Mon. Mar 25th, 2019

Kenapa Terbang ke Tasik Bukan Cilacap?

Assalamualaikum semua …

Kenapa terbang ke Tasikmalaya, bukan ke Cilacap? Begitu beberapa cuitan di twitter IndoAviation.co.id, menanggapi tulisan tentang Garuda Indonesia yang membuka penerbangan Palembang-Jakarta (Halim)-Tasikmalaya pada 2 Maret 2019.

Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Ashkara menyebut, pasar penerbangan Tasikmalaya cukup besar, yakni sekitar 30.000 penumpang per tahun. Lagi pula, katanya, pihaknya berkomitmen untuk membuka rute penerbangan di kawasan wilayah ekonomi baru, seperti Tasikmalaya, dalam mendorong geliat potensi ekonomi daerah.

Bagaimana dengan Cilacap? Akhir tahun 1990-an, penerbangan komersial ke Bandara Tunggul Wulung di Cilacap mulai dibuka oleh Merpati Nusantara Airlines dari Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta. Pasarnya cukup menjanjikan karena ada mobilitas pekerja di pengeboran minyak. Namun aktivitas bandara tidak terus berkembang.

Tiga-empat tahun ke belakang, penerbangan di Cilacap mulai ramai kembali karena ada lima sekolah pilot yang berlatih. Dengan begitu, pasar penerbangan komersialnya pun mulai menggeliat lagi. Rute Halim-Tunggul Wulung pun kemudian diterbangi oleh Susi Air dengan pesawat Cessna Caravan. Ada juga penerbangan carter reguler Pelita Air dengan ATR 72-600, juga dari dan ke Halim.

Belakangan penerbangan di Cilacap meredup lagi. Aktivitas sekolah pilot berkurang dan mobilitas pekerja tambang pun tak seramai sebelumnya. Masyarakat pun lebih suka naik kereta api, apalagi harga tiket penerbangannya seringkali sangat tinggi, bisa sampai Rp1,5juta.

Barangkali beda dengan Tasikmalaya dengan Bandara Wiriadinata-nya, yang pada 27 Februari 2019 terminal baru dan beberapa fasilitas bandara diresmikan Presiden Joko Widodo. Sebelumnya Walikota Tasikmalaya Budi Budiman begitu gigih untuk membuka penerbangan komersial ke kotanya.

“Duabelas tahun kami berjuang untuk menjadikan Wiriadinata sebagai bandara dengan penerbangan komersial,” kata Budi, yang dengan dukungan anggota Komisi V DPR RI Nurhayati akhirnya keinginan itu terujud.

Budi dan jajarannya memang bersemangat untuk mengembangkan Bandara Wiriadinata. Bersama jajarannya, ia mendatangi beberapa maskapai penerbangan agar mau terbang ke Tasikmalaya. Kota Tasikmalaya dan sekitarnya (Kabupaten Tasikmalaya, Garut, Ciamis, Banjar) disebut memiliki potensi ekonomi yang besar.

Pertama direspons positif oleh Lion Air Group, yang membuka penerbangan perdana dengan Wings Air pada 1 Juli 2017. Awal tahun 2019, Garuda pun dibujuk Walikota Tasikmalaya dan sebelumnya, NAM Air. Presiden Jokowi memang menyatakan, tahun ini tiga maskapai terbang ke Tasikmalaya.

Di sisi lain rupanya ada yang mempertanyakan, kenapa Garuda yang terbang ke Tasikmalaya, bukan Citilink Indonesia, anak usahanya, atau NAM Air, anak usaha Sriwijaya Air, yang sudah bergabung dalam grupnya? Padahal sudah ada selentingan kalau pesawat ATR 72-600 Garuda akan dioperasikan Citilink. Strategi apa yang dilakukan manajemen Garuda, yang katanya tidak strategis itu?