Regulator Optimis Keselamatan Penerbangan Indonesia di Atas Rata-Rata Dunia




Diskusi tentang Aviation Safety Indonesia di Ditjen Perhubungan Udara. Foto: Reni Rohmawati.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Agus Santoso, optimis akan pencapaian pemenuhan (compliance) terhadap protokol keselamatan penerbangan Indonesia usai dilakukannya Audit Keselamatan Penerbangan (USOAP, Universal Safety Oversight Audit Programme) oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO, International Civil Aviation Organisation). Audit secara langsung (on-site) atau proses ICVM (ICAO Coordinated Validation Mission) ini dilakukan pada 10-18 Oktober lalu, setelah audit dokumen (off-site) pada September 2017.

“Kita optimis mendapatkan poin penilaian di atas rata-rata dunia,” kata Agus Santoso di Jakarta, Rabu 18 Oktober 2017.  Namun Agus tidak mau menyatakan kemungkinan nilai yang akan diperoleh dari hasil audit tersebut sebelum diumumkan secara resmi oleh ICAO pada Desember 2017.

Keyakinan akan memperoleh nilai keselamatan penerbangan (aviation safety) yang lebih baik itu didasarkan atas langkah-langkah perbaikan yang sudah dilakukan oleh jajaran Ditjen Perhubungan Udara dari awal tahun 2017 hingga saat ini.

“Pada tahap off-site hingga 10 September lalu kita sudah berhasil memenuhi 417 dari 421 temuan atau finding Protocol Questions (PQs) yang ada pada tahun sebelumnya. Hasilnya telah dikirimkan oleh NCMC (National Continous Monitoring Coordinator) pada ICAO HQ melalui OLF (Online Frame Work) CMA. Untuk itulah saya optimis hasil dari on-site juga akan tinggi karena apa yang kita laporkan (off-site) sama dengan apa yang kita kerjakan (on-site),” papar Agus.

ICAO memang sudah beberapa kali melakukan audit USOAP di Indonesia. Pada tahun 2007, hasil audit ICAO hanya terpenuhi 54,95 persen. Tahun 2014 dilakukan lagi audit dengan hasil yang lebih buruk, yakni hanya terpenuhi 45,33 persen. Tahun 2016 audit ICAO juga tak mencapai hasil yang diharapkan, hanya terpenuhi 51,41 persen (off-site validation). Nilai pemenuhan itu masih di bawah rata-rata dunia dengan passing grade 64,71 persen.

“Performa yang cuma terpenuhi rata-rata 50 persen itu justru menjadi cambuk yang mendorong kami untuk berbuat lebih baik lagi. Kami berpikir agar hasil audit keselamatan penerbangan itu tembus di atas rata-rata nilai dunia internasional,” tutur Agus, yang menjabat sebagai Dirjen Perhubungan Udara sejak Februari 2017.

Pihaknya pun membentuk tim yang solid antara regulator dengan operator. Langkah-langkah yang dilakukan yakni diskusi aktif progresif dengan ICAO Regional untuk pemenuhan setiap area audit untuk perbaikan temuan Indonesia sesuai dengan standar ICAO. Ada delapan area yang menjadi fokus ICVM, yaitu Legislation (LEG), Organization (ORG), Personnel Licensing (PEL), Airworthiness (AIR), Operations (OPS), Air Navigation (ANS), Aircraft Investigation (AIG), dan Aerodromes (AGA).

Ditjen Perhuhungan Udara juga melakukan perbaikan berbagai regulasi yang terkait dengan keselamatan penerbangan sipil, seperti Peraturan Menteri (PM), Civil Aviation Safety Regulation (CASR), Peraturan Dirjen (KP), Staf Instruction (SI), dan Advisory Circular (AC). Begitu pula dengan organisasi yang diperbaiki sesuai rekomendasi dari ICAO.

“Kami melakukan review progress rutin dua kali seminggu sebagai upaya memenuhi compliance yang dipersyaratkan dalam ICAO itu,” ucap Agus.

Menurut Agus, selama delapan hari tim audit ICAO yang jumlahnya delapan orang melakukan audit lapangan. Bukan cuma seluruh kantor dan personel Ditjen Perhubungan Udara, tapi juga operator penerbangan dan bandara, navigasi penerbangan, KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi), Basarnas, BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika) yang diaudit.

“Maskapai yang diaudit adalah AirAsia Indonesia X dan Lion Air, sedangkan bandaranya Kualanamu di Deli Serdang,” ucap Agus.

Hasil audit USOAP ICAO itu, kata Agus, mencerminkan kepatuhan penerbangan Indonesia terhadap perturan yang dikeluarkan. “Ini menjadi parameter bagaimana suatu negara mengelola penerbangannya,” ujarnya, yang yakin hasil audit USOAP ICAO tentang aviation safety di Indonesia kali ini  akan lebih baik, bahkan di atas rata-rata passing grade dunia.




Ayo baca ini juga….