilangan waktu tidur. Kelelahan juga berpengaruh terhadap obesitas sebagai pangkal dari berbagai penyakit yang menjadi penyebab inkapasitasi dan ujungnya berisiko terhadap keselamatan penerbangan.

Untuk mengkaji hal tersebut, Balai Kesehatan Penerbangan (Hatpen) Ditjen Perhubungan Udara melakukan penelitian tentang “Fatigue Risk Management System (FRMS): Pengaruh faktor risiko kelelahan terhadap obesitas pada personel penerbangan di Indonesia”. Di samping itu, Balai Hatpen juga membuat kajian tentang “Gambaran penyebab inkapasitasi dan penurunan kondisi medis penerbang sipil Indonesia tahun 2016-2017”.

“Idenya berawal dari perhatian kami terhadap kondisi medis personel penerbangan. Kami sampaikan kepada Balai Hatpen tentang pengamatan kami selama ini. Mengapa kondisi medis terkait penyakit jantung dan diabetes melitus telah bergeser dari personel yang berusia di atas 50 tahun menjadi usia 30-40 tahun? Dapatkah kami mengetahui penyebabnya? Apakah mungkin terkait dengan kelelahan? Apakah usaha terbaik yang dapat kita lakukan untuk mencegahnya dan mengurangi faktor risikonya agar kondisi medis personel penerbangan terjaga dengan baik?”

Demikian sambutan Direktur Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Capt Avirianto, yang disampaikan Kepala Balai Hatpen Sri Murani Ariningsih (Rindu) pada acara Publikasi Hasil Kajian FRSM dan Gambaran Penyebab Inkapasitasi di Jakarta, Senin (10/12/2018). Menurut Rindu, kajian yang dilakukan Balai Hatpen ini sebagai bagian dari risk analysis sebagaimana yang diamanatkan ICAO (International Civil Aviation Organization). Tujuannya untuk mengenali faktor risiko kesehatan sejak dini agar dapat mengatasi dan mencegah risiko itu menjadi inkapasitasi.

Ketua Tim Kajian dr. Inne Yuliawati, Sp.KP mengatakan, proses penelitian dilakukan sekitar enam bulan. Pengumpulan data berlangsung 27 Agustus-28 September 2018. “Responden yang bersedia 723 orang, terdiri dari 689 penerbang, 199 pramugari, tujuh Air Traffic Controllers (ATC), dan 27 Flight Operation Officer (FOO),” ujarnya. Penerbang atau pilot itu dibagi berdasarkan lisensinya, yakni 196 berlisensi ATPL (Air Transport Pilot License), 263 CPL (Commercial Pilot License), tujuh PPL (Private Pilot License), dan 25 SPL (Student Pilot License).

Dari hasil kajian itu, lebih dari 20% pilot memiliki BMI (Body Mass Index) di atas 30kg/m2 atau obesitas dan mengalami kelelahan klinis. “Pada seluruh operasi penerbangan, tekanan darah diastolik prehipertensi, kadar kolesterol HDL 25-40mg/dl, kadar gula darah 110-125mg/dl, dan kadar trigliserid 151-200mg/dl terbukti berpengaruh terhadap obesitas, begitu juga jam terbang lebih dari 20 jam dalam tujuh hari pada penerbangan jarak dekat dan menengah,” tutur dr Inne.

Pada kesempatan yang sama, dr. Ferdi Afian, Sp.KP menyampaikan gambaran tentang penyebab inkapasitasi atau beberapa kondisi gangguan fisik dan mental pilot sipil yang disebabkan beberapa faktor. “Penyebab inkapasitasi penerbang sipil tahun 2016-2017 adalah penyakit kardiovaskuler 80% dan sisanya penyakit pulmoner. Faktor risiko terbanyak pada pilot dengan penyebab inkapasitasi penyakit jantung adalah indeks masa tubuh di atas normal atau obesitas (86,6%), profil lipid (66,6%), merokok (60%), dan prehipertensi (60%),” katanya.

Obesitas sebagai biangnya penyakit, kata dr. Reza Oktavianus, Sp.JP, harus dihindari. “Perlu diciptakan budaya hidup sehat untuk mengurangi faktor risiko kesehatan yang menyebabkan obesitas; dengan olah raga, diet seimbang, dan istirahat yang cukup,” ujarnya. Selain itu, perlu budaya kerja yang menciptakan kerja sama yang baik agar saling mengawasi untuk menghindari kelelahan.

Seorang pilot yang menjadi peserta publikasi kajian FRSM itu mengapresiasi kajian-kajian yang dilakukan Balai Hatpen. Katanya, masih banyak rekannya yang merokok dan melakukan gaya hidup tidak sehat. “Mereka tahu risikonya, tapi masih melakukannya. Jadi, kami berharap Balai Hatpen terus dan tak bosan-bosan melakukan kajian-kajian terkait kesehatan penerbang untuk mengingatkan kami,” ujarnya.

Peserta lain, Agus Nugraha, mantan pilot yang sudah berusia 67 tahun mengatakan, pola pikir, pola makan, dan pola hidup, menjadi dasar dari kelelahan serta menjadi penyebab obesitas dan inkapasitasi. “Kalau pola pikir bisa diatasi, tapi pola makan dan pola hidup saat ini beda dengan zaman dulu dan sekarang cukup sulit diatasi,” ucapnya. Belum lagi faktor eksternal, seperti kemacetan di jalan dan kondisi sosial, yang memberi andil penyebab kelelahan seorang pilot.

“Kelelahan dan penurunan kondisi medis merupakan salah satu permasalahan yang saat ini memang banyak dialami personel penerbangan. Besar harapan kami dengan adanya hasil kajian itu dapat memberi informasi mengenai penyebab, dampak, dan langkah preventif demi mencegah terjadinya kelelahan dan inkapasitasi,” ujar Rindu, seraya menambahkan bahwa kajian itu dapat menghasilkan rekomendasi yang merupakan awal tersusunnya peraturan keselamatan penerbangan berdasarkan analisis faktor manusia.

Baca juga ini ya...