Sun. Feb 17th, 2019

Purwarupa Kedua N219 Nurtanio Sukses Lakukan Debut Terbang

Purwarupa kedua pesawat N219 Nurtanio telah sukses melakukan debut uji terbangnya, Jum’at (21/12/2018). Penerbangan pesawat yang dikembangkan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) ini mengudara sekitar 20 menit.

Dalam penerbangan uji pesawat tersebut, Kepala Pilot Uji PTDI, Capt. Esther Gayatri Saleh berperan sebagai Pilot in Command (PIC), sementara Capt. Ervan Gustanto sebagai First Officer (FO).

Selain itu, penerbangan pun mengikutsertakan Yustinus Kus Wardana dan Adriwiyanto sebagai Flight Test Engineer (FTE), untuk memastikan setiap tahapan pengujian terbang dilaksanakan berjalan sebagaimana mestinya.

Purwarupa kedua N219 lepas landas dari landasan pacu Bandara Husein Sastranegara pukul 07.50 WIB. Rute penerbangan dilakukan di atas Waduk Saguling, Kabupaten Bandung Barat menuju ke arah Sukabumi. Usai terbang sesuai rute, pesawat kemudian kembali ke bandara awal dan mendarat sekitar pukul 08.10 WIB.

Diakui Esther, ada perbedaan yang dirasakan saat menerbangkan purwarupa pesawat kedua N219.

“Jauh lebih baik dari yang pertama, karena kita punya data-data dari yang pertama. Tentunya ada improvement lebih besar di sini, salah satunya flight control improvement,” jelasnya.

Diungkapkan Kepala Divisi Pusat Teknologi PTDI, Palmana Banandhi, PTDI menggunakan dua purwarupa pesawat untuk mempercepat proses sertifikasi uji terbang. Dia menyebutkan, kedua purwarupa pesawat memiliki misinya masing-masing.

Purwarupa pesawat pertama N219 Nurtanio akan menjalani serangkaian pengujian. Antara lain menyelesaikan pengujian kinerja dan uji struktur. Sedangkan purwarupa kedua akan digunakan untuk pengujian sistem seperti sistem avionik, sistem kelistrikan, kontrol penerbangan dan propulsi atau tenaga penggerak.

“Dengan penggunaan dua prototype sebagai wahana sertifikasi uji terbang, maka seluruh kegiatan flight test bisa dioptimalkan karena tidak hanya bertumpu pada satu pesawat. Ini memungkinkan bisa tercapai Type Certificated di tahun 2019,” tegasnya.

Selain dua purwarupa untuk uji terbang, PTDI juga akan menyiapkan dua purwarupa lainnya untuk digunakan sebagai wahana fatigue test dan static test. PTDI akan melakukan 3000 cycle fatigue test untuk bisa mendapatkan Type Certificated di tahun 2019, sehingga di tahun yang sama bisa siap memasuki pasar.

Perusahaan menyebutkan, ada beberapa calon pelanggan perdana, salah satunya adalah Pemerintah Daerah Kalimantan Utara.

Pada awal produksi akan dibuat 6 unit pesawat N219 dengan menggunakan kapasitas produksi yang saat ini tersedia. Selanjutnya PTDI akan melakukan upgrading fasilitas produksi dengan sistem otomasi pada sistem pembuatannya.

Dengan demikian, secara bertahap kemampuan pengiriman akan terus meningkat hingga mampu memproduksi 36 unit per tahun.

Pesawat N219 Nurtanio juga dikembangkan untuk mendukung program jembatan udara seperti regulasi Presiden nomor 70 tahun 2017 mengenai “Penyelenggaraan Kewajiban Pelayanan Publik Untuk Angkutan Barang Dari Dan Ke Daerah Tertinggal, Terpencil, Terluar, Dan Perbatasan”.

Pesawat N219 Nurtanio juga sangat relevan dengan kondisi alam di Indonesia, yang pada umumnya berbukit-bukit dan terdapat banyak pegunungan. Pesawat N219 Nurtanio memiliki kecepatan maksimal mencapai 210 knot, dan kecepatan terendah mencapai 59 knot.

Artinya, kecepatan cukup rendah namun masih bisa terkontrol. Hal ini sangat penting, terutama saat memasuki wilayah yang bertebing-tebing, di antara pegunungan yang membutuhkan pesawat dengan kemampuan manuver dalam kecepatan rendah.