Sun. Feb 17th, 2019

Pengoperasian Bandara Tjilik Riwut Kini Diserahkan ke AP II

Pengoperasian Bandara Tjilik Riwut yang terletak di Palangkaraya, Kalimantan Tengah kini diserahkan ke Angkasa Pura II (AP II) yang sebelumnya dipegang Kementerian Perhubungan.

Penyerahan pengoperasian tersebut dilakukan setelah dilakukannya penandatanganan perjanjian kerja sama pemanfaatan (KSP) barang milik negara pada Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Tjilik Riwut antara Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B Pramesti dengan Direktur Utama AP II,  Muhammad Awaluddin yang disaksikan langsung Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi di Jakarta, Rabu (19/12/2018).

“Di satu sisi, negara tidak perlu mengeluarkan APBN, (karena) bandara ini AP II yang melakukan pengeambangan dengan belanja modal yang akan datang,” kata Budi dalam pidato sambutannya.

Menurutnya, selain bisa menghemat APBN dan meningkatkan pelayanan bandara, penyerahan pengoperasian ini juga dimaksudkan agar pemerintah fokus terhadap tugas utamanya sebagai regulator, bukan operator.

Dia pun berharap dengan dukungan dana dari AP II, pembangunan di Bandara Tjilik RIwut bisa cepat terselesaikan sesuai target, serta memenuhi persyaratan keselamatan, keamanan dan kemanan pelayanan penerbangan.

Pada kesempatan yang sama, Polana dalam laporannya menyampaikan bahwa terciptanya kerja sama ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional, dengan mengoptimalkan potensi daerah-daerah di wilayah Kalimantan Tengah.

“Kerja sama ini diharapkan dapat menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara, baik untuk berkunjung maupun berinvestasi di Palangkaraya,” imbuhnya.

Polana menyebutkan, terkait dengan aset yang dikerjasamakan pada Bandara Tjilik Riwut ini, nilai totalnya mencapai angka Rp3,68trilliun.

Aset tersebut berupa sebidang tanah seluas 3.882.950 m2; peralatan dan mesin dengan jumlah 3.104 unit; gedung dan bangunan sejumlah 81 unit; jalan irigasi dan jaringan sejumlah 74 unit; aset tetap lainnya sejumlah 9 unit; aset tidak berwujud selumlah 5 unit.

Awaluddin menyebutkan, kebutuhan pengembangan Bandara ini kurang lebih senilai RP483miliar. Pekerjaan pertama yang mendesak adalah pembangunan teeminal baru.

“Selanjutnya prioritas kita pengoperasian terminal baru paling tidak di triwulan pertama 2019 sudah bisa,” ujarnya.