Tue. Jul 16th, 2019

Karyawan Garuda Jualan Tiket

Assalamualaikum semua …

Seluruh karyawan Garuda Indonesia Group diinstruksikan untuk menjual tiket. Alasannya, baru 30% saja penduduk Indonesia yang melek internet, sedangkan sebagian besar; 70%-nya, masih membutuhkan bantuan untuk membeli tiket penerbangan.

Menarik mendengar pernyataan Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Askhara pada acara Public Expose akhir tahun 2018 di Jakarta, Jumat (21/12/2018) itu. Selain tentang karyawan Garuda yang “harus” jualan tiket, katanya, Garuda bukan lagi jago kandang. “Buktinya, sekarang kita adakan acara di kafe,” ucapnya. Acara memang diadakan di Atjeh Connection, bukan lagi di Garuda City Center.

Ari menyampaikan kalau perseroan secara berkelanjutan melaksanakan transformasi human capital dari sisi sumber daya manusia (SDM). Ini dilakukan, katanya, dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada para pelanggan. “Bagaimana membuat para pegawai happy, sehingga dapat meningkatkan pelayanan kepada customer. Kami percaya pegawai yang happy dapat menunjang kualitas produktivitas perseroan,” ujarnya.

Lantas saya tanya kakak saya yang karyawan Garuda. “Iya, betul. Kalau sampai poin tertentu baru dapat bonus,” katanya. Padahal dulu kalau saya minta dibelikan tiket –mudah-mudahan saja dapat yang murah– malah dapatnya mahal. Maka akhirnya saya beli sendiri lewat internet.

Ari pun mengatakan, karyawan akan mendapatkan reward jika bisa menjual tiket. Mekanismenya seperti apa dan nanti realisasinya bagaimana, memang belum ada karena baru dimulai. Kalau yang dicontohkannya. “Beli tiket ke Bali, dong?” Kemudian seorang karyawan membantunya melalui aplikasi di smartphone-nya. “Tiket langsung diterima pelanggan,” ujar Ari. Tidak ada harga tambahan atau apa pun, semuanya sesuai dengan harga tiket yang dipesan lewat aplikasi itu.

Apa karyawan happy diberi tugas untuk jualan tiket? Pasti ada yang happy, pasti pula ada yang tidak happy. Apakah arti dari “happy” bagi karyawan Garuda? Bonuskah?

Pengalaman saja. Waktu kami yang bekerja sebagai jurnalis diminta pula untuk mencari iklan, ada pergulatan batin yang sulit dikompromikan. Dipaksakan untuk berdamai karena perusahaan membutuhkan, tapi hasilnya tidak optimal. Bahkan produktivitas dan kualitas sebagai jurnalis kian menurun. Akhirnya perusahaan tak lagi membebani jurnalis untuk itu.