Mon. Mar 25th, 2019

Soal Boeing 737 MAX-8, Hasil Inspeksi dan Investigasi Tunggu Airworthiness Directive dari FAA

Regulator penerbangan sipil Indonesia dalam hal ini Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan masih menunggu arahan kelaikudaraan (airworthiness directive) dari Federal Aviation Administration (FAA), juga Boeing Co. dan National Transportation Safety Board (NTSB) AS, untuk menindaklanjuti hasil inspeksi terhadap Boeing 737 MAX-8.

“Intinya, kami ingin mendapatkan keyakinan tentang rekomendasi dari FAA terkait aspek safety dari 737 MAX-8 tersebut,” kata Polana B Pramesti, Dirjen Perhubungan Udara dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Menurut Polana, setelah kejadian JT 610 (29/10/2018), Boeing membuka diri. “Mereka stand by kalau ada pertanyaan ataupun klarifikasi,” jelasnya, seraya menambahkan, “Tadi saya bersurat ke FAA menanyakan follow up CANIC (Continued Airworthiness Notification to the International Community) tersebut.”

Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Ditjen Perhubungan Udara Capt Avirianto mengatakan, sampai saat ini FAA dan Boeing, juga NTSB, masih mendalami kecelakaan Lion Air JT 610 (29/10/2018) untuk bisa memberikan awareness directive. Hasilnya akan dikeluarkan pada 12 April 2019.

“Mungkin nanti ada modification manufactur. Kami nanti akan memberikan pernyataan positif dengan grounded karena banyak negara merespons. Mungkin proses inspeksi atau evaluasi untuk investigasi bisa secepatnya. Mudah-mudahan ada informasi baru, sehingga kita bisa memberikan informasi yang lebih matang,” tutur Avirianto.

Pada kesempatan yang sama, Managing Director Lion Air Group Capt Daniel Putut Kuncoro Adi menjelaskan, “Sejak kemarin (12/3/2019) pesawat kami telah dilakukan pemeriksaan. Sudah tiga pesawat. Pemeriksaannya detail dan check list-nya banyak. Internal kami juga melakukan penyeldikan dan pemeriksaan sampai dengan apa yang menjadi ketentuan FAA. Yang terkait dengan software ataupun peralatan di pesawat diperiksa.”

Menurur Daniel, Lion Air yang mengoperasikan 10 pesawat Boeing 737 MAX-8 secara operasional tidak banyak terpengaruh. “Kami mengoperasikannya ke Tiongkok dan Arab. Sekarang lagi low season, jadi masih bisa di-back up. Kami memiliki 114 pesawat,” ujarnya.

Lion Air sudah memesan seri MAX-8 sebanyak 218 unit dan MAX-9 empat unit –seluruh MAX-9 dioperasikan ThaiLion Air dan rencananya akan dihentikan sementara pengoperasiannya mulai besok (14/3/2019). Terkait pemesanan ini, masih menunggu hasil investigasi dari Boeing dan NTSB pada kecelakaan JT 610 (29/10/2018), juga Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Tahun 2019, ada empat unit yang akan diterima Lion Air, tapi masih menunggu hasil investigasi.

“Pada 6 November 2018, Boeing juga sudah mengeluarkan operation manual bulletin, bagaimana awak pesawat menyelesaikan masalah operasional. Lalu terjadi kecelakaan Ethiopian Airlines (10/3/2019). Kami pun menambahkan pertanyaan kami, supaya kami mendapat jaminan bahwa kita bisa mengoperasikan 737 MAX-8 dengan berhasil,” ungkap Daniel.

Sikap Garuda Indonesia yang sudah memesan 50 unit Boeing 737 MAX-8 tapi baru mengoperasikan satu pesawat juga sama dengan Lion Air; menunggu keputusan yang dikeluarkan FAA dan Boeing. Rencana kedatangan MAX-8 selanjutnya mulai tahun 2020.

“Sampai saat ini kami masih menunggu. Belum ada pembicaraan yang lain,” ujar Capt Bambang Adisurya Angkasa, Direktur Operasi Garuda Indonesia, ketika ditanyakan apakah pesanan akan dilanjutkan atau diganti jenis lain, bahkan berganti produksi pabrikan Airbus?

Polana pun menegaskan, “Kami terus komunikasi dengan FAA dan Boeing agar yakin bahwa MAX-8 itu airworthy karena kami consern tehadap keselamatan.”