Bolehkah Pesawat Penumpang Angkut Barang Beraroma Menyengat?




Cargo siap muat ke dalam pesawat.
Cargo siap muat ke dalam pesawat.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perhubungan Udara, M. Pramintohadi Sukarno meminta kepada pihak maskapai penerbangan dan pengelola bandara agar mengacu pada SOP yang berlaku. Hal ini dimaksudkan untuk penanganan dan pengangkutan kargo atau barang-barang beraroma menyengat agar tidak mengganggu kenyamanan penumpang.

“Membawa durian, terasi, ikan asin dan barang berbau menyengat ke pesawat memang tidak dilarang, karena durian tidak termasuk kategori dangerous goods. Namun dalam penanganannya ada SOP dan harus mengacu pada SOP tersebut,” kata Pramintohadi.

Pramintohadi menjelaskan, kehadiran bandara di suatu wilayah untuk memudahkan masyarakat membawa hasil bumi dan komoditas di daerah tersebut ke daerah lain menjadi lebih cepat. Sebagai contoh salah satu komoditas dari daerah Bengkulu, Durian. Komoditas itu diangkut dengan pesawat sejak tahun 2015.

“Salah satu tujuan dibangunnya bandara adalah membantu masyarakat untuk bisa mengangkut hasil bumi di daerah mereka secara cepat dan ringkas. Boleh saja mengangkut komoditi seperti durian, terasi, ikan asin dan barang lain yang mempunyai bau khas dan menyengat,” ujarnya.

Namun, lanjut Pramintohadi, yang harus diperhatikan adalah proses pengemasannya sampai dengan loading kargo tersebut ke bagasi pesawat.

Harus sesuai dengan SOP yang berlaku, jangan sampai penumpang merasa tidak nyaman dengan bau-bauan yang ditimbulkan,” tegas Pramintohadi.

Pada kesempatan dan lokasi berbeda, Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Fatmawati Sukarno, Anies Wardhana, menjelaskan kejadian pengangkutan durian dengan pesawat Sriwijaya SJ-091 rute Bengkulu-Jakarta Senin (5/11/2018) kemarin.

Pesawat disebutkan membawa 2.025 kg durian dalam kemasan khusus. Namun aromanya tercium hingga ke kabin pesawat. Aroma tersebut menimbulkan ketidaknyamanan terhadap penumpang lainnya.

“Memang benar pesawat Sriwijaya yang membawa durian, dalam hal ini pihak Sriwijaya sudah menyampaikan kronologis kejadiannya. Untuk mengatasi agar kejadian ini tidak terulang lagi, kami sudah berkoordinasi dengan Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah VI Padang,” jelas Anies.

Rencananya, kata Anies, tim akan melakukan evaluasi terkait tata cara pengemasan dan proses loading cargo yang mempunyai aroma khas agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan terhadap penumpang lain.

Selanjutnya, hasil evaluasi tersebut akan disosialisasikan bersama oleh UPBU Fatmawati Bengkulu, Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah VI Padang dan pihak Sriwijaya, termasuk pihak shipper terkait penanganan dan pengangkutan barang-barang yang mempunyai aroma khas.




Ayo baca ini juga….