Ini Hasil Penelitian untuk Optimalkan Bandara Kertajati




Pesawat Boeing 737-800NG Garuda Indonesia ketika mendarat di Bandara Internasional Kertajati pada 24 Mei 2018. Foto: Reni Rohmawati
Pesawat Boeing 737-800NG Garuda Indonesia ketika mendarat di Bandara Internasional Kertajati pada 24 Mei 2018. Foto: Reni Rohmawati

Setelah diresmikan Presiden Joko Widodo pada 24 Mei 2018, sampai saat ini baru Citilink Indonesia yang terbang reguler dan Lion Air yang terbang carter umroh dari Bandara Internasional Kertajati (KJT). Bandara yang megah dan luas ini akan mubazir jika tidak segera dilakukan langkah-langkah strategis untuk mengoptimalkan operasionalnya.

Demikian disampaikan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan (Balitbang Perhubungan) Sugihardjo pada Focus Group Discussion (FGD) “Optimalisasi Pengoperasian Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati” di Bandung, Jumat (26/10/2018). “Dengan luas dan fasilitasnya yang sedemikian itu, Kertajati memang menjadi idle capacity,” ujarnya.

Dalam FGD itu dipaparkan hasil penelitian Pusat Litbang Udara Balitbang Perhubungan, yang disampaikan peneliti Eny Yuliawati. Dikatakannya, ada lima poin krusial untuk optimalisasi Bandara Kertajati. Pertama, konektivitas berupa kemudahan akses transportasi dari dan ke bandara.

“Untuk itu, Bandara Kertajati harus menyediakan fasilitas transportasi antarmoda dari dan ke bandara, seperti bus atau shuttle, juga kereta. Namun perlu diperhatikan pula waktu tempuh, travel cost yang terjangkau, serta kemudahan dan pelayanan perjalanannya,” papar Eny.

Sekjen INACA (asosiasi perusahaan penerbangan nasional) Tengku Burhanuddin yang menjadi salah seorang pembahas menyarankan agar pengelola Bandara Kertajati berani mengajukan usul kepada gubernur atau pejabat setingkat menteri, bahkan sampai Presiden. “Apalagi sekarang tahun politik, saat yang tepat untuk mempercepat pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan,” ucapnya.

Poin kedua adalah branding melalui karakteristik yang unik. Bandara Kertajati harus fokus dalam membidik pangsa pasarnya. Kata Eny, fokus pada penerbangan kargo misalnya, mengandalkan kedekatan wilayah bandara dengan pelabuhan Internasional Patimban di Subang. Contoh lain adalah membidik pasar umroh ataupun haji dengan mengembangkan rute langsung ke Madinah dan Jeddah.

Sejak 13 Oktober 2018, Lion Air memang sudah menerbangkan jemaah umroh ke Madinah, walaupun bersifat carter seminggu sekali. Kata Managing Director Lion Air Group Capt Daniel Putut Kuncoro Adi, penerbangan carter umroh ini akan ditambah menjadi dua atau tiga kali seminggu. “Banyak travel agent yang datang pada kami sejak penerbangan perdana umroh dari Kertajati itu,” katanya.

Peserta FGD Bandara Kertajati. Foto: Reni Rohmawati.
Peserta FGD Bandara Kertajati. Foto: Reni Rohmawati.

Rupanya, Garuda Indonesia yang pada tahun 2019 akan mendatangkan pesawat Airbus A330neo pun akan terbang umroh dari Kertajati. Hal ini disampaikan Capt Dodi Kristanto, yang jadi pembahas dari Garuda pada FGD tersebut.

Kertajati pun bisa bekerja sama dengan maskapai penerbangan untuk mengembangkan bandara. Eny mencontohkan, seperti Bandara Dubai yang bekerja sama dengan Emirates atau KLIA 2 dengan AirAsia. Di samping itu, kawasan Kertajati bisa dikembangkan menjadi aerocity berbasis industri maju.

Poin ketiga adalah menciptakan iklim bisnis yang kondusif dalam mengembangkan konsep kawasan aerocity. Iklim kondusif ini berupa pembentukan kemitrausahaan sejak dini agar peruntukan areanya dikembangkan sesuai kebutuhan mitra usaha yang terlibat.

Menurut Direktur Operasi dan Pengembangan Bisnis PT BIJB Agus Sugeng Widodo, pihaknya sudah menyiapkan lahan 3.400 hektare untuk aerocity, sementara untuk bandara 1.050 hektare. “Kawasannya sangat luas, sampai mepet ke tol Cipali,” ujarnya. Di kawasan itu sudah direncanakan pula untuk membangun asrama haji dan umroh,” ucapnya.

Direktur Komersial dan Pengembangan Bisnis PT Angkasa Pura (AP) II Daan Achmad juga mengatakan, kawasan sekitar bandara harus dikembangkan agar Kertajati hidup. “Penumpang datang itu bukan karena bandaranya bagus tapi karena profiling area-nya memiliki daya tarik,” ucapnya. Kertajati Aerocity bisa menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Jawa Barat, khususnya Ciayumajakuning (Cirebon-Indramayu-Majalengka-Kuningan).

Poin keempat adalah menjadi secondary airport dalam multiairport system. Peran Kertajati menjadi bandara kedua atau alternatif dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta atau Bandara Internasional Halim Perdanakusuma dengan membidik potensi pasar kabupaten-kabupaten di Jawa Barat.

Puslitbang Udara juga mengusulkan agar AP II diberi peran penuh dalam pengoperasian Bandara Kertajati. Dengan demikian, AP II dapat mengelola distribusi traffic share dalam wadah multiairport system, yang mencakup Bandara Internasional Husein Sastranegara, Soekarno-Hatta, dan Halim. AP II bersama BIJB saat ini merupakan dua entitas yang mengelola Bandara Kertajati dengan masa kerja sama 17 tahun.

Bandara Soekarno-Hatta disebut sudah mencapai tingkat utilisasi 250%. Hal ini menjadi peluang dan tantangan bagi Bandara Kertajati. Eny pun menyampaikan hasil survei “preferensi penumpang”, yang 16% penumpang di Soekarno-Hatta yang berasal dari Bandung dan Cirebon menyatakan bahwa perpindahan penumpang ke Kertajati memungkinkan asalkan travel time dan travel cost memadai, serta tersedia rute-rute penerbangannya.

Menurut Daan, secondary airport itu tidak bisa dipaksakan. Soekarno-Hatta pun, kata dia, masih memiliki technical slot yang bisa digunakan. Dia pun mempertanyakan soal sharing capacity airport. “Next, kalau bikin airport harus duduk bersama, termasuk dengan Pertamina juga,” ujarnya.

Poin kelima adalah mengelola potensi pasar penumpang angkutan udara. Untuk ini diperlukan riset pasar yang dapat menggambarkan daya beli masyarakat yang berada dalam catchment area Bandara Kertajati. Selain itu juga bisa dilakukan identifikasi potensi industri dan perdagangan untuk melihat potensi permintaan penumpangnya.

Hal tersebut memang perlu dilakukan karena sampai saat ini penumpang Citilink yang terbang tiap hari Bandara Kertajati-Bandara Internasional Juanda, Surabaya, load factor-nya masih rendah, rata-rata 39%. Padahal waktu uji coba sewaktu terbang ekstra Lebaran pada Juni 2018, rata-rata load factor penumpangnya 83,92% dengan tarif rata-rata Rp360.000-an.

“Kami akan stop terbang satu-dua hari nanti pada akhir Oktober, tapi akan terbang lagi kemudian. Bahkan November 2018, Citilink juga akan terbang ke Kualanamu,” kata Agus Irianto, Vice President Revenue Management Citilink Indonesia.

Bandara Kertajati sebenarnya sudah siap untuk menerima banyak penerbangan. AP II sudah menyediakan seluruh prasarana operasionalnya, bahkan bersama BIJB memperpanjang landasan sampai 3.000 meter. AirNav Indonesia juga sudah menyiapkan fasilitas pemandu lalu lintas udara dengan prosedur PBN (Performance Based Navigation).

“Rencana instalasi ILS (Instrument Landing System) di runway 14 akan dilaksanakan setelah landasan pacu 3.000 meter selesai,” kata Ari Subandrio dari AirNav Indonesia.

Ditjen Perhubungan Udara juga sudah memberi kemudahan izin rute penerbangan di luar lampiran surat izin usaha angkutan udara. “Izin rute penerbangan pun bisa dilakukan secara online,” ujar Anung Bayumurti, Kepala Subdit Bimbingan Usaha dan Tarif Jasa Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara.

Selain enam pembicara dengan moderator Kepala Puslitbang Udara Balitbang Perhubungan, M Alwi, juga ada sembilan pembahas dari maskapai penerbangan, akademisi, ASITA, dan Kementerian Pariwisata. Pada akhir FGD, Sugihardjo menyimpulkan bahwa semua pihak sepakat untuk mengoptimalkan Bandara Kertajati.

“Untuk optimalisasi Bandara Kertajati tak berhenti pada FGD saja, tapi perlu tim kecil untuk membahas bagaimana action plan sesuai dengan clustering permasalahannya,” ucap Sugihardjo.




Ayo baca ini juga….