Big Jump! Keselamatan Penerbangan Indonesia di Atas Rata-Rata Dunia




Agus Santoso (kiri) - Dirjen Perhubungan Udara. Foto: RMS.

Lompatan besar dicapai penerbangan sipil Indonesia dalam pemenuhan standar keselamatan hasil audit USOAP (Universal Safety Oversight Audit Programme) ICAO tahun 2017. Big jump dengan skor 81,15 persen melampaui 96 negara dibandingkan capaian pada tahun 2014. Wow… luar biasa!

Prestasi ini pun diapresiasi Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pada pembukaan Rapat Kerja Kementerian Perhubungan Tahun 2017 di Jakarta, Kamis (16/11). “Memang masih banyak hal yang perlu perbaikan, tapi saya mengapresiasi hasil yang baik dan yang sudah melakukan upaya terbaik,” katanya. Di antara yang berprestasi itu, disebutkan keberhasilan Ditjen Perhubungan Udara bersama para operator yang mendapat apresiasi dari ICAO.

Hasil audit ICAO (International Civil Aviation Organization) perihal pemenuhan standar keselamatan penerbangan di Indonesia melampaui angka rata-rata dunia yang 64,71 persen. “Perjuangan yang luar biasa. Sejak tahun 2007, waktu kondisi penerbangan jatuh, FAA turun menjadi kategori 2. Complying pada safety hanya 54 persen. Ini juga yang menjadi alasan Uni Eropa banned penerbangan Indonesia,” tutur Agus Santoso, Dirjen Perhubungan Udara, pada Forum Diskusi Kerja Bersama Mencapai Penerbangan Dunia di Jakarta, Kamis (16/11/2017).

Menurut Agus, perbaikan yang dilakukan kemudian belum membuahkan hasil, hingga tahun 2014 bahkan skor turun hanya 45,33 persen dan tahun 2016 pun hanya 51,61 persen. Walaupun pada tahun lalu, peringkat FAA (Federal Aviation Administration) AS naik kembali menjadi Kategori 1. Dua tahun lalu, dari 191 negara anggota ICAO, Indonesia ada di peringkat 151. “Kita ada di peringkat 40 dari bawah, tapi sekarang kita di peringkat 55 dunia,” ujarnya.

Paparan hasil audit keselamatan penerbangan oleh ICAO.

Agus menambahkan, ada delapan area yang diaudit dan prinsip kerja bersama menjadi suatu kunci untuk mancapai hasil terbaik. Audit ICAO yang dlakukan pada 10-18 Oktober lalu memberi pelajaran berharga agar regulator dan operator selalu siap dan memenuhi standar keselamatan. Bandara yang diaudit waktu itu adalah Bandara Kualanamu di Medan, begitu pula otoritas bandaranya yang ada di Kualanamu. Sementara untuk operator penerbangan pengaudit memilih Lion Air dan Indonesia Air Asia X yang diaudit mereka. “Satu minggu kita persiapkan untuk audit itu karena mereka memang yang memilihnya. Padahal kita sudah siapkan Soekarno-Hatta dan Garuda untuk diaudit,” ungkapnya.

Hasilnya memang sudah diprediksi bakal melampaui nilai rata-rata pemenuhan standar keselamatan penerbangan internasional. Namun hasil yang memuaskan dengan skor 81,15 persen merupakan lompatan besar.

Agus pun mengingatkan bahwa yang terpenting adalah untuk mempertahankan bahkan meningkatkan lagi pemenuhan standar keselamatan itu. Para operator terkait, yakni bandara (airport), maskapai penerbangan (airline), pemandu lalu lintas udara (air navigation), dan manufaktur pesawat (aircraft manufacture) diharapkan terus bekerja bersama untuk memperoleh hasil terbaik. Seperti yang pernah diungkapkannya usai dilantik menjadi Dirjen Perhubungan Udara pada 24 Februari 2017 bahwa “together better” menjadi prinsip kerjanya.

“Pencapaian ini menjadi tonggak untuk terus siap dan mempertahankan bahkan meningkatkan standar keselamatan penerbangan di Indonesia,” tegas Agus.




Ayo baca ini juga….