Sun. Feb 17th, 2019

Cinta Dirgantara untuk Tumbuhkan Airmanship

Assalamualaikum semua …

Cinta dirgantara? Itu yang disebut-sebut ulang Djubair Oemar Djaya, ketika ia menanyakan, apa yang bisa ia tulis untuk masyatakat. Bagaimana agar ia memberi motivasi bagi generasi muda untuk mencintai dirgantara?

Mencintai itu perlu beberapa bekal yang harus dimiliki segala sesuatu yang disukai atau dibutuhkan oleh yang dicintai. Siapa yang dicintai? Di sini, yang dicintai itu adalah dirgantara.

Segala sesuatu yang disukai atau dibutuhkan oleh dirgantara itu berada pada anak-anak yang mendapat karunia dari Allah swt berupa minat, talenta, atau potensi. Aspek-aspek ini yang sejak dini harus dieksplorasi, disemaikan, dipupuk , dan ditumbuh-kembangkan. Lantas disediakan ruang dan arena serta difasilitasi secara khusus.

Masalah fondamental yang pertama dijamah adalah airmanship karena air safety berangkat dari sini. Di ruang dan arena itulah, seperti Pondok Cabe, Cibubur, Lido, Puncak, dan beberapa tempat yang jumlahnya tak banyak di luar Jawa, jamahan airmanship itu bisa dilakukan dengan intensif.

Begitu yang ditulis Djubair, pemegang rekor duration flight pada kejuaraan terbang layang atau gliderdengan catatan waktu 12 jam 10 menit itu. Waktu itu, 20 Agustus 1975 di Pacitan, Jawa Timur, ia lepas landas dengan glider pada pukul 07.00 dan mendarat pukul 19.10 WIB. Rekor yang luar biasa!