Kapan PTDI Jualan Lagi Pesawat Sipil?




Assalamualaikum semua …

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menyerahkan pesawat CN295 kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) di Mako Ditpoludara Korpolairud Baharkam Polri, Pondok Cabe, tadi (7/9/2018) pagi. Ini pesawat sejenis kesepuluh yang diserahkan PTDI kepada pengguna jasanya, sembilan CN295 sebelumnya sudah dioperasikan TNI AU.

TNI dan Polri merupakan pengguna jasa PTDI, sedangkan pasar operator penerbangan sipil belum bisa lagi diraihnya. “Kita mengembangkan N219 sekarang. Itu kan domainnya untuk komersial. Pesawat-pesawat yang kita bikin dari tahun 1980-an dominannya untuk militer. Barang-barang militer kan lebih mahal, secara klasifikasi lebih tinggi. Artinya, kita hidup dari TNI dan juga renstra-nya Kepolisian. Ini yang kita isi gap-nya ke depan dengan pembuatan pesawat 219 yang sipil,” papar Irzal Rinaldi, Direktur Niaga PTDI.

Tahun 1990-an, pesawat-pesawat propeller buatan IPTN (sekarang PTDi) beterbangan di bumi Nusantara. Pesawat CN235 ada 14 unit yang dioperasikan Merpati Nusantara Airlines sebagai “jembatan udara Nusantara”. Ada juga NC212-200 yang selain diterbangkan Merpati, juga perusahaan penerbangan carter.

Sekarang masih ada satu NC212-200 punya TransWisata Aviation (TWA) yang sempat disewa dan dioperasikan Susi Air untuk penerbangan perintis. Bagaimana dengan CN235? Maskapai penerbangan sipil di Indonesia tidak ada yang mengoperasikannya lagi. Produksinya sekarang pun diprioritaskan untuk militer.

Sekarang kita tahu ada ratusan pesawat baling-baling yang beterbangan di Indonesia. Dari yang paling besar, ATR 72, sampai yang kecil, Pilatus Porter. Masih banyak pesawat yang dibutuhkan untuk konektivitas antar-pulau dan ke daerah-daerah terpencil. Jadi, pasarnya memang besar dan seharusnya PTDI berperan.

PTDI pastilah mampu mengembangkan CN235 dan (NC) CN212 versi sipil. Namun siapa yang akan membelinya? Kalau operator kita beli pesawat dari manufaktur luar negeri, lembaga keuangan di negara asal manufaktur siap mendukung dananya. Di sini, siapa yang mau mendukung dana pembelian pesawat dari PTDI?

Untuk menghadirkan CN295 seharga 45juta dollar AS itu saja, Polri menggunakan skema kredit swasta asing (KSA) yang prosesnya sejak tahun 2011. “Kalau menggunakan APBN kita gak mampu beli,” ungkap Komjen Pol. Moechgiyarto, Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan Polri.

Suatu waktu saya juga pernah mempertanyakan, kenapa N250 tak bisa diproduksi dan terjual? “Waktu itu belum ada Rusdi Kirana,” jawab Rusdi Kirana, Pendiri Lion Air Group, entah bercanda, entah serius. Sekarang sudah ada RK, apa N219 Nurtanio bisa terjual?

Foto: Reni




Ayo baca ini juga….