INACA Menyambut Lion Air Group




Boeing 737-900ER Lion Air. Foto: Joe Roland S Bokau.
Boeing 737-900ER Lion Air. Foto: Joe Roland S Bokau.

Assalamualaikum semua …

Rapat Umum Tahunan Anggota INACA (Indonesia National Air Carriers Association) kali ini lebih menarik. Pasalnya, Lion Air Group (Lion Air, Wings Air, Batik Air, juga Lion Bizjet) bergabung lagi di asosiasi perusahaan penerbangan-perusahaan penerbangan nasional ini. Pendiri Lion Air Group yang sekarang menjadi Duta Besar RI di Malaysia, Rusdi Kirana pun hadir pada pembukaannya di Jakarta, Kamis (25/10/2018) pagi.

“Lion Air Group kembali jadi anggota INACA,” kata I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, Ketua Umum INACA yang baru, yang juga Direktur Utama Garuda Indonesia.

Askhara kabarnya mengajak Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait, (Edo) sebagai kenalan baiknya, untuk bergabung dengan INACA lagi. Edo rupanya bersedia dan hadir pula pada rapat tahunan itu. Sebelumnya, kalau ditanya kenapa tidak menjadi anggota INACA, Edo mengatakan bahwa suara dan pandangan INACA seringkali berbeda dengan Lion Air Group.

Hampir lima tahun –sejak Novermber 2013– Lion Air Group tak menjadi anggota INACA. Sejak itu pula, kalau INACA mengajukan usul, saran, atau imbauan, Lion Air Group tak ikut campur. Apalagi soal tarif batas bawah, yang pandangannya tidak sepaham. Jadi, kata Askhara, dengan masuknya lagi Lion Air Group, usulan INACA bisa lebih bulat dan kuat. Soal tarif batas bawah pun INACA belum akan mengotak-atiknya lagi.

Askhara juga mengatakan, maskapai bergabung dalam INACA tidak untuk mencampuri urusan bisnis masng-masing, tapi bersinergi. “Tadi pak Rusdi mengatakan, di sini kita akan melakukan share services dan centralize procurement, seperti simulator, agar cost bisa turun,” ucapnya.

Ditambahkannya bahwa INACA dengan suara bulat ingin lebih intensif berkomunikasi dengan para pemangku kepentingan lain, terutama dengan regulator, pengelola bandara, dan pemasok bahan bakar (Pertamina). Tentang pengenaan tarif-tarif di bandara misalnya, INACA ingin aktif memberikan masukan, tidak asal menerima. Begitu juga dengan Pertamina, agar negosiasi tidak dilakukan masing-masing, tapi secara bulat dari asosiasi.

Hal menarik lainnya adalah tentang Ketua Umum INACA. Kata Sekjen INACA Tengku Burhanuddin, ketua adalah seorang direktur utama perusahaan penerbangan, baik yang reguler, carter, maupun kargo. Periode jabatannya tiga tahun (atau empat tahun?) dan bisa dua periode, setelah itu harus diganti dulu.

Kalau melihat yang menjabat Ketua Umum INACA sejak tahun 2013, juga menarik. Pada rapat umum tahunan anggota INACA di Surabaya pada November 2013, terpilih M. Arif Wibowo, yang saat itu Dirut Citilink Indonesia, menggantikan Emirsyah Satar yang Dirut Garuda Indonesia.

Pada 12 Desember 2014, Arif menjadi Dirut Garuda, menggantikan Emirsyah. Ketua Umum INACA tetap Arif, bukan Dirut Citilink yang baru, saat itu Albert Burhan. Arif pun dikukuhkan sebagai Ketua Umum INACA periode 2015-2018. Namun 12 April 2017, Arif diganti Pahala Nugraha Mansury, yang kemudian juga menjadi Ketua Umum INACA. Pada 12 September 2018, Pahala digantikan Askhara, yang kemarin dikukuhkan pula sebagai Ketua Umum INACA. Pada masa tersebut, Lion Air Group memang bukan lagi anggota INACA

Menurut Ketua Penerbangan Carter INACA yang juga CEO Whitesky Aviation Denon Prawiraatmadja, Garuda menjadi pilihan anggota INACA karena perusahaannya besar dan BUMN. Dirutnya memiliki akses dan koneksi yang luas pula. “Kalau perusahaannya kecil dan dirutnya tidak dikenal pula, siapa kamu? Kan begitu,” katanya.

Namun, kata Tengku, dirut maskapai apapun bisa menjadi Ketua Umum INACA asal dipilih anggota dan terpilih. “Pasti anggota memilih yang sosoknya bisa mewakili suara INACA, bukan sekadar ketua-ketua-an,” ujarnya.




Ayo baca ini juga….