Mon. May 20th, 2019

Bersepakatlah untuk Memajukan Penerbangan Nasional

Assalamualaikum semua …

Sudah saling bekerja samakah semua sektor, termasuk kementerian, untuk memajukan industri dan bisnis penerbangan nasional? Tampaknya masih belum. Faktanya, sewaktu hangatnya perbincangan tentang tarif penerbangan, belum ada solusi yang menenangkan semua pihak.

Maskapai penerbangan “sepakat” akan menurunkan tarif penerbangan. Kata “sepakat” pun dijadikan inisiatif untuk membuka perkara baru yang dicetuskan KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) sebagai dugaan kartel dan akan dilakukan penelitian.

Penurunan tarif sampai 50%, yang disebut bisa dilakukan karena dukungan stakeholder pengelola bandara dan navigasi penerbangan menurunkan biaya, kurang tepat. Biaya-biaya dari sektor itu hanya 3%-nya dari biaya operasional penerbangan.

Biaya yang besar adalah dari avtur, sewa pesawat termasuk perawatan, dan kru penerbangan. Ini bisa mencapai lebih dari 80%-nya. Kalau avtur dan sewa pesawat murah, juga gaji kru rendah, wow … margin maskapai langsung melesat.

Tentu saja itu tak mungkin karena avtur serta sewa dan perawatan pesawat terkait dengan forex (foreign exchange) yang fluktuatif. Gaji kru juga karena standarnya tinggi, ya layak nominalnya tinggi juga.

Mengejutkan pula kemudian muncul kabar, maskapai harus bayar utang avtur kepada Pertamina. Soalnya ribut-ribut banyak pihak “menyalahkan” avtur yang mahal. Dibukalah rahasianya, kalau selama ini pembayaran avtur itu sering ditunggak.

Bagaimana industri dan bisnis penerbangan bisa maju kalau masih saling menyalahkan dan kurang peduli untuk mencari solusi? Para ahli, pakar, dan petinggi, yang hebat dalam seluk-beluk industri dan bisnis penerbangan pasti punya solusi. Jadi, kapan kita bersepakat untuk memajukan industri dan bisnia penerbangan sipil nasional?

Itulah hasil bincang-bincang dengan mereka yang peduli penerbangan sipil nasional tadi (24/1/2019) siang sambil ngopi di Cikini, Jakarta.

Baca juga ini ya...