Jalan Melelahkan di Terminal Bandara




Suasana Ruang Tunggu Domestik Terminal 3. Foto: RMS

Assalamualaikum semua …

Perjalanan saya ke Rusia dimulai kemarin (3/10/2018). Tidak naik Aeroflot, maskapai Rusia, dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang ke Bandara Internasional Domodedovo di Moskow, tapi terbang dengan Thai Airways. Jadi, kami transit di Bandara Internasional Suvarnabhumi dan bermalam dulu di hotel transit di Bangkok.

“Kita nggak terbang dari Terminal 2 lagi. Thai sudah pindah ke Terminal 3 per Mei (2018).”

“Wah, jalannya jauh nggak ya? Cape, mbak!”

“Kalau berangkat di terminal internasional, nggak jauh. Domestik iya ada yang jauh kalau jalan sampai gate 20-an. Pulangnya, di internasional ya jauh juga.”

Begitu percakapan di chat grup teman-teman seperjalanan. Beberapa teman yang sering terbang dengan Garuda Indonesia memang mengeluhkan melelahkannya jalan menuju pintu keberangkatan dan kepulangan di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Padahal betapa jauhnya juga pintu keberangkatan dan kedatangan di bandara-bandara internasional lainnya. Sebut Bandara Internasional Changi di Singapura, Bandara Internasional Incheon di Korea Selatan, atau Bandara Internasional Suvarnabhumi, walau jauh tapi tak terasa melelahkan.

Pandangan subjektif? Bisa jadi. Namun keluhan dari seorang pengguna jasa bandara pun patut dikaji. Kenapa? Apa yang harus diubah?

Satu lagi. Di Terminal 3 internasional itu, setelah melewati imigrasi tak banyak restorannya, beda dengan di domestik. Teman yang lapar kecele. Jadinya, beli dan makan burger saja.