Sun. Feb 17th, 2019

Menumbuhkan Minat Dirgantara Sedari Dini

Assalamualaikum semua …

Empat hari lalu (19/1/2019), saya.menulis: “Apa itu pesawat swayasa dan bagaimana Pondok Cabe menyimpan kenangan itu? Nanti kita bahas ya, setelah besok datang ke Pondok Cabe.”

Saya memang datang ke Pondok Cabe pada Minggu (20/1/19). Ada hanggar baru yang dibangun Indonesia Flying Club (IFC) untuk bernaung beberapa pesawat swayasa, seperti Jabiru, dan pesawat latih Cessna 172. Namun kegiatannya masih belum seramai awal tahun 1990-an.

Pada tahun 1987 mulai dirintis adanya pesawat swayasa di Indonesia. Awal tahun 1990-an sudah ada 30 pesawat home built itu dan terus bertambah sampai akhir 1990-an. Pondok Cabe adalah saksi kegiatan terbang yang rutin dilakukan pesawat-pesawat swayasa itu.

Kenapa swayasa? Waktu itu dijawab para pelakunya, di antaranya Frank Reuneker, Herudi, Hertriono, dan Saryanto Sarbini bahwa melalui kegiatan swayasa kekurangan manusia kedirgantaraan bisa terjawab karena kegiatannya mendukung. Kekurangan pilot, teknisi, dan tenaga aeronautika lainnya, sedikitnya bisa terisi.

Merakit pesawat memang membutuhkan keterampilan teknologi pesawat yang bisa memberikan peluang bagi yang mau belajar. Dari sini pula minat dirgantara akan tumbuh, bahkan membuahkan cinta yang mendalam.

Ada memang sekolah formal, seperti STPI Curug dan sekolah-sekolah pilot swasta, yang bisa menumbuhkan kecintaan itu. Namun seberapa banyak orang yang mampu mengeluarkan biaya yang besar untuk mengikuti pendidikan yang mahal itu?

Djubair OD, perakit pesawat glider dan swayasa era 1990-an, mengatakan bahwa menumbuhkan minat dirgantara itu lebih efektif lewat kegiatan nonformal. Katanya,TNI AU melakukan hal itu dengan menumbuhkan minat sejak dini lewat kegiatan FASI (Federaai Aero Sport Indonesia).

Sekarang diakui masih banyak pilot ab initio yang belum berkarier sesuai profesinya. Di klub-klub dirgantara yang nonformal mereka bisa diwadahi dulu. Di sini kegiatan kedirgantaraan tak berhenti, sehingga mereka tidak menjadi pesimis.

Bahkan di situ pula mereka bisa lebih mengenal dunia dirgantara dengan lebih membumi. Mereka dituntut untuk mengenal mesin pesawat, merawat jam terbang, pun mendorong pesawat keluar-masuk hanggar.

Salut bagi mereka yang terus bertahan untuk memberi warna pada kedirgantaraan Indonesia. Langit kita memang masih terbentang tanpa batas.