Garuda Berupaya Pulihkan Penerbangan Internasionalnya




Dirut Garuda Indonesia melihat kondisi operasional penerbangan Garuda di T3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Foto: Reni Rohmawati

Penerbangan internasional Garuda Indonesia cukup terdampak negatif akibat dari penutupan Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali dan Bandara Internasional Lombok di Lombok. Ditambah lagi dengan adanya kendala karena penurunan kinerja sistem penjadwalan kru penerbangan yang menyebabkan penundaan dan pembatalan penerbangan pada 1-3 Desember lalu.

“Pengaruhnya adalah beberapa penumpang internasional melakukan pembatalan penerbangan. Untuk ini kita lakukan mitigasi dengan mengadakan extra flight dan mengomunikasikan bahwa mereka bisa melakukan re-scheduling dan re-routing,” ungkap Pahala Nugraha Mansury, Direktur Utama Garuda Indonesia di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jumat (8/12/2017).

Menurut Pahala, jika para penumpang penerbangan internasional itu ragu akan kondisi di Indonesia, khususnya Bali dan Lombok, mereka bisa mengomunikasikannya. “Kementerian Pariwisata juga perlu menyampaikan kepada masyarakat internasional bahwa kondisi Indonedia baik-baik saja; aman-aman saja,” ujarnya.

Pahala menambahkan, “Kita mohon bantuan untuk menyampaikam kepada publik bahwa sangat aman melakukan perjalanan ke Indonesia. Yang mungkin sebelumnya ada travel warning bisa mencabut warning itu. Betul-betul wisatawan yang melakukan perjalanan ke Indonesia bisa merasa aman.”

“Semua pihak otoritas bisa bersama-sama bersinergi untuk bersikap proaktif bahwa kondisi penerbangan itu aman. Penutupan bandara di Bali dan Lombok beberapa waktu lalu pun kita tidak lihat pengaruhnya dengan pariwisata di Bali dan Lombok,” papar Pahala.

Sewaktu terjadi “krisis” beberapa hari lalu, kinerja operasi dan keuangan Garuda memang sempat terganggu. Dalam empat hari itu, rata-rata ada 40 pembatalan penerbangan per hari dan penundaan, yang seluruhnya sekitar 620 penerbangan terganggu.

Untuk penundaan bagi penumpang domestik, mengharuskan perusahaan mengeluarkan uang kompensasi Rp300.000 per penumpang, yang dibayar oleh asuransi. Namun dampak yang signifikan adalah kompensasi bagi penumpang internasional, berupa diinapkan dan dicarikan penerbangan lain, yang nilainya cukup tinggi. Komposisi pendapat Garuda saat ini, kata Pahala, 52 persen lebih dari penerbangan domestik dan 47 persen lebih dari internasional.

“Untuk melihat kondisi keuangan itu, kami masih melakukan perhitungan,” ucap Pahala. Namun, kata dia, kondisi jumlah penumpang dari Januari sampai dengan akhir tahun nanti masih normal dan memastikan pada musim sibuk akhir tahun kembali beroperasi normal. “Kita pastikan selama peak season itu semua berkorelasi dan melayani secara baik, serta target penjualan bisa tercapai.”

Maka Pahala beserta Direktur Layanan Nicodemus P Lampe melakukan pengecekan ke Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta hari Jumat itu. “Pertengahan Desember ini memasuki masa high season, sementara peak season baru mulai satu minggu ke depan. Paling tidak kita memastikan kondisi operasional mendekati peak season karena kami menyadari dengan kondisi operasional minggu lalu. Kami ingin memohon maaf kalau ada yang mengalami kendala waktu itu,” kata Pahala.

Garuda terus mengupayakan peningkatan capaian on time performance (OTP) dengan memastikan kendala teknis operasional dapat terselesaikan dengan baik. Kendala teknis itu termasuk hal hal terkait penyesuaian assignment crew dan pesawat dalam sistem yang telah diantisipasi dengan melakukan peningkatan system performance serta mitigasi pada pengoperasian sistem tersebut. Saat ini Garuda terus mencatatkan tren peningkatan OTP, yang rata-rata kisarannya di atas 90 persen.




Ayo baca ini juga….