Empat Strategi Maskapai Meraup Untung Dibalik Konsep LCC




Dalam moda transportasi angkutan udara ada tiga konsep kelas layanan penerbangan yang ditawarkan maskapai, yakni low cost carrier (LCC) atau penerbangan berbiaya hemat, full service, atau premium service. Berbeda konsep layanan, maka berbeda pula harga tiket pesawat, fasilitas dan layanan yang diberikan.

Dua konsep terakhir tentu sangat berbeda dengan konsep yang pertama. Maskapai yang mengusung penerbangan LCC dari segi harga tiket akan lebih murah namun dengan fasilitas dan pelayanan yang terbatas. Lalu, bagaimana cara maskapai dengan penerbangan berbiaya hemat ini meraup untung?

Seorang pengamat penerbangan, Alvin Lee mengungkapkan, setidaknya ada empat strategi jitu maskapai LCC dalam meraup untung.

“Dalam satu pesawat dibuat all economy sehingga jumlah penumpang yang diangkut itu lebih banyak,” kata Alvin menukil kompas.com, Senin (26/11/2018).

Ia menjelaskan, kalau diperhatikan, jarak antarkursi depan dan belakangnya itu lebih sempit. Bagi maskapai LCC, jarak kursi yang dipersempit merupakan salah satu strategi perusahaan meraup keuntungan. Karena dengan jarak antarkursi yang dipersempit, pesawat bisa menampung lebih banyak penumpang.

Volume penumpang merupakan hal yang penting bagi maskapai LCC, sebab akan sangat berpengaruh kepada pemasukan maskapai. Sebaliknya, bila ada kursi kosong, maskapai bisa merugi.

Dengan demikian, mengoptimalkan utilitas pesawat menjadi salah satu strategi yang digunakan maskapai LCC.

Perlu dicatat, strategi pengoptimalan utitilitas ini bukan hanya mempersempit jarak antarkursi penumpang, namun juga bisa dengan memaksimalkan utilitas bagasi pesawat.

“Tempat bagasi (pesawat) sekaligus dimanfaatkan mengangkut kargo. Itu ada tambahan penghasilan dari sana,” ungkap Alvin.

Strategi lainnya, maskapai LCC sebisa mungkin mengoperasionalkan armada pesawat mereka untuk diterbangkan di atas 15 jam dalam sehari, atau paling tidak 8-10 penerbangan dalam sehari.

Untuk mamaksimalkan operasional pesawat, maskapai LCC juga mempercepat waktu jeda antara satu penerbangan dan penerbangan lain. Dalam arti, maskapai mengatur waktu menurunkan penumpang dan waktu angkut penumpang dibuat hanya 30-35 menit.

Menurut Alvin, hal ini tentu akan menimbulkan risiko. dijelaskannya, bila satu saja jadwal penerbangan delay, jadwal penerbangan lainnya bisa ikut terkena dampak delay. Inilah yang membuat penerbangan maskapai LCC memiliki potensi delay.

Walau pengoptimalan dilakukan, Alvin memastikan, tak ada toleransi terhadap aspek keselamatan penerbangan.

Menurutnya, standar keselamatan antara maskapai LCC, full service, maupun premium service semuanya sama. Artinya bila pesawat dinyatakan tidak layak terbang karena tidak memenuhi standar penerbangan, pesawat tersebut tetap tidak diizinkan untuk terbang tanpa pandang bulu.




Ayo baca ini juga….