Bandara Kertajati, Serba Baru yang Masih Sepi




Terminal Bandara Kertajati masih sepi. Foto: Reni Rohmawati.
Terminal Bandara Kertajati masih sepi. Foto: Reni Rohmawati.

Assalamualaikum semua …

Kita tentu bangga punya Bandara Internasional Kertajati di Jawa Barat. Walau kini bandara ini belum benar-benar membanggakan, tapi sepertinya tetap tak memudarkan kebanggaan kita.

Kertajati adalah bandara yang dibangun betul-betul baru. Bukan bandara pindahan, seperti Bandara Kualanamu pindahan dari Bandara Polonia di Medan, Bandara Minangkabau pindahan dari Bandara Tabing di Padang, atau Bandara Internasional Lombok pindahan dari Bandara Selaparang di Mataram. Ini bandara besar pertama di Indonesia, bahkan langsung berstatus bandara internasional, yang dibangun baru –bandara yang dibangun baru biasanya bandara-bandara kecil.

Bandara Kertajati dikelola dua entitas: PT BIJB (Bandara Internasional Jawa Barat) dan PT Angkasa Pura II. Total investasinys mencapai Rp4,8triliun. Bahkan pemodalnya adalah 11 bank syariah di Indonesia, yang mencapai Rp1,5triliun.

“Yang terbesar juga bukan bank syariah di Jawa Barat, tapi dari Jawa Tengah,” kata Agus Sugeng Widodo, Direktur Operasi dan Pengembangan Strategi Bisnis PT BIJB pada Lokakarya Forum Wartawan Kementerian Perhubungan (Forwahub) bekerja sama dengan Biro Komunikasi dan Informasi Publik (BKIP) Kementerian Perhubungan di area terminal keberangkatan Bandara Kertajati, Jumat (2/11/2018).

Namun sampai saat ini, operasionalnya masih belum membanggakan. Hampir enam bulan sejak diresmikan Presiden Joko Widodo pada 24 Mei 2018, operasional penerbangannya masih sangat minim. Pergerakan pesawatnya baru 16 kali dengan pergerakan penumpang sekitar 1.500 orang per minggu. Jumlah pergerakan penumpangnya –kalau ingin tahu perbandingannya– hanya sekitar 0,1%-nya dari pergerakan penumpang Bandara Soekarno-Hatta.

Kalau mendengar paparan dari Agus, sejumlah strategi telah diterapkan manajemen BIJB untuk mengoptimalkan operasional Bandara Kertajati. Ada pemberian insentif bagi maskapai penerbangan dan promosi bersama lewat media sosial dan media masa. BIJB juga memberi diskon bagi penyewa ruang di terminal dan mengurangi pembagian pendapatan penjualannya. “Sebenarnya ruang-ruang ini sudah ada penyewanya, tapi mereka menunggu ada penumpang pesawat,” katanya.

BIJB juga bekerja sama dengan ASITA (Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies) dan PHRI (Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia), juga pihak-pihak lain untuk mencari penumpang pesawat terbang. “Kata mereka, mana pesawatnya? Maskapai yang mau terbang di Kertajati juga tanya, mana penumpangnya? Nah, ini persoalan mana yang lebih dulu; bebek apa telur?” ucap Agus.

Pemerintah kota dan kabupaten di sekitar Bandara Kertajati juga diajak urun rembug. Namun rupanya masih ada pejabat daerah yang tak tahu keberadaan bandara baru ini. Padahal bandara ini bisa sangat mendukung pertumbuhan ekonomi di Ciayu Majakuning (Cirebon Indramayu Majalengka Kuningan). BIJB pun berupaya untuk meningkatkan kesadaran terhadap keberadaan Bandara Kertajati.

Kegiatan atau penyelenggaraan acara menarik sudah pula dilakukan, seperti Kertajati Funbike. Ikut berpartisipasi juga pada Linggarjati Fair. “Agar orang-orang tertarik ke sini. Bisa lihat-lihat atau membuka pameran di sini agar masyarakat tahu. Bisa foto-foto juga,” tutur Agus.

Upaya yang dilakukan itu mungkin belum terlihat dampak positifnya. Agus bilang, kendala utama yang menyebabkan sepinya Bandara Kertajati karena Bandara Husein Sastranegara di Bandung masih operasional. “(Bandara di) Bandung belum ditutup karena tol Cisumdawu juga belum jadi. Kalau (bandara di) Bandung sudah ditutup maka permasalahan Kertajati akan selesai semua,” ungkapnya.

Namun, Husein sebaiknya tidak ditutup, walaupun nanti Kertajati jadi bandara utama di Jawa Barat. Bandung yang sejak lama dicanangkan sebagai kota dirgantara dengan sejarah yang sarat kedirgantaraan memang sayang kalau menutup Husein sebagai bandara komersial. Barangkali bisa menjadi bandara untuk general aviation dan kegiatan wisata dirgantara juga.

Direktur Utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin juga pernah berujar kalau akan ada pemilahan operasional penerbangan di Husein dan Kertajati. Kalau pasar penerbangan ke destinasi Bandung sudah kuat, memang sebaiknya dipertahankan.




Ayo baca ini juga….