​Balai Kalibrasi Tingkatkan Kompetensi SDM dan Optimalkan Aset




King Air, salah satu pesawat dalam armada milik BBKFP untuk kalibrasi fasilitas penerbangan. Foto: BBKFP

Jelang dua tahun menjadi Balai Layanan Umum (BLU) pada 26 Januari 2018, Balai Besar Kalibrasi Fasilitas Penerbangan (BBKFP) masih belum optimal dalam perannya sebagai penyedia layanan publik (public service provider). Karena itu, BBKFP berupaya untuk meningkatkan kompetensi dan kapabilitas sumber daya manusia (SDM) serta mengoptimalkan empat divisi usaha dan semua aset yang dimilikinya.

Untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kompetensi personelnya, BBKFP menyelenggarakan pelatihan kepemimpinan dan intelektual “Be a Winning Team” di Rumah Perubahan, Pondok Jati Murni, Bekasi, pada tanggal 12-13 Januari 2018.

“Saat ini ada 140-an personel di BBKFP, 80-an orang di antaranya adalah pilot, personel penguji, serta penera dan perawat pesawat terbang. Bahkan nanti akan ada personel untuk pengelolaan data base. Kami ingin SDM menjadi lebih baik untuk meningkatkan layanan,” kata Yusfandri Gona, Kepala BBKFP, di Bekasi, Jumat (12/1/2018).

Di samping itu, Yusfandri pun mengungkapkan bahwa BBKFP ingin mengembangkan empat divisi usahanya. BBKFP memiliki sertifikasi atau Air Operator Certificate (AOC) 171 sebagai penyedia kalibrasi fasilitas penerbangan, AOC 145 sebagai fasilitas MRO (maintenance repair overhaul) pesawat udara, AOC 142 sebagai penyedia pelatihan penerbangan bidang kalibrasi, dan AOC 135 sebagai perusahaan penerbangan carter.

“Ke depan, divisi usaha tersebut akan kami kembangkan, bukan cost semata. Khususnya divisi usaha air charter, akan dikembangkan agar aktivitasnya maksimal,” ujar Yusfandri.

BBKFP sekarang ini memiliki armada tujuh pesawat terbang dan dua helikopter. Terdiri dari satu King Air 200, tiga King Air 200GT, dua King Air 350i, dan satu Hawker 900XP, serta dua Bell 429. “Sebelumnya, kami juga punya dua pesawat Learjet 31A, yang kini grounded. Pesawat lama dan sudah tidak ada pilotnya,” ucap Yusfandri.

Sebagai BLU, kata Yusfandri, BBKFP harus meningkatkan layanannya agar memberi manfaat yang maksimal. “Standar akurasi dan delivery harus baik serta efisien dalam waktu dan biaya yang harus dikelola baik juga. Kami berkolaborasi dengan fasilitas pemandu pendaratan dan prosedur-prosedurnya untuk mendukung keselamatan penerbangan.”

Lebih jauh lagi, BBKFP tak hanya fokus menyediakan layanan untuk kebutuhan dalam negeri, tapi juga pihak luar negeri. Divisi usaha AOC 142-nya sudah melayani kebutuhan pengguna dari Vietnam dan Thailand. “Dirjen Penerbangan dari Bangladesh dan Timor Leste pun sudah menyatakan akan bekerja sama. Ada juga kunjungan dari pihak Arab Saudi, yang ingin bandara-bandaranya di sana dikalibrasi oleh BBKFP,” tutur Yusfandri.

Ada lagi yang akan dilakukan BBKFP tahun ini, yakni mengoptimalkan semua aset yang ada. Lahan-lahan yang dimilikinya, antara lain, seluas dua hektare di Sorong dan enam hektare di Makassar, akan dimanfaatkan untuk dijadikan fasilitas hanggar. Menurut Yusfandri, “Lahan di bandara Sorong sudah dibikin masterplan-nya, tinggal detailnya. Armada yang ditempatkan di fasilitas hanggar di timur itu untuk contingency plan.”




Ayo baca ini juga….