Ada Lagi Bagasi Rusak




Assalamualaikum semua …

Ada foto koper warna kuning yang rusak di salah satu whatsapp group. Tulisannya: “Prilaku Wings Air di Bandara Bali, koper gress baru hancur berantakan, padahal sdh ada stiker Fragile”.

Tentu saja foto itu ada yang menanggapi. Dialognya begini: “Kok bisa bolong begitu ya.” .. “Kayaknya dilempar Uda.”… “Waduh…nggak Baca atau nggak ngerti “fragile” doi bin..”

Itu benar-benar tulisan aslinya. Koper rusak itu milik seorang wartawan yang terbang dengan Wings Air dan mendarat di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali. Betul kalau untuk penanganan bagasi penumpang yang bertanggung jawab adalah maskapai penerbangan yang mengangkutnya. Makanya tudingan “yang merusakkan” koper itu pun dialamatkan pada Wings Air.

Umumnya yang menangani bagasi itu adalah perusahaan ground handling. Bukan bagian dari operator penerbangan, tapi perusahaan tersendiri, bisa anak usaha maskapai tersebut bisa juga perusahaan mandiri.

Garuda Indonesia misalnya, untuk penanganan check in, bagasi, dan lain-lain di bandara, adalah perusahaan ground handling PT Gapura Angkasa, yang dimiliki oleh Garuda dan PT Angkasa Pura II.

Grup Lion Air di Indonesia (Lion Air, Wings Air, Batik Air) ditangani oleh beberapa perusahaan ground handling, ada juga anak usahanya. Empat tahun lalu, di Bali ditangani perusahaan yang berbeda dengan yang di Jakarta atau bandara lainnya. Entah kalau sekarang semua ditangani anak usah Lion Air Group.

Ada juga perusahaan ground handling yang mandiri, PT Jasa Airport Service (JAS), yang kliennya lebih banyak maskapai penerbangan asing. Tentu standar penanganannya di bandara harus sesuai dengan apa yang menjadi standar maskapai-maskapai kliennya.

Mengenai kasus koper kuning tadi, Wings Air bertanggung jawab untuk mengganti kerugiannya. Namun Wings Air tentunya akan melakukan evaluasi para perusahaan ground handling-nya.

Perilaku yang ceroboh dalam menangani bagasi memang seringkali dikeluhkan penumpang. Bukan cuma kecerobohan, pendodosan dan pencurian bagasi pun masih terdengar.

Pemberian pelatihan dalam hal penanganan bagasi dan rasa tanggung jawab harus terus ditumbuhkan pada personelnya di lapangan. Pengawasan pun harus lebih diperketat, sebelum rasa tanggung jawab itu tumbuh dan melekat pada diri tiap personelnya. Dengan tak ada lagi keluhan tentang bagasi rusak atau didodos, bukan cuma menaikkan citra maskapai tapi juga bandara.