Angkutan Udara Lebaran 2018 Aman dan Lancar




Angkutan udara pada masa sibuk Lebaran tahun 2018 dinilai baik dan lancar. OTP Batik Air dan Garuda Indonesia merupakan yang tertinggi selama masa sibuk Lebaran itu dengan rata-rata di atas 90 persen. Foto: Reni Rohmawati

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengapresiasi kinerja baik pada angkutan udara selama masa sibuk Lebaran tahun 2018. Jumlah penumpangnya hampir 6 juta orang, meningkat 5,35 persen dibandingkan jumlah penumpang tahun 2017. Tingkat ketepatan waktu (OTP, on time performance) penerbangan rata-rata 78,12 persen, naik dari rata-rata harian yang 74,88 persen.

“Meski sudah baik, tapi kita jangan berpuas diri. Untuk angkutan udara yang sudah meningkatkan kualifikasinya, tetap harus terus meningkatkan safety. Di beberaoa daerah yang masih belum sempurna, harus ditingkatkan safety-nya,” ujar Budi dalam apel penutupan Posko Tingkat Nasional Angkutan Lebaran Terpadu Tahun 2018 di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Senin (25/6/2018).

Budi mengungkapkan, ada suatu perkembangan yang positif pada penyelenggaraan angkutan Lebaran tahun 2018 ini. Jumlah pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi menurun dan beralih ke angkutan umum atau massal. Maka pihaknya mendorong operator transportasi untuk terus memperbaiki pelayanan. Menurutnya, pola pelayanan pada moda udara dan kereta api bisa menjadi contoh dan diterapkan untuk moda laut dan bus.

Dari hasil pengamatan pada moda udara, total jumlah penumpang domestik dan internasional di 36 bandara selama H-8 hingga H+7 tercatat 5.933.945 orang, melampaui prediksi 5.870.823 penumpang atau naik 1,08 persen. Rinciannya, realisasi penumpang domestik 5.061.297 orang dan internasional 872.648 orang.

Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso mengatakan, masa angkutan Lebaran yang selesai pada hari Minggu (24/6/2018) menghasilkan dampak yang positif bagi operasional penerbangan nasional. Pihaknya mencatat, kesuksesan yang ditorehkan moda transportasi udara itu, di antaranya terkait OTP yang membaik, dipatuhinya batasan tarif batas atas, dan menurunnya laporan pilot terkait balon udara di lintasan pesawat.

“Upaya yang kita lakukan, antara lain, edukasi kepada masyarakat untuk melakukan reservasi jauh hari sebelum keberangkatan, penyederhanaan pola rotasi pesawat, serta penyediaan informasi tentang jadwal keberangkatan di bandar udara, membuahkan hasil yang positif,” ujar Agus.

OTP terbaik dibukukan oleh Batik Air dengan 91,33 persen, disusul oleh Garuda Indonesi 90,23 persen dan Citilink Indonesia 86,4 persen. Selanjutnya adalah Indonesia AirAsia dengan OTP 85,46 persen, NAM Air 85,39 persen, TransNusa 82,95 persen, Indonesia AirAsia Extra 82,27 persen, Sriwijaya Air 76,28 persen, Express Air 70 persen, Wings Air 69,76 persen, Lion Air 64,32 persen, Susi Air 50,18 persen, dan Trigana Air 40,06 persen.

Untuk penerapan tarif, kata Agus, tidak ada Badan Usaha Angkutan Udara Nasional Berjadwal (BUAUNB) yang menerapkan tarif di atas 100 persen dari tarif batas atas sesuai kelompok pelayanan dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 14 Tahun 2016. Tidak ada pula maskapai penerbangan berjadwal yang menerapkan biaya tambahan berupa asuransi perjalanan, pesanan makanan, pilihan tempat duduk tertentu dengan tambahan layanan seperti makanan dan minuman dan lain-lain yang tidak sesuai dengan Surat Persetujuan Menteri Perhubungan.

Soal balon udara, pada 14-22 Juni 2018 ada 106 laporan pilot (pilot report) yang tersebar di wilayah udara Ponorogo, Pekalongan, Wonosobo, Kebumen, Batang, dan Ambarawa. Ketinggiannya bervariasi sampai dengan 38.000 kaki. AirNav Indonesia pun sudah menerbitkan lima notam. Dengan gencarnya sosialisasi melalui media elektronik dan media sosial, serta penindakan yang dilakukan bersama antara Ditjen Perhubungan Udara, AirNav, dan Kepolisian, jumlah laporan pilot terkait balon udara di lintasan penerbangan cenderung berkurang.

Menurut Agus, terdapat 13 maskapai penerbangan berjadwal yang beroperasi dengan jumlah armada 538 pesawat. Bandara yang dipantau bertambah satu, yakni Bandara Domine Eduard Osok di Sorong, sehingga menjadi 36 bandara –tahun 2017 ada 35 bandara yang dipantau. Ramp check pada maskapai penerbangan berjadwal dan tidak berjadwal dilakukan di 36 bandara dengan jumlah 2.882 pemeriksaan pesawat udara dan pemeriksaan per individual (registrasi PK) pada 599 pesawat.

Selaku otoritas penerbangan sipil nasional, Agus menyampaikan terima kasih kepada para stakeholder juga masyarakat yang sudah bekerja sama dan bekerja keras mematuhi dan menjalankan peraturan dan SOP (standard operational procedure) yang sudah ditetapkan.

“Tak lupa ini semua berkat pertolongan Allah swt yang melimpahkan kekuatan kepada bangsa Indonesia sehingga bisa melaksanakan angkutan Lebaran 2018 dengan sukses. Semoga pada tahun-tahun mendatang bisa lebih baik dan lebih sukses demi bangsa dan negara Indonesia yang kita cintai ini,” ucap Agus.




Ayo baca ini juga….