Diguncang Gempa Lombok Layanan Navigasi Penerbangan Tetap Normal




Operasional penerbangan di Bandara Internasional Lombok tetap normal pasca gempa bumi yang terjadi di Lombok. Foto. gloopic.net

Layanan navigasi penerbangan yang vital dalam operasi penerbangan tetap berjalan normal di Bandara Internasional Lombok (BIL) setelah diguncang gempa berkali-kali. Peralatan navigasi pun sudah dinyatakan laik setelah dilakukan safety assessment dan beroperasi dengan baik.

“Sehari setelah diguncang gempa pertama, tim teknis peralatan navigasi sudah datang ke Lombok untuk melakukan safety assessment. Hasil pemeriksaan itu, peralatan navigasi serta gedung dan tower tetap bisa berfungsi dengan baik,” kata Novie Riyanto, Direktur Utama Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau AirNav Indonesia ketika ditemui di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Sabtu (11/8/2018).

Seperti diketahui, gempa bumi berkekuatan 6,4 pada skala richter (SR) mengguncang Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Minggu (29/7/2018) pukul 06.47 WITA. Gempa susulan terjadi pula setelahnya, walaupun tidak berkekuatan besar. Pada 5 Agustus 2018 sekitar pukul 18.46 WITA, Lombok kembali diguncang gempa, bahkan dengan guncangan lebih besar, 7,0 SR dan berpotensi tsunami.

Belum berhenti, Lombok dan sekitarnya kembali diguncang gempa berkekuatan 6,2 SR pada Kamis (9/8/2018) pukul 13.25 WITA. Gempa susulan pun terus terjadi sampai dengan 13 Agustus 2018. Korban meninggal dunia sampai saat itu mencapai lebih dari 437 orang.

“Pada saat gempa, petugas kami, terutama yang di tower, sempat keluar dari tempat mereka bertugas. Apalagi di tower yang tinggi, guncangannya sangat kencang,” ucap Novie. Tower BIL yang terlihat langsing memang setinggi hampir 50 meter, lebih tinggi dari tower Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di Bali yang setinggi 39 meter.

Namun setelah gempa mereda, kata Novie, petugas AirNav kembali bertugas. Operasi penerbangan di BIL pun berjalan dengan baik. “Akses melalui bandara sangat dibutuhkan untuk membantu korban gempa,” tutur Novie. Para petugas evakuasi dan petugas medis, juga bantuan logistik, datang dari berbagai wilayah di Indonesia, terutama dari Jakarta dan kota-kota besar lainnya, memang menggunakan pesawat terbang.

“Saat ini bukan hanya BIL, Bandara Selaparang juga dioperasikan untuk bantuan logistik. Pesawat-pesawat TNI AU, seperti C295 dan Hercules, jyga helikopter, terbang membawa barang-barang keperluan sehari-hari dan makanan, juga peralatan medis, untuk membantu korban gempa. Kami bekerja sama dengan petugas ATC TNI AU untuk navigasi penerbangan di Selaparang,” ungkap Novie.

Setelah bandara komersial dipindahkan ke BIL di Lombok Praya, Bandara Selaparang di Mataram tidak lagi beroperasi komersial. Bandara yang sebelumnya dikagumi wisatawan, terutama wisatawan mancanegara karena bersih dan apik, serta memiliki taman yang cantik, dioperasikan oleh TNI AU. Selain penerbangan militer, Selaparang juga digunakan oleh sekolah pilot dan pehobi olahraga dirgantara.

Layanan navigasi penerbangan dari AirNav Indonesia Cabang Lombok sampai saat ini memang berjalan secara normal. Ditegaskan pula oleh Sekretaris Perusahaan AirNav Indonesia, Didiet KS Radityo bahwa setelah pihaknya melakukan pengecekan secara teliti dan mendalam, layanan navigasi penerbangan tetap dapat diberikan secara prima oleh AirNav Indonesia Cabang Lombok.

Didiet menjelaskan, “Kami akan terus melakukan pengaturan lalu lintas penerbangan yang terbaik, termasuk pengaturan slot penerbangan kembali sekiranya dibutuhkan akomodasi terhadap kondisi-kondisi mendesak.”

Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan juga memberikan perhatian dan mengawasi operasional penerbangan yang terjadi di Lombok dan sekitarnya. Pelaksana Tugas Dirjen Perhubungan Udara, M Pramintohadi Sukarno mengatakan, layanan operasional penerbangan harus dilaksanakan semaksimal mungkin dengan mengacu pada aturan tentang keselamatan dan keamanan penerbangan.

Selain Lombok, gempa bumi berkekuatan 5,2 SR terjadi juga di barat daya Kabupaten Malang pada 8 Agustus 2018 siang. Namun operasional Bandara Abdul Rahman Saleh di Malang dan Bandara Blimbingsari di Banyuwangi tetap beroperasi normal.

Pramintohadi meminta agar pengelola bandara, AirNav, dan maskapai penerbangan melakukan tugas masing-masing sebaik mungkin. Pengelola bandara dan navigasi diminta secepatnya melakukan penanganan jika mengalami dampak akibat gempa. Sementara maskapai diharapkan agar selalu berkomunikasi dengan penumpang tentang perkembangan operasional penerbangan terbaru.

“Dengan penanganan yang cepat dan komunikasi yang baik, pelayanan terhadap penumpang pesawat bisa berjalan lancar dan nyaman,” ucap Pramintohadi.

Sumber foto: gloopic.net dan antaranews




Ayo baca ini juga….