Mon. Apr 22nd, 2019

Harga Tiket

Apron Terminal 1 Bandara Soekarno Hatta. Foto: Reni Rohmawati.

Assalamualaikum semua …

Pada Lebaran kemarin, maksudnya Idul Fitri 1439H, pemerintah mengingatkan penumpang, kalau ada penyimpangan harga tiket agar melaporkannya. Ada beberapa laporan, kata pihak Ditjen Perhubungan Udara, tapi setelah ditelusuri tak ada maskapai penerbangan yang melanggar tarif batas atas.

Teman saya yang sering bolak-balik Jakarta-Malang menanyakan, berapa sebenarnya tarif batas atas untuk rute itu. Katanya, pada musim padat penumpang itu harga tiket sangat tinggi, lebih dari dua kali lipatnya dari yang biasa ia beli. Biasanya ia beli Rp500.000-an, tapi pada libur Lebaran sampai Rp1,2juta.

Tak ada penumpang yang tahu pasti, berapa sebenarnya tarif batas atas setiap rute penerbangan. Penumpang tahunya dari “biasanya ia beli” atau “kata teman yang pernah”. Kata teman saya itu, bagaimana kalau di bandara dituliskan tarif resmi pemerintah untuk setiap rute? Misalnya di T1A Bandara Soekarno-Hatta, ditampilkan tarif batas atas untuk rute-rute penerbangan Lion Air ke berbagai bandara lain yang diterbanginya dari sana.

Boleh juga idenya, walaupun pihak pengelola bandara harus jeli menempatkan tayangan urutan tarif itu. Kan sekarang era digital, kenapa tidak dimanfaatkan? Ohya, pemerintah bisa menyosialisasikan lebih intensif lagi kepada masyarakat, apa alamat untuk kita bisa membuka daftar tarif penerbangan itu. Kalau memang ada di situsnya.

Pihak Ditjen Perhubungan Udara pernah mengatakan akan mengkaji ulang penetapan tarif penerbangan itu. Katanya, bisa dengan menaikkan tarif batas bawah agar rentangnya dengan batas atas tak terlalu besar. Sekarang ini batas bawahnya 30% dari batas atas. Namun, katanya lagi, pihaknya akan diskusi lebih intensif lagi dengan maskapai penerbangan.

Secara psikologis, rentang antara tarif batas atas dan batas bawah yang besar memang mengundang pertanyaan. Kalau batas atasnya Rp2juta misalnya, batas bawah hanya Rp600.000. Kalau kita biasanya beli tiket suatu rute penerbangan hanya Rp600.000, kemudian pada masa sibuk Rp1,8juta karena batas atas untuk LCC 90%-nya dari tarif batas atas, bedanya Rp1,2juta. Bedanya saja dua kali lipatnya ya.

Solusinya, bagaimana? Hukum pasar memang begitu. Jika masyarakat sudah sejahtera dan konsumen mendapat hak selayaknya, barangkali hal-hal tersebut tak akan menjadi masalah dan dipermasalahkan.

 

Baca juga ini ya...